CEK ID FACEBOOK

Sabtu, 06 Agustus 2011

MAULID merayakan KELAHIRAN RASULULLAH ???

Apakah dia nas atau pun dalil yang ada didalam Al-Quran dan As-sunnah tentang sambutan Maulid (kelahiran) Rasulullah (saw)? Apakah pendapat para Imam dan Ulama keempat-empat Mazhab? Apa pula pendapat ulama zaman sekarang, yang menyebut diri mereka "salafi"? Mereka mencegah karena menganggap sambutan Maulid itu bida'ah antara mereka adalah Albani, Bin Baz, al-Jaza'iri, Mashhur Salman, 'Uthaymin. Bagaimana mereka yang berpendapat tidak perlu berdiri setelah selesai membaca jaringan shalawat, Darud dan puji-pujian saat akhir acara Maulid - walaupun mereka meraikannya? Ada pula yang menolak untuk mengucap "Assalamu'alaika Ya Rasulullah" (saw) dan tanggapan mereka bahwa kita tidak bisa menyerukan Rasulullah dengan kata "Ya" atau "Oh"?


PRAKATA

Segala puji dan puji hanya buat Allah, Tuhan seluruh alamraya dan shalawat serta salam buat Nabi dan RasulNya Muhammad dan kaum keluarganya dan para sahabat. Didalam agama Islam ada dua perayaan besar yang disebut sebagai hari Raya ataupu 'Id yaitu,' Idil-adha dan 'Idil-fitri. Perayaan lain yang ada didalam agama Islam, seperti Maulidurrasul bukan merupakan satu kewajiban tetapi ia tidaklah pula dilarang untuk menyambutnya. Pada zaman ini terdapat banyak suara-suara yang mempertikaikan tentang sambutan Maulidurrasul dan ia menjadi fokus perdebatan dan perselisihan, meskipun sebenarnya, banyak lagi isu penting yang harus ditangani oleh umat Islam. Zaman ini adalah zaman dimana musuh-musuh Islam sedang melakukan operasi besar-besaran untuk menghancurkan ummat Muhammad, dari dalam maupun dari luar tanpa perasaan belas kasihan dan sangat sedikit sekali jumlah orang-orang yang beriman yang dapat mempertahankan ummah ini dari serangan-serangan ini. Zaman ini adalah zaman jahiliyyah Ummat Islam, sehingga kebenaran sangat jarang sekali dan kebatilan merupakan hal yang biasa dan diterima umum. Firman Allah kepada orang-orang yang beriman, "Berpeganglah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai" (Ali-Imran: 103). Pada zaman ini serangan musuh bukanlah satu-satunya penyebab penderitaan ummat Islam. Dikalangan kita sendiri - ummat Islam - ada musuh dalam Islam, tidak perlu kita sebut siapa mereka karena telah diketahui umum. Musuh dalam selimut ini, tidak pula suka untuk menyerang musuh-musuh Islam yang sebenar tetapi sebaliknya, mereka menyebarkan pula permusuhan dan perpecahan dikalangan ummat Islam diseluruh dunia. Oleh itu saya rasa ini merupakan tanggung jawab saya untuk melindungi mereka yang beriman dari serangan mereka ini, yang tidak ada kerja lain, selain menemukan kesalahan saudara sendiri. Mereka bekerja bertungkus lumus untuk menaikkan rasa kecurigaan dan was-was kepada hal-hal yang hanya mereka timbulkan agar ia menjadi satu yang kontroversial dan seterusnya, menuduh saudara sendiri sebagai musyrik, kafir, dan mubtadi '. Mereka dengan senang-senangnya merubah pendapat-pendapat ulama-ulama yang terdahulu, yang selama 1400 tahun dianggap sahih dan benar oleh semua ummat Islam dan menamainya sebagai bid'a, syirik dan kufur!

Membesarkan Maulidurrasul samalah seperti kita membesarkan Islam karena Rasulullah (saw) umpama simbol bagi agama Islam. Imam Mutawalli Sha'rawi telah menuli didalam kitab beliau, Ma'idat al-Fikr al-Islamiyyah (ms. 295), "Jika setiap kejadian yang tidak bernyawa sekalipun, bergembira dengan kelahiran beliau (saw) dan semua tumbuh-tumbuhan pun bergembira malahan semua binatang pun bergembira dan semua malaikat pun bergembira dan semua jinn Islam bergembira diatas kelahiran baginda (saw), kenapa kamu menghalangi kami dari bergembira dengan kelahiran beliau (saw)? "

Oleh itu, untuk melindungi orang-orang sipil Muslim dan Mukmin dari tuduhan-tuduhan yang tidak bisa diterima, khususnya di Amerika dan Kanada, yang tidak memiliki banyak ulama 'yang bisa menjawab orang-orang yang jahil ini adalah penting untuk mengetahui tentang posisi kondisi yang sebenarnya. Sebenarnya posisi hal ini melibatka persoalan khilaf (perbedaan pendapat para ulama ') saja dan tidak ada yang merubah pendapat para ulama' yang muktabar kecuali orang-orang yang jahil dan para pembuat bid'ah. Insyaallah, saya akan memberi fakta dan nas serta dalil yang terkait dengan Maulidurrasul yang berlandaskan Al-Quran dan As-sunnah dan ijma 'para ulama, agar dengan niat ini, semoga ia menjadi jawaban kepada kritikan-kritikan dan pertanyaan-pertanyaan para "ulama" yang jahil yang berpura-pura mahir dalam agama dan semoga ilmu ini dapat dikongsi bersama - ilmu yang Allah beri kepada ulama 'yang benar dan semoga Allah merahmati para ulama' yang benar ini. Sebelum pergi lebih dalam lagi ingin saya kemukakan 3 kenyataan:

1. Kami mengatakan bahwa menyambut Maulidurrasul (saw) adalah dibolehkan. Perkumpulan yang dilakukan untuk memperdengarkan Sirah (kisah hidup) dan 'madh' (puji-pujian) buat Rasulullah (saw) adalah juga diizinkan, begitu juga dengan kebiasaan menjamu tamu dan menggembirakan saudara seUmmah adalah diizinkan dan dianjurkan.

2. Merayakan Maulidurasul (saw) tidak hanya terbatas pada 12 hb. Rabi'ul al-Awwal ternyata harus dilakukan pada setiap hari dalam setiap bulan di setiap masjid agar orang ramai dapat merasakan cahaya Islam dan Shari'a didalam hati-hati mereka.

3. Dewan sambutan Maulidurrasul (saw) merupakan peluang emas yang efektif dan efisien untuk menyebarkan Islam dan mendidik anak-anak kita, yang tidak patut diabaikan oleh para ulama dan da'I, untuk mengajar dan mengingatkan Ummah tentang Rasulullah (saw) dan akhlaq beliau yang mulia , cara beliau beribadah dan cara beliau baergaul dengan orang banyak. Cara ini bisa memupukkan perasaan cinta dan sayang serta selalu mahal Rasul (saw) pada hati anak-anak. Pemberian makanan dan minuman dan hadiah juga akan membuat mereka merasa gembira menyambut hari tersebut.
Dalil dari Al-Quran dan Sunnah yang Mengatakan bahwa Menyambut Hari Kelahiran (saw) adalah diterima oleh Shari'a.

Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Penghormatan buat Rasulullah (saw). Allah telah berfirman kepada Rasulullah (saw) untuk mengingatkan ummatnya yang mengakui mencintai Allah, untuk mencintai NabiNya dan katakanlah kepada mereka, "Jika kamu mencintai Allah, ikutlah (dan cintai dan hormati) aku, dan Allah akan mencintai kamu" (3:31)

2-1 Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Penghormatan buat Rasulullah (saw).

Allah telah berfirman kepada Rasulullah (saw) untuk mengingatkan ummatnya yang mengakui mencintai Allah, untuk mencintai NabiNya dan katakanlah kepada mereka, "Jika kamu mencintai Allah, ikutlah (dan cintai dan hormati) aku, dan Allah akan mencintai kamu" (3:31) Sambutan Maulidurrasul (saw) merupakan natijah atau kesan akan adanya perasaan kecintaan terhadap Rasulullah (saw), perasaan taat kepada beliau, selalu mahal beliau, mencontoh beliau dan bangga dengan beliau sebagaimana Allah bangga terhadap beliau karena Allah memuji akan baginda didalam Al-Quran, " Sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang mulia "(al-Qalam: 4) Tingkat kecintaan kepada Rasulullah (saw), merupakan antara pengukur kepada tahap kesempurnaan keimanan antara seseorang mukmin dan seorang mukmin yang lain. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah (saw) telah bersabda, "Tidak sempurna iman kamu sehingga aku lebih dicintainya dari anak, orang tua dan manusia seluruhnya." Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah (saw) berkata, "Tidak sempurna iman kamu sehingga aku kamu lebih cintai dari dirimu sendiri." Dan Sayyidina 'Umar berkata, "Ya Rasulullah aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Kesempurnaan iman seseorang itu amat tergantung pada kecintaannya terhadap Rasulullah (saw) dan para Malaikat selalu memuji beliau sebagaimana yang dimaksud dalam ayat al-Quran yang berbunyi," Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bersalawat keatas Nabi "(33:56). Selanjutnya ayat ini disambung dengan perintah Tuhan," Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu keatasnya ". Ayat ini saja menjadi bukti bahwa kualitas iman seseorang itu tergantung pada dan ditampakkan melalui selawat kepada Nabi (saw). Ya Allah! Limpahkanlah selawat serta salam kepada Nabi, keluarga beliau dan para sahabat.
2-2 Rasulullah (saw) menekankan bahwa hari Senin sebagai hari Kelahiran Baginda

Abu Qatada al-Ansari meriwayatkan didalam Sahih Muslim, kitab as-Siyam (puasa), bahwa Rasulullah (saw) kenapa beliau berpuasa pada hari Senin, dan beliau bersabda, "Itulah hari aku dilahirkan dan itulah juga hari aku diangkat menjadi Rasul." Dari Mutawalli Sha'rawi: "Banyak peristiwa yang ajaib telah terjadi pada hari beliau (saw) dilahirkan sebagai bukti bagi hadits dan sejarah bahwa malam Rasulullah (saw) dilahirkan tidak seperti malam-malam manusia lain dilahirkan". Peristiwa yang tercantum dalam hadits termasuk gegaran yang dirasakan di istana 'Chosroes' dan padamnya api yang telah menyala selama 1000 tahun di Persia dan beberapa kejadian lain yang ditulis dalam karangan Ibnu Katsir, al-Bidaya, Jilid 2, halaman 265-268. Dari Kitab al-Madhkal oleh Ibnu al-Hajj (jilid 1, ms. 261) "Menjadi satu kewajiban untuk kita untuk memperbanyak kesyukuran kita kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi'ul Awwal karena Dia telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang besar yaitu diutusnya Nabi (saw) untuk menyampaikan Islam kepada kita dan menyebarkan salam. Bila beliau ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau bersabda, "Hari itu adalah hari kelahiranku". Oleh karena itu, hari tersebut telah memberi satu 'penghormatan' kepada bulan tersebut, karena hari itu merupakan hari Rasulullah (saw) dan beliau bersabda, "Aku adalah penghulu untuk anak cucu Adam dan aku tidak mengatakan ini karena kesombongan ... dan beliau bersabda: Adam dan anak cucunya akan bernaung dibawah panji-panjiku di hari pembalasan kelak. Hadits-hadits ini merupakan riwayat 'Shaikhayn' Bukhari dan Muslim. Dan Muslim menulis didalam Sahih nya, Rasulullah (saw) bersabda, Aku telah dilahirkan pada hari Senin dan pada hari yang sama juga wahyu yang pertama diturunkan kepadaku. "Rasulullah (saw) mengutamakan hari kelahiran beliau dan memuji serta bersyukur kepada Allah, dengan berpuasa pada hari tersebut (Senin) seperti yang diriwayatkan oleh Abu Qatada didalam sebuah hadits. Artinya, Rasulullah (saw) telah melahirkan dan menzahirkan perasaan gembira beliau dengan berpuasa pada hari tersebut - salah satu dari bentuk ibadah khusus. Oleh karena Rasulullah (saw) sendiri mengutamakan hari tersebut, jadi sebagai mencontohi baginda, sambutan atau ibadah yang sesuai dengan shari'ah adalah dibolehkan - walaupun mungkin metode menyambutnya mungkin bisa berubah sesuai kondisi dan tempat tetapi dzat / intipati sambutan itu tetap sama. Dan karena itu, berpuasa, memberi makanan kepada orang fakir miskin, bersama-sama bershalawat kepada Nabi (saw), atau bersama-sama mahal dan merenung akan akhlaq beliau yang terpuji lagi mulia - semuanya merupakan metode atau cara yang bisa dilakukan untuk mengutamakan dan menyambut hari tersebut. (Lihat hadits, " meninggal pada hari Senin "dibawah)

2-3 Firman Allah: Bergembiralah dengan Nabi (saw)

KETIGA: Untuk menyatakan kegembiraan kita untuk beliau Rasulullah (saw) karena Allah telah mengutus beliau kepada kita seperti firman Allah dalam al-Quran, "diatas nikmat dan rahmat dari Allah, biarlah mereka bergembira" (Yunus: 58).

Perintah ini datang karena kegembiraan membuat hati rasa bersyukur diatas rahmat Allah. Rahmat apakah lagi yang lebih besar selain Rasulullah (saw) sendiri, dan Allah berfirman, 'Kami tidak menurunkan kamu melainkan sebagai rahmat kepada seluruh manusia. " (Al-Anbiya ': 107)

Karena Rasulullah (saw) diutus sebagai rahmat untuk semua manusia, kegembiraan menyambut kelahiran beliau tidak tunduk pada yang Muslim saja, bahkan seluruh manusia, seharusnya melahirkan rasa kegembiraan tersebut. Sayangnya, pada masa sekarang banyak Muslim yang beriya-iya menentang perintah Allah untuk bergembira dan menyambut hari NabiNya.
2-4 Nabi (saw) menyambut Hari-hari Bersejarah

KEEMPAT: Nabi (saw), biasanya menghubungkan ibadah dan sejarah dan biasanya ketika tiba hari yang bersejarah tersebut, beliau mengingatkan kepada para sahabat akan hari tersebut dan agar mereka menyambutnya walaupun peristiwa itu telah terjadi ribuan tahun yang lampau. Dalil tentang hal ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan perawi-perawi yang lain ini, "Bila Rasulullah (saw) tiba di Madinah beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari 'Ashura. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hari tersebut dan mereka pun berkata, pada hari tersebut, Allah telah mnyelamatkan Nabi mereka, Sayyidina Musa dan menenggelamkan musuhnya dan karena peristiwa itu mereka berpuasa sebagai tanda syukur kepada Allah diatas anugerah tersebut. " Rasulullah setelah itu terus bersabda yang mana hadits ini merupakan hadits yang cukup terkenal, "Kami lebih berhak atas Musa dari kalian," dan beliau berpuasa pada hari tersebut ('Ashura) dan hari sebelumnya.
2-5 Allah Berfiman, "Berselawatlah Kamu Kepada Nabi"

KELIMA: Memperingati kelahiran Rasulullah (saw) akan membuat hati kita tergerak untuk berselawat keatas Nabi (saw) dan memuji beliau yang merupakan satu hal yang diarahkan oleh Allah di dalam ayat,

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu dan berilah salam keatasnya" (Al-Ahzab: 56). Berkumpul massal dan mahal Nabi (saw) akan membuat kita mudah untuk mendoakan beliau dan bershalawat dan memuji-muji beliau. Siapakah yang berhak untuk menghalangi apa yang telah Allah perintahkan di dalam Al-Quran? Pahala dan manfaat serta cahaya yang Allah berikan kepada hati kita karena mematuhi perintahnya, tidak dapat diukur. Suruhan itu pula dinyatakan dalam kondisi jamak (banyak - 'plural') dalam metode nahwu bahasa Arab (lihat ayat al-Quran): Allah dan malaikat bershalawat dan memuji Nabi - didalam satu perkumpulan yang ramai. Adalah tidak benar sama sekali untuk menyatakan bahwa shalawat atas Nabi (saw) hanya dapat / harus dilakukan secara sendirian.

2-6 Efek Memperingati Maulid untuk Orang Kafir

KEENAM: Apabila seseorang yang tidak beriman, bersama-sama menyatakan kegembiraan dan menyambut Maulidurrasul (saw), pada rahmat dan kemurahan Allah, orang itu akan dapat manfaatnya. Hal ini ada disebutkan dalam shahih Bukhari. Bukhari meriwayatkan bahwa setiap Senin, Abu Lahab akan dihentikan siksaan kubur yang diterimanya karena ia telah membebaskan hambanya, Thuwayba yang telah mengkhabarkannya kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad (saw).

Hadits ini terkandung didalam kitab Nikah oleh Bukhari dan Ibnu Katsir pula membicarakannya didalam kitab-kitabnya Sirat al-Nabi Jilid 1: ms 124, Mawlid al-Nabi ms 21 dan al-Bidaya ms.272-273. Seorang hafiz (hafal al-Quran), Shamsuddin Muhammad ibn Nasiruddin ad-Dimashqi telah menulis didalam kitabnya mawrid as-sadi fi Mawlid al-Hadi: "Jika seorang kafir yang memang dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal didalamnya" "hancur tangan-tangannya" ; (surat 111) diizinkan untuk diistirahatkan dari siksa kubur setiap hari Senin karena bergembira dengan kelahiran Ahmad, inikan pula hamba yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan meninggal dengan menyebut "Ahad"? - [Tentu lebih lagi ganjarannya - penterjemah]

2-7 Kewajiban Mengetahui Sirah dan Mencontohi Asas-asas Akhlaq Yang Baik

KETUJUH: Kita disuruh untuk mengenali Nabi kita, tahu akan kehidupan beliau, tentang mukjizat beliau, kelahirannya, akhlaqnya, keimanan baginda, tanda-tanda kenabian beliau (ayat wa Dala'il), khalwat yang baginda lalui, ibadah beliau lagipun bukankah hal-hal ini seharusnya diketahui oleh setiap Muslim? Apakah cara yang lebih baik lagi selain merayakan hari kelahiran beliau, yaitu hari awal kehidupan beliau, dan Berikutnya agar kita terdorong untuk mengenali beliau dengan lebih mendalam lagi. Memperingati hari kelahiran beliau akan membuka ruang untuk kita untuk memperingati hal-hal lain yang terkait dengan beliau. Bila ini kita lakukan, Allah akan ridha pada kita, karena kita akan lebih siap untuk mengetahui sirah baginda dan lebih siap untuk mencontoh dan mengamalkan akhlaq beliau dan mengoreksi kesalahan kita. Itulah sebabnya, kenapa sambutan hari lahir beliau adalah satu rahmat buat kita semua.

2-8 Nabi Menerima Syair / Sajak Yang Terkait dengan Diri Beliau

KEDELAPAN: Pada zaman Nabi (saw), terdapat banyak penyair yang terkenal dan hebat datang kepada beliau dan mempersembahkan kepada beliau rangkap-rangkap syair mereka yang memuji beliau, menceritakan tentang dakwah dan perang yang beliau pimpin dan juga syair mengenai para sahabat. Ini dibuktikan dengan banyaknya syair yang disertakan di dalam Sirah Ibn Hisham, al-Waqidi dan lain-lain. Rasulullah (saw) sangat menyenangi syair yang indah seperti yang tercatat dalam hadits riwayat Bukhari dalam al-Adab al-mufrad dan kitab-kitab lain, Rasulullah (saw) bersabda, "Ada hikmah di dalam syair"; dan karena itu paman Nabi ( saw) al-'Abbas mengarang syair memuji kelahiran Nabi (saw) seperti dalam rangkap berikut:

Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang sehingga hampir pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahaya mu Dan kami dapat terus melangkah Karena karena sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin [bahasa mungkin tidak menepati kehendak penulis asal - penerjemah]

Kutipan ini tercatat dalam kitab Imam as-Suyuti, Husn al - Maqsid ms.5 dan didalam kitab Ibnu Kathir, Maulid ms.30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fathul Bari.

Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitabnya bahwa para Sahabat ada meriwayatkan bahwa Nabi (saw) memuji nama beliau dan membaca syair tentang diri beliau saat perang Hunayn untuk membakar semangat para Sahabat dan menakutkan para musuh. Pada hari itu beliau berkata, "Aku adalah Rasulullah! Ini bukanlah dusta. Aku anak 'Abd al - Muttalib!"

Rasulullah (saw) sebenarnya amat bergembira dan menyenangi mereka yang memuji beliau karena merupakan perintah Allah dan beliau memberi kepada mereka apa yang Allah anugerahkan kepada beliau. Bila kita bersama-sama berkumpul untuk mendekati Nabi (saw), kita sebenarnya juga, melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kita kepada Allah justru karena mendekati Nabi (saw) akan membuat Allah ridha kepada kita.

2-9 Menyanyi dan Membaca Syair

Telah diketahui, menurut riwayat 'A'isha bahwa Nabi (saw), telah mengizinkan beliau untuk mengundang dua orang perempuan untuk menyanyi pada hari Raya. Beliau memberitahu Abu Bakar, "Biarkan mereka menyanyi karena untuk setiap ummat ada hari liburannya dan ini adalah hari libur kita" [Muttafaqun 'alaih]. Didalam kitab Madarij al-salikin, Ibnu Qayyim menulis bahwa Nabi (saw) memberi izin untuk menyanyi pada hari pernikahan dan mengizinkan syair dipersembahkan untuk baginda. Beliau mendengar Anas dan para Sahabat memuji baginda dan membaca syair ketika baginda sedang menggali parit saat perang Khandaq dan mereka pernah berkata, "Kamilah yang telah memberi bai'ah kepada Muhammad untuk berjihad selama kami hidup."

Ibnu Qayyim juga telah menceritakan tentang 'Abdullah ibnu Rawaha telah membaca syair yang panjang memuji-muji Nabi Muhammad (saw) saat beliau menaklukkan dan memasuki Makkah, dan Nabi pun berdoa untuk beliau. Rasulullah (saw) juga pernah mendoakan untuk Hassan ibnu Thabit agar Allah sentiasa memberi bantuan kepada beliau dengan ruh suci (the holy spirit) selama beliau memuji-muji beliau melalui syairnya. Nabi juga telah menghadiahkan Ka'b ibnu Zuhayr sepasang jubah saat beliau membacakan syair memuji-muji beliau kepada beliau. Nabi juga pernah meminta Aswad bin Sarih untuk mengarang syair memuji-muji Allah dan beliau pula pernah meminta seseorang untuk membaca syair puji-pujian yang mengandung 100 rangkap yang dikarang oleh Umayya ibnu Abi Halh. Menurut Ibnu Qayyim lagi, 'A'isha selalu membaca syair memuji beliau (saw) dan beliau sangat menyenanginya. "

Tertera di batu nisan Hassan ibnu Thabit beliau menulis tentang Nabi (saw):

Bagiku adakah yang mencari kesalahan dalam diriku Aku hanya seorang yang telah hilang segala deria rasa Aku tidak akan berhenti dari memuji nya Karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam surga Bersama-sama 'Yang Terpilih' yang darinya aku mengharapkan syafaat Dan untuk hari itu , aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu.
2-10 Menyanyi dan Membaca al-Quran

Seperti yang ditulis oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya, "Allah memberi izin kepada Nabi (saw) agar membaca al-Quran dengan berlagu. Pada suatu hari Abu Musa al-Ash'ari sedang membaca al-Quran dengan berlagu dan suara yang merdu dan ketika itu Nabi (saw) sedang mendengar bacaan beliau. Setelah ia selesai mengaji, Nabi (saw) ucapkan selamat kepada beliau karena bacaan beliau yang begitu merdu dan beliau bersabda, "Engkau memiliki suara yang merdu" Dan beliau (saw) bersabda lagi bahwa Abu Musa al -Ash 'ari telah dikaruniai Allah' Mizmar '(seruling) diantara mizmar-mizmar Nabi Daud. Dan Abu Musa pun berkata, "Ya Rasulullah jika aku tahu yang engkau sedang mendengarkan bacaanku niscaya aku akan membaca dengan suara yanglebih merdu dan lagu yang lebih enak lagi yang engkau belum pernah dengar lagi. "

Ibnu Qayyim menulis lagi, "Nabi (saw) bersabda," Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian, "dan" Siapa-siapa yang tidak melagukan Al-Qur'an bukanlah dari kalangan kami. "Ibnu Qayyim pula memberikan komentar," Untuk menyenangi suara yang merdu adalah dibenarkan seperti juga kita menyenangi pemandangan yang indah, pegunungan, alam atau harum-haruman dan wangi-wangian atau hidangan yang lezat selama ia tidak melanggar batas-batas shari'a. Jika mendengar suara yang merdu itu haram, maka haram jugalah perkara-perkara yang telah disebutkan tadi.
2-11 Nabi Terima Permainan Gendang Yang disertai Niat Yang Baik

Seorang Muhaddith, Ibnu 'Abbad telah memberikan fatwa berikut didalam kitabnya' Letters '. Beliau memulai dengan sebuah hadits, "Seorang wanita telah datang menemui Nabi dikala beliau baru pulan dari medan peperangan, dan wanita itu pun berkata," Ya Rasulullah, aku telah bernazar jika sekiranya, Allah mengirim engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan memainkan gendan disebelah mu. "Nabi pun bersabda," Tunaikanlah nazar mu. "Hadits ini terdapat dalam riwayat Abu Dawud, Tirmidhi dan Imam Ahmad.

Ibnu 'Abbas pula menulis, "Tidak dipungkiri bahwa memain gendang merupakan salah satu cara hiburan walaupun Nabi membenarkannya untuk memenuhi nazarnya. Berikut adalah karena beliau niat wanita itu adalah untuk merayakan kepulangan beliau dan beliau memiliki niat yang baik bukan dengan niat untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau menyia-nyiakan waktu. Karena itu, jika kita merayakan hari kelahiran Nabi dengan niat yang baik, dengan membaca sirah dan memuji beliau, ia diterma dan dibenarkan.

2-12 Nabi (saw) Meraikan Hari lahir Nabi-nabi yang lain [The Prophet Ditekankan the Birthday of Prophets]

KESEMBILAN: Nabi (saw) telah bersabda didalam hadits tentang hari dan dan tempat kelahiran Nabi-nabi yang terdahulu. Beliau (saw) juga membesarkan hari Jumat karena pada hari itu menurut beliau, "Hari itu merupakan hari Allah menciptakan Nabi Adam (as)." Ini berarti, hari Jumat dimuliakan karena merupakan hari dimana Allah menciptakan Adam dan hari itu juga dibesarkan karena ia adalah hari penciptaan Nabi dan Bapa kepada seluruh Ummat Manusia. Bagaimana dengan hari kelahiran Nabi Besar dan Insan Kamil (sempurna) yang diciptakan? Nabi bersabda, "Sesungguhnya Allah menjadi aku sebagai Penutup (Khatam) Semua Nabi-nabi dan Rasul tatkala Adam masih lagi merupakan sesuatu antara tanah dan air." Hadits ini adalah riwayat Ahmad dalam Musnad, Bayhaqi dalam Dala'il al-Nubuwwah dan kitab-kitab besar yang lain dan ia merupakan hadits yang hasan lagi shahih.
2-13 Mengapa Bukhari Mengutamakan Meninggal Pada Hari Senin

Imam Qastallani menulis didalam komentarnya mengenai hadits riwayat Bukhari: "Didalam kitab, Jana'iz (Pemakaman), Bukhari mengkhususkan satu topik yang membicarakan tentang 'Keutamaan meninggal pada hari Senin'; didalam topik tersebut tercatat, hadits dari A'isha yang menceritakan tentang pertanyaan ayahandanya, Abu Bakar as-siddiq, "Pada hari apa Nabi (saw) wafat?" Beliau menjawab, "Hari Senin" Beliau bertanya lagi, "Hari apakah hari ini?" A'ishah pula menjawab, "Wahai ayahanda, hari ini hari Senin. "Lalu beliau pun mengangkat tangan dan berdoa," Aku memohon Ya Allah, agar mematikan aku pada hari Senin sama seperti hari wafatnya Nabi (saw). "

Imam Qastallani melanjutkan, "Mengapa Abu Bakar menginginkan agar kematiannya jatuh pada hari Senin? Supaya hari meninggalnya sama seperti hari kewafatan Rasulullah (saw) agar mendapat berkah di hari tersebut. Apakah siapa-siapa yang ingin menolak atau menghalangi keinginan Abu Bakar untuk meninggal pada hari tersebut semata-mata mengharapkan barakah hari tersebut? Kenapa sekarang banyak orang yang menolak keutamaan menyambut atau mengutamakan hari kelahiran Nabi (saw) untuk mendapatkan barakah? "
2-14 Nabi Sentiasa Menekankan dan Mengingati Tempat Kelahiran Para Nabi

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang 'hafiz', al-Haythami didalam kitab Majma 'al-zawa'id menceritakan bahwa pada malam Isra dan Mi'raj, Nabi (saw) telah diperintahkan oleh Jibril untuk shalat 2 rakaat di Baitul Haram (Bethlehem) dan Jibril pun bertanya kepada beliau (saw), "Tahukah kamu dimana kamu telah bersolat sebentar tadi?" Bila Nabi bertanya kepada Jibril, "dimana?" Jibril pun menjawab, "Kamu telah shalat ditempat 'Isa dilahirkan."

2-15 Ijma 'Para' Ulama Terima Sambutan Maulidurrasul (saw)

KESEPULUH: Mengingati hari kelahiran Nabi, merupakan satu 'ibadah yang diterima oleh semua' ulama diseluruh dunia Islam, baik dulu maupun sekarang. Ini menunjukkan bahwa Allah ridha terhadap perbuatan tersebut. Di dalam kitab Musnad, Imam Ahmad menulis kata-kata Ibnu Mas'ud (yang diterima melalui perantara-perantara yang terpercaya), "Apa-apa yang dianggap benar / haq oleh sejumlah umat Islam itulah yang diredhai Allah dan apa-apa yang dianggap batil / salah oleh sejumlah besar umat Islam itu juga salah / batil disisi Allah. "

Sejarah Sambutan Maulidurrasul (saw)

Makkah, merupakan Ibu kepada semua Kota (semoga Allah merahmati dan memuliakannya), merupakan penghulu untuk lainnya kota diseluruh negara Islam dalam merayakan Maulidurrasul. Al-Azraqi, seorang sejarawan Makkah pada abad ke 3 - hijrah, telah menulis didalam kitabnya, Akhbar Makkah (Jilid 2, ms160) tempat-tempat yang dianjurkan (mustahabb) untuk menunaikan shalat di Makkah diantaranya rumah tempat Nabi (saw) dilahirkan (Mawlid al-Nabi). Menurut beliau, rumah tersebut telah dijadikan masjid oleh ibu kepada Khalifah Musa al-Hadi dan Harun ar-Rashid.

Al-Naqqash, seorang 'ulama dalam bidang al-Quran mengatakan bahwa tempat kelahiran Nabi merupakan tempat dimana do'a diterima pada waktu tengahari setiap hari Senin. Pendapat beliau ini tercatat dalam kitab al-Fasi, Shifa 'al-gharam (Jilid 1, ms 199) dan juga kitab-kitab lain.

Keterangan Tentang Sambutan Maulidurrasul (saw) yang terawal secara Beramai-ramai

Kitab Rihal, karangan Ibnu Jubayr (540-614), dalam bab Perjalanan (ms.114-115) merupakan sumber yang pertama yang menceritakan tentang sambutan Maulidurrasul (saw) secara massal dalam suatu kelompok masyarakat.

"Tempat yang diberkati ini (rumah kelahiran Nabi [saw]) dibuka dan setiap lelaki dibenarkan untuk memasukinya untuk mendapatkan barakah darinya (mutabarrikin bihi) pada setiap hari Senin dalam bulan Rabi'al al-Awwal karena pada hari dan bulan terssebut, Nabi telah lahir . "

Sejarawan abad ke-7 hijrah, Abul 'Abbas al-'Azafi dan anaknya Abul Qasim al-'Azafi telah menulis didalam kitab (tidak pernah diterbitkan), ad-Durr al-Munazzam, "Mereka yang menunaikan' ibadah haji dan mereka yang sedang melakukan pengembaraan menyaksikan bahawa tiada jual-beli ataupun sebarang perbuatan lain dilakukan pada hari Maulidurrasul di Makkah, melainkan mereka berpusu-pusu memenuhi tempat kelahiran Nabi yang diberkahi. Pada hari itu juga, Ka'bah dibuka dan orang ramai dibenarkan untuk menziarahinya."

Penulisan Ibnu Battuta Mengenai Maulidurrasul (saw)

Ibnu Battuta merupakan ahli sejarah abad ke - 8 yang masyhur dan beliau telah menulis didalam kitabnya, Rihla (Jilid 1,ms.309 dan 347) bahawa pada setiap hari Jumaat, selepas solat dan pada hari kelahiran Nabi, pintu Ka'bah akan dibuka oleh ketua Banu Shayba, pemegang kunci pintu Ka'bah. Pada hari Maulidurrasul (saw) juga, Qadi yang bermazhab Shafi'i (Ketua Hakim, Makkah), Najmuddin Muhammad Ibnu al-Imam Muhyiddin al-Tabari, membahagi-bahagikan makanan kepada shurafa' (keturunan Nabi [saw]) dan juga kepada kesemua penduduk Makkah.

Tiga Rakaman Sambutan Maulidurrasul (saw) Pada abad ke - 10 Hijrah

Berikut merupakan catatan yang menguatkan lagi cerita-cerita mereka yang melihat sambutan Maulidurrasul (saw). Catatan ini bersumber daripada 3 ahli sejarah abad ke -10 hijrah yang dianggap mempunyai kemahiran dan kepakaran yang tiada tandingannya pada zaman tersebut, Ibnu Huhayra didalam kitabnya al-Jami' al-Latif fi Fasl Makkah wa ahliha (ms.326), al - Hafiz Ibnu Hajar al-Haytami didalam kitabnya al-Mawlid ash-Sharif al-Mu'azzam dan al-Nahrawali didalam kitabnya al-I'lam bi-a'lam Bayt Allah al-Haram (ms.205).

Pada 12hb Rabi'al al-Awwal setiap tahun selepas solat al-Maghrib keempat-empat (wakil keempat-empat mazhab) Qadi kota Makkah dan sekumpulan besar orang yang terdiri daripada para fuqaha' (ulama) dan fudala' (mereka yang utama) kota Makkah, Shaykh-shaykh, pemimpin-pemimpin zawiyah dan murid-murid mereka , para ru'asa' (hakim-hakim) dan para muta'ammamin (ulama) meninggalkan masjid dan pergi secara beramai-ramai untuk menziarahi tempat kelahiran Nabi sambil berdzikir dan membaca tahlil (LA ILAHA ILLALLAH). Rumah-rumah terletak sepanjang jalan tersebut diterangi dengan lampu-lampu dan lilin-lilin besar dan ramai daripada penghuni-penghuni rumah-rumah tersebut memenuhi jalan tersebut. Mereka semua memakai pakaian baru dan membawa anak-anak mereka bersama-sama. Setibanya ditempat kelahiran Nabi (saw) doa khas pun dibacakan dan karamah-karamah yang berlaku semasa kelahiran Nabi (saw) pun dibacakan. Seterusnya doa untuk Sultan, Amir Makkah dibacakan dan Qadi yang bermazhab Shafi'i dibacakan dan kesemua mereka berdoa dengan penuh merendah diri. Sebelum solat al-'Isha, rombongan tadi pun kembali ke Masjidil Haram yang dipenuhi oleh manusia dan mereka mengambil tempat dan membentu saf dikawasan Maqam Ibrahim. Di Masjidil Haram, seorang penyeru akan bertahmid (AL HAMDULILLAH) dan bertahlil dan sekali lagi berdoa untuk Sultan, Amir dan Qadi yang bermazhab Shafi'i. Seterusnya, azan untuk solat 'Isha dilaungkan. Selepas solat al-'Isha, mereka pun bersurai. Peristiwa yang serupa ini juga dirakamkan oleh al-Diyarbakri (meninggal 960) didalam kitabnya Ta'rikh al-Khamis.

Sambutan Maulidurrasul (saw) di Negara-negara Islam Pada Zaman Sekarang

Pada zaman sekarang, kebanyakan orang-orang Islam dinegara-negara Islam meraikan Maulidurrasul (saw). Antara negara-negara tersebut termasuklah: Mesir, Syria, Lebanon, Jordan, Palestine, Iraq, Kuwait, Emiriyah Arab Bersatu, Arab Saudi (tidak secara rasmi - penduduk menyambutnya sendiri dirumah-rumah mereka), Sudan, Yemen, Libya, Tunisia, Algeria, Maghribi, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turkey, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan kebanyakan negara Islam yang lain. Dikebanyakan negara Arab Maulidurrasul (saw) merupakan hari cuti umum. Kesemua negara-negara ini Wahai Ummah, meraikan hari tersebut. Namun begitu kenapa masih lagi ada segelintir dari kalangan kita yang mengatakan ianya haram? Siapakah mereka ini untuk dibandingkan dengan para huffaz (ahli hadith) dan ' Ulama Ummah seperti Abu Shama, 'Asqalani, Suyuti, Sakhawi, Haytami, Shawkani dan al-Qari yang mana mereka semua mengatakan bahawa sambutan Maulidurrasul (saw) merupakan suatu perbuatan yang terpuji?Mengapakah mereka yang menggelarkan diri mereka Salafi ini mengharamkan sesuatu perkara yang mana Ibnu Taimiyyah (antara ulama yang begitu tegas) sendiri, membenarkannya? Ibnu al-Jawzi dan Ibnu Kathir pula menggalakkannya dan masing-masing-masing mereka menulis kitab Maulid yang mengandungi syair dan rangkap-rangkap daripada Sira

8-2 Pendapat Ibnu Taimiyyah Mengenai Majlis Dzikir [Ibnu Taimiyyah's Opinion on the Meetings of Dhikr]

Berikut merupakan pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai majlis dzikir. Ianya boleh didapati didalam kitab Majmu 'at fatawa Ibnu Taimiyyah edisi King Khalid ibn 'Abd al-Aziz. Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah kerana riak ataupun menunjuk-nunjuk tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah swt Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,"Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari'a (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa."

8-3 Ibnu Kathir Memuji-muji Malam Maulidurrasul (saw)

Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani telah menulis didalam kitabnya, 'Al-Durar al-Kamina fi 'ayn al-Mi'at al-thamina' bahawa Ibnu Kathir, seorang Muhaddith dan merupakan pengikut Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghjung hidupnya dan kitab ini telah tersebar dengan meluas dan keserata tempat. Didalam kitab ini. (disunting dan diterbitkan pada tahun 1961) Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan didalam ms 19 beliau telah menulis," Malam kelahiran Nabi (saw) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin , malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai."

8-4 Fatwa 'Asqalani dan Suyuti Mengenai Sambutan Maulidurrasul ['Asqalani and Suyuti's Fatwas on the Permissibility of Maulid]

Jalaludin al-Suyuti telah menulis didalam kitab beliau, "Hawi li al-Fatawa", Sheikhul Islam dan Imam Hadith pada zamannya, Ahmad ibn Hajar ('Asqalani) telah ditanya mengenai perbuatan menyambut Maulidurrasul (saw) dan beliau telah memberi jawapan secara bertulis:

Adapun perbuatan menyambut Maulidurrasul (saw) merupakan bida'ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafussoleh pada 300 tahun pertama selepas hijrah. Walaubagaimanapun, ianya penuh dengan kebaikan dan perkara-perkara yang terpuji dan kadangkala ianya dicacatkan oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya. Jika sambutan Maulidurrasul itu terpelihara dari perkara-perkara yang melanggar shari'a maka ianya tergolong didalam perbuatan bida'ah hasanah tetapi jika sambutan tersebut terselit perkara-perkara yang melanggar shari'ah maka ianya tidak tergolong didalam bida'ah hasanah.

Untuk menjadi dalil bagi sambutan Maulidurrasul (saw), hadith dibawah ini boleh digunakan, ianya merupakan hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim . Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati bahawa kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm ('Ashura) dan baginda (saw) bertanya akan perbuatan mereka, kata mereka, mereka berpuasa kerana pada hari tersebut, Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kami berpuasa untuk menyatakan kesyukuran kami. Perkara ini menjadi dalil bagi kita untuk menyatakan kesukuran kita kerana Dia telah merahmati hari tersebut dan menjauhkan bala, seseorang sepatutnya bersyukur akan datangnya hari tersebut pada setiap tahun, bersyur melalui berbagai jenis 'ibadahseperti solat, memberi sedekah, membaca Quran …… JUSTERU ITU RAHMAT APAKAH YANG LEBIH BESAR DARIPADA KELAHIRAN NABI, RASUL YANG MENJADI RAHMAT PADA HARI INI?SUDAH SEPATUTNYA HARI KELAHIRAN BAGINDA DISAMBUT DAN DIBESARKAN APABILA TIBA HARI TERSEBUT, JIKA KITA MENGAMBIL DALIL HADITH YANG TERSEBUT DIATAS. TETAPI ADA JUGA MEREKA YANG MENYAMBUT KELAHIRAN BAGINDA (SAW) TANPA MENGIRA BATAS WAKTU PADA MANA-MANA BULAN ATAUPUN ADA YANG MENYAMBUTNYA SEPANJANG TAHUN. ITU TIDAK MENGAPA.

0 komentar:

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys