CEK ID FACEBOOK

Rabu, 21 September 2011

Fakta Sejarah: Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri wahabi

.



Dalam pandangan mayoritas Umat Islam seluruh dunia, Wahabi memang sisi buruk dalam sejarah Islam yang terus berlanjut hingga saat ini.

Meskipun pihak pengikut sekte Wahabi telah banyak memberikan bantahan, dan ngotot  bahwa mereka-lah satu-satunya kelompok kebenaran, tapi toh mereka tetap  memiliki rasa rendah diri dalam kancah pergaulan bermasyarakat.

Mereka didoktrin agar tidak membaca buku-buku agama selain buku paham wahabi. Mereka takut para pengikutnya meninggalkan ajaran Wahabi kalau memperoleh informasi lain tentang Wahabi.

Kalau mereka merasa benar,  kenapa takut dengan hal-hal yang demikian remeh?

Bukankah seharusnya mereka yakin atas ajarannya yang paling benar? Selain itu mangapa mereka marah atau tidak senang bila dikatakan sebagai “WAHABI”?

Bukankah  sepantasnya mereka bangga?

Ini adalah karena sosok perintis sekte Wahabi ini yang kontroversial, memiliki sisi-sisi kehidupan berdarah terhadap orang-orang Islam yang berselisih paham dengannya.

Sehingga dalam sejarah dicatat bahwa kakak kandungnya, yaitu
Syaikh Sulaiman Ibnu Abdul Wahhab harus berhijrah ke Madinah demi menghindari kekejaman sang adik bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. sang pendiri wahabi.

Inilah penggalan-penggalan sejarah Muhammad ibn Abdil Wahhab, selamat membaca….. 

Permulaan munculnya Muhammad ibn Abdil Wahhab ini ialah di wilayah timur sekitar tahun 1143 H. Gerakannya yang dikenal dengan nama Wahhabiyyah mulai tersebar di wilayah Nejd dan daerah-daerah sekitarnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab meninggal pada tahun 1206 H.

Ia banyak menyerukan berbagai ajaran yang ia anggap sebagai berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah.

Pokok Ajarannya tersebut banyak ia ambil atau tepatnya ia hidupkan kembali dari faham-faham Ibn Taimiyah yang sebelumnya telah padam, di antaranya :

mengharamkan tawassul dengan Rasulullah, mengharamkan perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah atau makam lainnya dari para Nabi dan orang-orang saleh untuk tujuan berdoa di sana dengan harapan dikabulkan oleh Allah,

mengkafirkan orang yang memanggil dengan “Ya Rasulallah…!”, atau “Ya Muhammad…!”, atau seumpama “Ya Abdul Qadir…! Tolonglah aku…!”

kecuali, menurut mereka, bagi yang hidup dan yang ada di hadapan saja, mengatakan bahwa talak terhadap isteri tidak jatuh jika dibatalkan.
Menurutnya talak semacam itu hanya digugurkan dengan membayar kaffarah saja, seperti orang yang bersumpah dengan nama Allah, namun ia menyalahinya.


Selain menghidupkan kembali faham-faham Ibn Timiyyah, Muhammad ibn Abdil Wahhab juga membuat faham baru, di antaranya;

mengharamkan mengenakan hirz (semacam jimat) walaupun di dalamnya hanya terkandung ayat-ayat al-Qur’an atau nama-nama Allah, mengharamkan bacaan keras dalam shalawat kepada Rasulullah setelah mengumandangkan adzan.
Kemudian para pengikutnya, yang kenal dengan kaum Wahhabiyyah,
mengharamkan perayaan maulid nabi Muhammad.

Hal ini berbeda dengan Imam mereka; yaitu Ibn Taimiyah, yang telah membolehkannya.


Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah pada masanya di sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:


“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan prilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadainya dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh.

Ajaran-ajarannya tersebut banyak yang berseberangan dengan para ulama agama ini. bahkan dengan ajarannya itu ia telah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri. Ia mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah, tawassul dengannya, atau tawassul dengan para nabi lainnya atau para wali Allah dan orang-orang, serta menziarahi kubur mereka untuk tujuan mencari berkah adalah perbuatan syirik. Menurutnya bahwa memanggil nama Nabi ketika bertawassul adalah perbuatan syirik. Demikian pula memanggil nabi-nabi lainnya, atau memanggil para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan tawassul dengan mereka adalah perbuatan syirik.

Muhammad ibn Abdil Wahhab  meyakini bahwa menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, walaupun dengan cara majâzi (metapor) adalah pekerjaan syirik, seperti bila seseorang berkata: “Obat ini memberikan manfa’at kepadaku” atau “Wali Allah si fulan memberikan manfaat apa bila bertawassul dengannya”. Dalam menyebarkan ajarannya ini,

Muhammad ibn Abdil Wahhab mengambil beberapa dalil yang sama sekali tidak menguatkannya. Ia banyak memoles ungkapan-ungkapan seruannya dengan kata-kata yang menggiurkan dan muslihat hingga banyak diikuti oleh orang-orang awam. Dalam hal ini Muhammad ibn Abdil Wahhab telah menulis beberapa risalah untuk mengelabui orang-orang awam, hingga banyak dari orang-orang awam tersebut yang kemudian mengkafirkan orang-orang Islam dari para ahli tauhid” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 66)”.


Dalam kitab tersebut kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:

“Banyak sekali dari guru-guru Muhammad ibn Abdil Wahhab ketika di Madinah mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang sesat, dan akan banyak orang yang akan sesat karenanya. Mereka adalah orang-orang yang di hinakan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan kemudian apa yang dikhawatirkan oleh guru-gurunya tersebut menjadi kenyataan.

Muhammad ibn Abdil Wahhab sendiri mengaku
bahwa ajaran yang ia serukannya ini adalah sebagai pemurnian tauhid dan untuk membebaskan dari syirik. Dalam keyakinannya bahwa sudah sekitar enam ratus tahun ke belakang dari masanya seluruh manusia ini telah jatuh dalam syirik dan kufur. Ia mengaku bahwa dirinya datang untuk memperbaharui agama mereka.

Ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang orang-orang musyrik ia berlakukan bagi orang-orang Islam ahli tauhid.

Seperti firman Allah: “Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang berdoa kepada selain Allah; ia meminta kepada yang tidak akan pernah mengabulkan baginya hingga hari kiamat, dan mereka yang dipinta itu lalai terhadap orang-orang yang memintanya” (QS. al-Ahqaf: 5),

dan firman-Nya: “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah terhadap apa yang tidak memberikan manfa’at bagimu dan yang tidak memberikan bahaya bagimu, jika bila engkau melakukan itu maka engkau termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. Yunus: 106),

juga firman-Nya: ”Dan mereka yang berdoa kepada selain Allah sama sekali tidak mengabulkan suatu apapun bagi mereka” (QS. al-Ra’ad: 1), serta berbagai ayat lainnya.

Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan  : 

bahwa siapa yang meminta pertolongan kepada Rasulullah atau para nabi lainnya, atau kepada para wali Allah dan orang-orang saleh, atau memanggil mereka, atau juga meminta syafa’at kepada mereka maka yang melakukan itu semua sama dengan orang-orang musyrik, dan menurutnya masuk dalam pengertian ayat-ayat di atas.
Muhammad ibn Abdil Wahhab  juga mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah atau para nabi lainnya, atau para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan mencari berkah maka sama dengan orang-orang musyrik di atas.
Dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan orang-orang musyrik saat mereka menyembah berhala: “Tidaklah kami menyembah mereka -berhala-berhala- kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (QS. al-Zumar: 3),
menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang yang melakukan tawassul sama saja dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala yang mengatakan tidaklah kami menyembah berhala-berhala tersebut kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 67).


Pada halaman selanjutnya Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:

“Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah ibn Umar dari Rasulullah dalam menggambarkan sifat-sifat orang Khawarij bahwa mereka mengutip ayat-ayat yang turun tentang orang-orang kafir dan memberlakukannya bagi orang-orang mukmin. Dalam Hadits lain dari riwayat Abdullah ibn Umar pula bahwa Rasulullah telah bersabda: “Hal yang paling aku takutkan di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membuat-buat takwil al-Qur’an, ia meletakan -ayat-ayat al-Qur’an tersebut- bukan pada tempatnya”. Dua riwayat Hadits ini benar-benar telah terjadi pada kelompok Wahhabiyyah ini” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 68).

Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan masih dalam buku tersebut menuliskan pula:

“Di antara yang telah menulis karya bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah salah seorang guru terkemukanya sendiri, yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi, penulis kitab Hâsyiah Syarh Ibn Hajar Alâ Matn Bâ Fadlal. Di antara tulisan dalam karyanya tersebut Syekh Sulaiman mengatakan: Wahai Ibn Abdil Wahhab, saya menasehatimu untuk menghentikan cacianmu terhadap orang-orag Islam” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 69).


Masih dalam kitab yang sama Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga menuliskan:


“Mereka (kaum Wahhabiyyah) malarang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan di atas menara-menara. Bahkan disebutkan ada seorang yang saleh yang tidak memiliki penglihatan, beliau seorang pengumandang adzan. Suatu ketika setelah mengumandangkan adzan ia membacakan shalawat atas Rasulullah, ini setelah adanya larangan dari kaum Wahhabiyyah untuk itu. Orang saleh buta ini kemudian mereka bawa ke hadapan Muhammad ibn Abdil Wahhab, selanjutnya ia memerintahkan untuk dibunuh. Jika saya ungkapkan bagimu seluruh apa yang diperbuat oleh kaum Wahhabiyyah ini maka banyak jilid dan kertas dibutuhkan untuk itu, namun setidaknya sekedar inipun cukup” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 77).


Di antara bukti kebenaran apa yang telah ditulis oleh Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam pengkafiran kaum Wahhabiyyah terhadap orang yang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan adalah peristiwa yang terjadi di Damaskus Siria (Syam). Suatu ketika pengumandang adzan masjid Jami’ al-Daqqaq membacakan shalawat atas Rasulullah setelah adzan, sebagaimana kebiasaan di wilayah itu, ia berkata:
“as-Shalât Wa as-Salâm ‘Alayka Ya Rasûlallâh…!”,.
Tiba-tiba seorang Wahhabi yang sedang berada di pelataran masjid berteriak dengan keras:
“Itu perbuatan haram, itu sama saja dengan orang yang mengawini ibunya sendiri…”.
Kemudian terjadi pertengkaran antara beberapa orang Wahhabi dengan orang-orang Ahlussunnah, hingga orang Wahhabi tersebut dipukuli. Akhirnya perkara ini dibawa ke mufti Damaskus saat itu, yaitu Syekh Abu al-Yusr Abidin.

Kemudian mufti Damaskus ini memanggil pimpinan kaum Wahhabiyyah, yaitu Nashiruddin al-Albani, dan membuat perjanjian dengannya untuk tidak menyebarkan ajaran Wahhabi.
Syekh Abu al-Yusr mengancamnya bahwa jika ia terus mengajarkan ajaran Wahhabi maka ia akan dideportasi dari Siria.


Kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:


Muhammad ibn Abdil Wahhab, perintis berbagai gerakan bid’ah ini, sering menyampaikan khutbah jum’at di masjid ad-Dar’iyyah. Dalam seluruh khutbahnya ia selalu mengatakan :  bahwa siapapun yang bertawassul dengan Rasulullah maka ia telah menjadi kafir.

Sementara itu saudaranya sendiri, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab adalah seorang ahli ilmu. Dalam berbagai kesempatan, saudaranya ini selalu mengingkari Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam apa yang dia lakukan, ucapakan dan segala apa yang ia perintahkan. Sedikitpun, Syekh Sulaiman ini tidak pernah mengikuti berbagai bid’ah yang diserukan olehnya.

Suatu hari Syekh Sulaiman berkata kepadanya: “Wahai Muhammad Berapakah rukun Islam?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: “Lima”.
Syekh Sulaiman berkata: “Engkau telah menjadikannya enam, dengan menambahkan bahwa orang yang tidak mau mengikutimu engkau anggap bukan seorang muslim”.


Suatu hari ada seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: “Berapa banyak orang yang Allah merdekakan (dari neraka) di setiap malam Ramadlan? Ia menjawab: “Setiap malam Ramadlan Allah memerdekakan seratus ribu orang, dan di akhir malam Allah memerdekakan sejumlah orang yang dimerdekakan dalam sebulan penuh”. Tiba-tiba orang tersebut berkata: “Seluruh orang yang mengikutimu jumlah mereka tidak sampai sepersepuluh dari sepersepuluh jumlah yang telah engkau sebutkan, lantas siapakah orang-orang Islam yang dimerdekakan Allah tersebut?! Padahal menurutmu orang-orang Islam itu hanyalah mereka yang mengikutimu”. Muhammad ibn Abdil Wahhab terdiam tidak memiliki jawaban.


Ketika perselisihan antara Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan saudaranya; Syekh Sulaiman semakin memanas, saudaranya ini akhirnya khawatir terhadap dirinya sendiri. Karena bisa saja Muhammad ibn Abdil Wahhab sewaktu-waktu menyuruh seseorang untuk membunuhnya. Akhirnya ia hijrah ke Madinah, kemudian menulis karya sebagai bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab yang kemudian ia kirimkan kepadanya. Namun, Muhammad ibn Abdil Wahhab tetap tidak bergeming dalam pendirian sesatnya.

Demikian pula banyak para ulama madzhab Hanbali yang telah menulis berbagai risalah bantahan terhadap Muhammad ibn Abdil Wahhab yang mereka kirimkan kepadanya. Namun tetap Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak berubah sedikitpun.


Suatu ketika, salah seorang kepala sautu kabilah yang cukup memiliki kekuatan hingga hingga Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak dapat menguasainya berkata kepadanya:

Bagaimana sikapmu jika ada seorang yang engkau kenal sebagai orang yang jujur, amanah, dan memiliki ilmu agama berkata kepadamu bahwa di belakang suatu gunung terdapat banyak orang yang hendak menyerbu dan membunuhmu, lalu engkau kirimkan seribu pasukan berkuda untuk medaki gunung itu dan melihat orang-orang yang hendak membunuhmu tersebut, tapi ternyata mereka tidak mendapati satu orangpun di balik gunung tersebut, apakah engkau akan membenarkan perkataan yang seribu orang tersebut atau satu orang tadi yang engkau anggap jujur?”

Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Saya akan membenarkan yang seribu orang”.

Kemudian kepada kabilah tersebut berkata: ”Sesungguhnya para ulama Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dalam karya-karya mereka telah mendustakan ajaran yang engkau bawa, mereka mengungkapkan bahwa ajaran yang engkau bawa adalah sesat, karena itu kami mengikuti para ulama yang banyak tersebut dalam menyesatkan kamu”.

Saat itu Muhammad ibn Abdil Wahhab sama sekali tidak berkata-kata.


Terjadi pula peristiwa, suatu saat seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab:

”Ajaran agama yang engkau bawa ini apakah ini bersambung (hingga Rasulullah) atau terputus?”.
Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab:
”Seluruh guru-guruku, bahkan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun lalu, semua mereka adalah orang-orang musyrik”.

Orang tadi kemudian berkata: ”Jika demikian ajaran yang engkau bawa ini terputus! Lantas dari manakah engkau mendapatkannya?” Muhammad ibn Abdil Wahhab  menjawab: ”Apa yang aku serukan ini adalah wahyu ilham seperti Nabi Khadlir”.
Kemudian orang tersebut berkata:
”Jika demikian berarti tidak hanya kamu yang dapat wahyu ilham, setiap orang bisa mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu ilham. Sesungguhnya melakukan tawassul itu adalah perkara yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah, bahkan dalam hal ini Ibn Taimiyah memiliki dua pendapat, ia sama sekali tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul telah menjadi kafir
(ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, h. 42-43).


Yang dimaksud oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang terdahulu dalam keadaan syirik hingga enam ratus tahun ke belakang dari masanya ialah hingga tahun masa hidup Ibn Taimiyah, yaitu hingga sekitar abad tujuh dan delapan hijriyah ke belakang. Menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam rentang masa antara hidup Ibn Taimiyah, yaitu di abad tujuh dan delapan hijriyah dengan masa hidupnya sendiri yaitu pada abad dua belas hijriyah, semua orang di dalam masa tersebut adalah orang-orang musyrik. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang datang untuk memperbaharui tauhid. Dan ia menganggap bahwa hanya Ibn Taimiyah yang selaras dengan jalan dakwah dirinya. Menurutnya, Ibn Taimiyah di masanya adalah satu-satunya orang yang menyeru kepada Islam dan tauhid di mana saat itu Islam dan tauhid tersebut telah punah. Lalu ia mengangap bahwa hingga datang abad dua belas hijriyah, hanya dirinya seorang saja yang melanjutkan dakwah Ibn Taimiyah tersebut.


Klaim Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sungguh sangat sangat aneh, bagaimana ia dengan sangat berani mengakafirkan mayoritas umat Islam Ahlussunnah yang jumlahnya ratusan juta

Muhammad ibn Abdil Wahhab  menganggap bahwa hanya pengikutnya sendiri yang benar-benar dalam Islam.
Padahal jumalah mereka di masanya hanya sekitar seratus ribu orang. Kemudian di Najd sendiri, yang merupakan basis gerakannya saat itu, mayoritas penduduk wilayah tersebut di masa hidup Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak mengikuti ajaran dan faham-fahamnya. Hanya saja memang saat itu banyak orang di wilayah tersebut takut terhadap dirinya, oleh karena prilakunya yang tanpa segan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti ajakannya.


Prilaku jahat Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Amir ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm.
Pada awalnya, ash-Shan’ani memuji-muji dakwah Muhammad ibn Abdil Wahhab, namun setelah ia mengetahui hakekat siapa Muhammad ibn Abdil Wahhab, ia kemudian berbalik mengingkarinya. Sebelum mengetahui siapa hakekat Muhammad ibn Abdil Wahhab, ash-Shan’ani memujinya dengan menuliskan beberapa sya’ir, yang pada awal bait sya’ir-sya’ir tersebut ia mengatakan:
سَلاَمٌ عَلَى نَجْدٍ وَمَنْ حَلّ فِي نَجْدِ وَإنْ كَانَ تَسْلِيْمِيْ عَلَى البُعْدِ لاَ يجْدِي
“Salam tercurah atas kota Najd dan atas orang-orang yang berada di dalamnya, walaupun salamku dari kejauhan tidak mencukupi”.


Bait-bait sya’ir tulisan ash-Shan’ani ini disebutkan dalam kumpulan sya’ir-sya’ir (Dîwân) karya ash-Shan’ani sendiri, dan telah diterbitkan. Secara keseluruhan, bait-bait syair tersebut juga dikutip oleh as-Syaukani dalam karyanya berjudul al-Badr at-Thâli’, juga dikutip oleh Shiddiq Hasan Khan dalam karyanya berjudul at-Tâj al-Mukallal, yang oleh karena itu Muhammad ibn Abdil Wahhab mendapatkan tempat di hati orang-orang yang tidak mengetahui hakekatnya. Padahal al-Amir ash-Shan’ani setelah mengetahui bahwa prilaku Muhammad ibn Abdil Wahhab selalu membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya, merampas harta benda orang lain, mengkafirkan mayoritas umat Islam, maka ia kemudian meralat segala pujian terhadapnya yang telah ia tulis dalam bait-bait syairnya terdahulu, yang lalu kemudian balik mengingkarinya. Ash-Shan’ani kemudian membuat bait-bait sya’ir baru untuk mengingkiari apa yang telah ditulisnya terdahulu, di antaranya sebagai berikut:



رَجَعْتُ عَن القَول الّذيْ قُلتُ فِي النّجدِي فقَدْ صحَّ لِي عنهُ خلاَفُ الّذِي عندِي

ظنَنْتُ بهِ خَيْرًا فَقُـلْتُ عَـسَى عَـسَى نَجِدْ نَاصِحًا يَهْدي العبَادَ وَيستهْدِي
لقَد خَـابَ فيْه الظنُّ لاَ خَاب نصـحُنا ومَـا كلّ ظَـنٍّ للحَقَائِق لِي يهدِي
وقَـدْ جـاءَنا من أرضِـه الشيخ مِرْبَدُ فحَقّق مِنْ أحـوَاله كلّ مَا يبـدِي
وقَـد جَـاءَ مِـن تأليــفِهِ برَسَـائل يُكَـفّر أهْلَ الأرْض فيْهَا عَلَى عَمدِ
ولـفق فِـي تَكْـفِيرِهمْ كل حُــجّةٍ تَرَاهـا كبَيتِ العنْكَبوتِ لدَى النّقدِ

“Aku ralat ucapanku yang telah aku ucapkan tentang seorang yang berasal dari Najd, sekarang aku telah mengetahui kebenaran yang berbeda dengan sebelumnya”.
“Dahulu aku berbaik sangka baginya, dahulu aku berkata: Semoga kita mendapati dirinya sebagi seorang pemberi nasehat dan pemeberi petunjuk bagi orang banyak”
“Ternyata prasangka baik kita tentangnya adalah kehampaan belaka. Namun demikian bukan berarti nasehat kita juga merupakan kesia-siaan, karena sesungguhnya setiap prasangka itu didasarkan kepada ketaidaktahuan akan hakekat-hakekat”.
“Telah datang kepada kami “Syekh” ini dari tanah asalnya. Dan telah menjadi jelas bagi kami dengan sejelas-jelasnya tentang segala hakekat keadaannya dalam apa yang ia tampakkan”.
“Telah datang dalam beberapa tulisan risalah yang telah ia tuliskan, dengan sengaja di dalamnya ia mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi, -selain pengikutnya sendiri-”.
“Seluruh dalil yang mereka jadikan landasan dalam mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi tersebut jika dibantah maka landasan mereka tersebut laksana sarang laba-laba yang tidak memiliki kekuatan”.


Selain bait-bait sya’ir di atas terdapat lanjutannya yang cukup panjang, dan ash-Shan’ani sendiri telah menuliskan penjelasan (syarh) bagi bait-bait syair tersebut. Itu semua ditulis oleh ash-Shan’ani hanya untuk membuka hekekat Muhammad ibn Abdil Wahhab sekaligus membantah berbagai sikap ekstrim dan ajaran-ajarannya. Kitab karya al-Amir ash-Shan’ani ini beliau namakan dengan judul “Irsyâd Dzawî al-Albâb Ilâ Haqîqat Aqwâl Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.

Saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah kita sebutkan di atas, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, juga telah menuliskan karya bantahan kepadanya.

Beliau namakan karyanya tersebut dengan judul ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî al-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, dan buku ini telah dicetak. Kemudian terdapat karya lainnya dari Syekh Suliman, yang juga merupakan bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab dan para pengikutnya, berjudul “Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.

Kemudian pula salah seorang mufti madzhab Hanbali di Mekah pada masanya, yaitu Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi al-Hanbali, wafat tahun 1295 hijriyah, telah menulis sebuah karya berjudul “as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah”.

Kitab ini berisi penyebutan biografi ringkas setiap tokoh terkemuka di kalangan madzhab Hanbali. Tidak sedikitpun nama Muhammad ibn Abdil Wahhab disebutkan dalam kitab tersebut sebagai orang yang berada di jajaran tokoh-tokoh madzhab Hanbali tersebut. Sebaliknya, nama Muhammad ibn Abdil Wahhab ditulis dengan sangat buruk, namanya disinggung dalam penyebutan nama ayahnya; yaitu Syekh Abdul Wahhab ibn Sulaiman. Dalam penulisan biografi ayahnya ini Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi mengatakan sebagai berikut:


“Dia (Abdul Wahhab ibn Sulaiman) adalah ayah kandung dari Muhammad yang ajaran sesatnya telah menyebar ke berbagai belahan bumi. Antara ayah dan anak ini memiliki perbedaan faham yang sangat jauh, dan Muhammad ini baru menampakan secara terang-terangan terhadap segala faham dan ajaran-ajarannya setelah kematian ayahnya. Aku telah diberitahukan langsung oleh beberapa orang dari sebagian ulama dari beberapa orag yang hidup semasa dengan Syekh Abdul Wahhab, bahwa ia sangat murka kepada anaknya; Muhammad. Karena Muhammad ini tidak mau mempelajari ilmu fiqih (dan ilmu-ilmu agama lainnya) seperti orang-orang pendahulunya.

Ayahnya ini juga mempunyai firasat bahwa pada diri Muhammad akan terjadi kesesatan yang sanat besar. Kepada banyak orang Syekh Abdul Wahhab selalu mengingatkan: ”Kalian akan melihat dari Muhammad ini suatu kejahatan…”. Dan ternyata memang Allah telah mentaqdirkan apa yang telah menjadi firasat Syekh Abdul Wahhab ini.


Demikian pula dengan saudara kandungnya, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, ia sangat mengingkari sepak terjang Muhammad. Ia banyak membantah saudaranya tersebut dengan berbagai dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits, karena Muhammad tidak mau menerima apapun kecuali hanya al-Qur’an dan Hadits saja.
Muhammad sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dinyatakan oleh para ulama, baik ulama terdahulu atau yang semasa dengannya. Yang ia terima hanya perkataan Ibn Taimiyah dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah.

Apapun yang dinyatakan oleh dua orang ini, ia pandang laksana teks yang tidak dapat diganggu gugat. Kepada banyak orang ia selalu mempropagandakan pendapat-pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim, sekalipun terkadang dengan pemahaman yang sama sekali tidak dimaksud oleh keduanya. Syekh Sulaiman menamakan karya bantahan kepadanya dengan judul Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb.


Syekh Sulaiman ini telah diselamatkan oleh Allah dari segala kejahatan dan marabahaya yang ditimbulkan oleh Muhammad, yang padahal hal tersebut sangat menghkawatirkan siapapun. Karena Muhammad ini, apa bila ia ditentang oleh seseorang dan ia tidak kuasa untuk membunuh orang tersebut dengan tangannya sendiri maka ia akan mengirimkan orangnya untuk membunuh orang itu ditempat tidurnya, atau membunuhnya dengan cara membokongnya di tempat-tempat keramaian di malam hari, seperti di pasar. Ini karena Muhammad memandang bahwa siapapun yang menentangnya maka orang tersebut telah menjadi kafir dan halal darahnya.


Disebutkan bahwa di suatu wilayah terdapat seorang gila yang memiliki kebiasaan membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Kemudian Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memasukkan orang gila tersebut dengan pedang ditangannya ke masjid di saat Syekh Sulaiman sedang sendiri di sana. Ketika orang gila itu dimasukan, Syekh Sulaiman hanya melihat kepadanya, dan tiba-tiba orang gila tersebut sangat ketakutan darinya. Kemudian orang gila tersebut langsung melemparkankan pedangnya, sambil berkata: ”Wahai Sulaiman janganlah engkau takut, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang aman”. Orang gila itu mengulang-ulang kata-katanya tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini jelas merupakan karamah” (as-Suhub al-Wâbilah Ala Dlara-ih al-Hanbilah, h. 275).


Dalam tulisan Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi di atas bahwa Syekh Abdul Wahhab sangat murka sekali kepada anaknya; Muhammad, karena tidak mau mempelajari ilmu fiqih, ini artinya bahwa dia sama sekali bukan seorang ahli fiqih dan bukan seorang ahli Hadits. Adapun yang membuat dia sangat terkenal tidak lain adalah karena ajarannya yang sangat ekstrim dan nyeleneh.

Sementara para pengikutnya yang sangat mencintainya, hingga mereka menggelarinya dengan Syekh al-Islâm atau Mujaddid, adalah klaim laksana panggang yang sangat jauh dari api. Para pengikutnya yang lalai dan terlena tersebut hendaklah mengetahui dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun dari sejarawan terkemuka di abad dua belas hijriyah yang mengungkap biografi Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan menyebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fiqih atau seorang ahli Hadits.


Syekh Ibn Abidin al-Hanafi dalam karyanya; Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr menuslikan sebagai berikut:


“Penjelasan; Prihal para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai kaum Khawarij di zaman kita ini.
Pernyataan pengarang kitab (yang saya jelaskan ini) tentang kaum Khawarij: “Wa Yukaffirûn Ash-hâba Nabiyyina…”, bahwa mereka adalah kaum yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah, artinya kaum Khawarij tersebut bukan hanya mengkafirkan para sahabat saja, tetapi kaum Khawarij adalah siapapun mereka yang keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib dan memberontak kepadanya.
Kemudian dalam keyakinan kaum Khawajij tersebut bahwa yang memerangi Ali ibn Abi Thalib, yaitu Mu’awiyah dan pengikutnya, adalah juga orang-orang kafir. Kelompok Khawarij ini seperti yang terjadi di zaman kita sekarang, yaitu para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah memerangi dan menguasai al-Haramain; Mekkah dan Madinah. Mereka memakai kedok madzhab Hanbali.


Mereka meyakini bahwa hanya diri mereka yang beragama Islam, sementara siapapun yang menyalahi mereka adalah orang-orang musyrik. Lalu untuk menegakan keyakinan ini mereka mengahalalkan membunuh orang-orang Ahlussunnah. Oleh karenanya banyak di antara ulama Ahlussunnah yang telah mereka bunuh. Hingga kemudian Allah menghancurkan kekuatan mereka dan membumihanguskan tempat tinggal mereka hingga mereka dikuasai oleh balatentara orang-orang Islam, yaitu pada tahun seribu dua ratus tiga puluh tiga hijriyah (th 1233 H)” (Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, j. 4, h. 262; Kitab tentang kaum pemberontak.).

Ini sesuai dgn  Sabda :

Rosulullah saw berdiri di atas mimbar dan bersabda "di sanalah daerah brbagai fitnah,seraya beliau menunjuk ke timur madinah,dari sana timbul tanduk setan(hr.bukhari,ahmad,dan tirmidzi)

Rosululloh saw bersabda :"akan muncul dari ummatku suatu kaum yang jelek perbuatannya,mereka membaca Alqur'an tetapi tidak sampai melewati batas kerongkongannya."Yazid melanjutkan "aku tdk mendengar ucapan Rosulullah saw. Yg lain kecuali beliau bersabda " MEREKA MENGHINA AMALAN KALIAN DARI PADA AMALAN MEREKA DAN MEMBUNUH ORANG-ORANG ISLAM. maka jika mereka muncul,bunuhlah mereka. Kemudian jika mereka muncul lg,bunuhlah mereka. Berbahagialah bg orang yg membunuh mereka. Setiap kali muncul tanduk setan dari mereka, maka Allah swt.akan memotongnya. Rosulullah mengulang-ulang kalimat itu sampai "dua puluh kali atau lebih,dan aku mendengarnya.."
( Hr.Ahmad,Hakim,Ibnu Majah,Haitsam)

Salah seorang ahli tafsir terkemuka; Syekh Ahmad ash-Shawi al-Maliki dalam ta’lîq-nya terhadap Tafsîr al-Jalâlain menuliskan sebagai berikut:


“Menurut satu pendapat bahwa ayat ini turun tentang kaum Khawarij, karena mereka adakah kaum yang banyak merusak takwil ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah. Mereka menghalalkan darah orang-orang Islam dan harta-harta mereka. Dan kelompok semacam itu pada masa sekarang ini telah ada. Mereka itu adalah kelompok yang berada di negeri Hijaz; bernama kelompok Wahhabiyyah. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang benar dan terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Mereka telah dikuasai oleh setan hingga mereka lalai dari mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sesungguhnya golongan setan adalah orang-orang yang merugi. Kita berdo’a kepada Allah, semoga Allah menghancurkan mereka” (Mir-ât an-Najdiyyah, h. 86)


Referensi bahan bacaan :

karya Ulama silahkan baca baca agar lebih jelas agar tidak asal menduga...soal wahabi..

1. Ithâf al-Kirâm Fî Jawâz at-Tawassul Wa al- Istighâtsah Bi al-Anbiyâ ’ al-Kirâm karya asy-Syaikh Muhammad asy-Syadi. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al- Kittaniyyah di Rabath pada nomor 1143.

2. Ithâf Ahl az-Zamân Bi Akhbâr Mulûk Tûnus Wa ‘ Ahd al-Amân karya asy- Syaikh Ahmad ibn Abi adl- Dliyaf, telah diterbitkan.

3. Itsbât al-Wâsithah al- Latî Nafathâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al- Kailani al-Iskandarani (w 1362 H).

4. Ajwibah Fî Zayârah al- Qubûr karya asy-Syaikh al-Idrus. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al- ‘Ammah di Rabath pada nomor 4/2577.

5. al-Ajwibah an- Najdiyyah ‘An al-As-ilah an-Najdiyyah karya Abu al-Aun Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Salim an-Nabulsi al- Hanbali yang dikenal dengan sebutan Ibn as- Sifarayini (w 1188 H).

6. al-Ajwibah an- Nu ’mâniyyah ‘An al-As- ilah al-Hindiyyah Fî al- ‘Aqâ-id karya Nu’man ibn Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Alusi al- Baghdadi al-Hanafi (w 1317 H).

7. Ihyâ ’ al-Maqbûr Min Adillah Istihbâb Binâ’ al- Masâjid Wa al-Qubab ‘Alâ al-Qubûr karya al-Imâm al-Hâfizh as-Sayyid Ahmad ibn ash-Shiddiq al- Ghumari (w 1380 H).

8. Al-Ishâbah Fî Nushrah al-Khulafâ ’ ar-Rasyidîn karya asy-Syaikh Hamdi Juwaijati ad-Damasyqi. 9. al-Ushûl al-Arba ’ah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah karya Muhammad Hasan Shahib as-Sarhandi al- Mujaddidi (w 1346 H), telah diterbitkan.

10. Izh-hâr al- ‘Uqûq Min Man Mana’a at-Tawassul Bi an-Nabiyy Wa al-Walyy ash-Shadûq karya asy- Syaikh al-Musyrifi al- Maliki al-Jaza-iri.

11. al-Aqwâl as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Mudda’i Nushrah as-Sunnah al- Muhammadiyyah disusun oleh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi dari pelajaran-pelajaran al- Muhaddits as-Sayyid Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari, telah diterbitkan.

12. al-Aqwâl al- Mardliyyah Fî ar-Radd ‘ Alâ al-Wahhâbiyyah karya ahli fiqih terkemuka asy-Syaikh Atha al-Kasam ad- Damasyqi al-Hanafi, telah diterbitkan.

13. al-Intishâr Li al- Awliyâ’ al-Abrâr karya al- Muhaddits asy-Syaikh Thahir Sunbul al-Hanafi.

14. al-Awrâq al- Baghdâdiyyah Fî al- Jawâbât an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar- Rifa ’i. Pemimpin tarekat ar-Rifa’iyyah di Baghdad, telah diterbitkan.

15. al-Barâ-ah Min al- Ikhtilâf Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl asy-Syiqâq Wa an- Nifâq Wa ar-Radd ‘Alâ al- Firqah al-Wahhâbiyyah adl-Dlâllah karya asy- Syaikh Ali Zain al-Abidin as-Sudani, telah diterbitkan.

16. al-Barâhîn as-Sâthi ’ah Fî ar-Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ’i-ah karya asy- Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.

17. al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al- Maqâbir karya asy-Syaikh Hamdullah ad-Dajwi al- Hanafi al-Hindi, telah diterbitkan.

18. Târîkh al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Ayyub Shabri Basya ar-Rumi, penulis kitab Mir-âh al- Haramain.

19. Tabarruk ash- Shahâbah Bi Âtsâr Rasulillâh karya asy- Syaikh Muhammad Thahir ibn Abdillah al-Kurdi. Telah diterbitkan.

20. Tabyîn al-Haqq Wa ash-Shawâb Bi ar-Radd ‘ Alâ Atbâ’ Ibn Abd al- Wahhâb karya asy-Syaikh Taufiq Sauqiyah ad- Damasyqi (w 1380 H), telah diterbitkan di Damaskus.

21. Tajrîd Sayf al-Jihâd Li Mudda’î al-Ijtihâd karya asy-Syaikh Abdullah ibn Abd al-Lathif asy-Syafi ’i. Beliau adalah guru dari Muhammad ibn Abd al- Wahhab sendiri, dan beliau telah membantah seluruh ajaran Wahhabiyyah di saat hidupnya Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

22. Tahdzîr al-Khalaf Min Makhâzî Ad ’iyâ’ as-Salaf karya al-Imâm al- Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Zahid al- Kautsari.

23. at-Tahrîrât ar-Râ-iqah karya asy-Syaikh Muhammad an-Nafilati al-Hanafi, mufti Quds Palestina, telah diterbitkan.

24. Tahrîdl al-Aghbiyâ ‘Alâ al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ Wa al-Awliyâ karya asy- Syaikh Abdullah al- Mayirghini al-Hanafi, tinggal di wilayah Tha ’if.

25. at-Tuhfah al- Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘ Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Hanafi (w 1299 H).

26. Tath-hîr al-Fu-âd Min Danas al-I ’tiqâd karya asy-Syaikh Muhammad Bakhith al-Muthi ’i al- Hanafi, salah seorang ulama al-Azhar Mesir terkemuka, telah diterbitkan.

27. Taqyîd Hawla at- Ta ’alluq Wa at-Tawassul Bi al-Anbiyâ Wa ash- Shâlihîn karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al- Jama ’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/ Rabath pada nomor 153.

28. Taqyîd Hawla Ziyârah al-Auliyâ Wa at-Tawassul Bihim karya Ibn Kairan, Qadli al-Jama ’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/ Rabath pada nomor 153.

29. Tahakkum al- Muqallidîn Biman Idda ’â Tajddîd ad-Dîn karya asy- Syaikh Muhammad ibn Abd ar-Rahman al- Hanbali. Dalam kitab ini beliau telah membantah seluruh kesasatan Muhammad ibn Abd al- Wahhab secara rinci dan sangat kuat.

30. at-Tawassul karya asy-Syaikh Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri al-Hazarawi, telah diterbitkan.

31. at-Tawassul Bi al- Anbiyâ ’ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq ad- Damasyqi asy-Syami, telah diterbitkan.

32. at-Taudlîh ‘An Tauhîd al-Khilâq Fî Jawâb Ahl al- ‘Irâq ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi. Karya Manuskrip di Universitas Cambridge London dengan judul “ar-Radd al- Wahhabiyyah”. Manuskrip serupa juga berada di perpustakaan al-Awqaf Bagdad Irak. 33. Jalâl al-Haqq Fî Kasyf Ahwâl Asyrâr al-Khalq karya asy-Syaikh Ibrahim Hilmi al-Qadiri al- Iskandari, telah diterbitkan.

34. al-Jawâbât Fî az- Ziyârât karya asy-Syaikh Ibn Abd ar-Razzaq al- Hanbali. asy-Sayyid Alawi ibn al- Haddad berkata: “Saya telah melihat berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari tulisan para ulama terkemuka dari empat madzhab, mereka yang berasal dari dua tanah haram (Mekah dan Madinah), dari al-Ahsa’, dari Basrah, dari Bagdad, dari Halab, dari Yaman, dan dari berbagai negara Islam lainnya. Baik tulisan dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk bait-bait syai’r”.

35. Hâsyiyah ash-Shâwî ‘ Alâ Tafsîr al-Jalâlain karya asy-Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki.

36. al-Hujjah al- Mardliyyah Fî Itsbât al- Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al- Kailani al-Iskandari (w 1362 H).

37. al-Haqâ-iq al- Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mazâ’im al- Wahhâbiyyah Bi Adillah al-Kitâb Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya asy-Syaikh Malik ibn asy- Syaikh Mahmud, direktur perguruan al- ‘Irfan di wilayah Kutabali Negara Republik Mali Afrika, telah diterbitkan.

38. al-Haqq al-Mubîn Fî ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyîn karya asy- Syaikh Ahmad Sa ’id al- Faruqi as-Sarhandi an- Naqsyabandi (w 1277 H).

39. al-Haqîqah al- Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Ghani ibn Shaleh Hamadah, telah diterbitkan.

40. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi ’i di Mekah (w 1304 H).

41. ad-Dalîl al-Kâfi Fî ar- Radd ‘Alâ al-Wahhâbi karya asy-Syaikh Misbah ibn Ahmad Syibqilu al- Bairuti, telah diterbitkan.

42. ar-Râ- ’iyyah ash- Shughrâ Fî Dzamm al- Bid ’ah Wa Madh as- Sunnah al-Gharrâ’, bait- bait sya’ir karya asy- Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani al-Bairuti, telah diterbitkan.

43. ar-Rihlah al-Hijâziyyah karya asy-Syaikh Abdullah ibn Audah yang dikenal dengan sebutan Shufan al-Qudumi al-Hanbali (w 1331 H), telah diterbitkan. 44. Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr karya asy-Syaikh Muhammad Amin yang dikenal dengan sebutan Ibn Abidin al-Hanafi ad- Damasyqi, telah diterbitkan.

45. ar-Radd‘Alâ Ibn ‘Abd al-Wahhâb karya Syaikh al-Islâm di wilayah Tunisia, asy-Syaikh Isma ’il at-Tamimi al-Maliki (w 1248 H). Berisi bantahan sangat kuat dan detail atas faham Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Tunisia.

46. Radd ‘Alâ Ibn ’Abd al- Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ahsa- i.

47. Radd ‘Alâ Ibn Abd al- Wahhâb karya al- ‘Allâmah asy-Syaikh Barakat asy-Syafi’i al- Ahmadi al-Makki.

48. ar-Rudûd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al- Wahhâb karya al- Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al- Maghribi. as-Sayyid Alawi ibn al-Haddad dalam mengomentari ar-Rudûd ‘Ala Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al- Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al- Maghribi ini berkata: “ Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa risalah dan berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari semua ulama empat madzhab; ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, Ulama madzhab Syafi ’i, dan ulama madzhab Hanbali. Mereka semua dengan sangat bagus telah membantah Muhammad ibn Abd al- Wahhab ”.

49. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Shaleh al-Kawasy at-Tunisi. Karya ini dalam bentuk sajak sebagai bantahan atas risalah Muhammad ibn Abd al- Wahhab, telah diterbitkan.

50. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Muhammad Shaleh az-Zamzami asy-Syafi ’i, Imam Maqam Ibrahim di Mekah.

51. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Ibrahim ibn Abd al- Qadir ath-Tharabulsi ar- Riyahi at-Tunusi al- Maliki, berasal dari kota Tastur (w 1266 H).

52. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Abd al-Muhsin al- Asyikri al-Hanbali, mufti kota az-Zubair Basrah Irak.

53. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh al-Makhdum al- Mahdi, mufti wilayah Fas Maroko.

54. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al- Wahhâb karya asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi ’i. Beliau adalah salah seorang guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq (asy-Syaikh Muhammad ’Arabi at- Tabban) dalam kitab Barâ-ah al-Asyariyyîn Min Aqâ-id al-Mukhâlifîn menuliskan: “Guru Muhammad ibn Abd al- Wahhab (yaitu asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi) telah memiliki firasat bahwa muridnya tersebut akan menjadi orang sesat dan menyesatkan. Firasat seperti ini juga dimiliki guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang lain, yaitu asy-Syaikh Muhammad Hayat as- Sindi, dan juga dimiliki oleh ayah sendiri, yaitu asy-Syaikh Abd al- Wahhab ”.

55. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub. Karya manuskripnya berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nomor 2513. Copy manuskrip ini berada di Ma ’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir dan di perpustakaan al- Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.

56. ar-Radd ‘Alâ al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama ’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip di perpustakaan al- Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.

57. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al- Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah al-Qudumi al- Hanbali an-Nabulsi, salah seorang ulama terkemuka pada madzhab Hanbali di wilayah Hijaz dan Syam (w 1331 H). Karya ini berisi pembahasan masalah ziarah dan tawassul dengan para Nabi dan orang-orang saleh. Dalam karyanya ini penulis menamakan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan para pengikutnya sebagai kaum Khawarij. Penyebutan yang sama juga telah beliau ungkapkan dalam karyanya yang lain berjudul ar-Rihlah al- Hijâziyyah Wa ar-Riyâdl al-Unsiyyah Fî al- Hawâdits Wa al-Masâ-il.

58. Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al- Mubtadi’în al- Wahhâbiyyîn Wa al- Mustauhibîn karya asy- Syaikh Musthafa al- Karimi ibn Syaikh Ibrahim as-Siyami, telah diterbitkan tahun 1345 H oleh penerbit al-Ma’ahid.

59. Risâlah Fî Ta-yîd Madzhab ash-Shûfiyyah Wa ar-Radd ‘Alâ al- Mu’taridlîn ‘Alayhim karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.

60. Risâlah Fî Tasharruf al-Auliyâ ’ karya asy- Syaikh Yusuf ad-Dajwa, telah diterbitkan.

61. Risâlah Fî Jawâz at- Tawassul Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al- Wahhâb karya mufti wilayah Fas Maghrib al- ‘Allâmah asy-Syaikh Mahdi al-Wazinani.

62. Risâlah Fî Jawâz al- Istigâtsah Wa at- Tawassul karya asy- Syaikh as-Sayyid Yusuf al- Bithah al-Ahdal az-Zabidi, yang menetap di kota Mekah. Dalam karyanya ini beliau mengutip pernyataan seluruh ulama dari empat madzhab dalam bantahan mereka atas kaum Wahhabiyyah, kemudian beliau mengatakan: “ Sama sekali tidak dianggap faham yang menyempal dari keyakinan mayoritas umat Islam dan berseberangan dengan mereka, dan siapa melakukan hal itu maka ia adalah seorang ahli bid ’ah”.

63. Risâlah Fî Hukm at- Tawassul Bi al-Anbiyâ ’ Wa al-Awliyâ’ karya asy- Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al- Adawi al-Mishri wakil Universitas al-Azhar Cairo Mesir, telah diterbitkan.

64. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Qasim Abu al- Fadl al-Mahjub al-Maliki.

65. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad- Damasyqi al-Hanbali.

66. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahamd Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H).

67. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi, mufti madzhab Hanbali di wilayah Damaskus Siria, telah diterbitkan di Bairut tahun 1330 H.

68. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad karya manuskrip berada di al- Khizanah at-Taimuriyyah.

69. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Utsman al- Umari al-Uqaili asy- Syafi ’i, karya manuskrip berada di al-Khizanah at- Tamuriyyah.

70. ar-Risâlah ar- Raddiyyah ‘Alâ ath-Thâ- ifah al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Atha ’ullah yang dikenal dengan sebutan Atha ’ ar-Rumi.

71. ar-Risâlah al- Mardliyyah Fî ar-Radd ‘ Alâ Man Yunkir az- Ziyârah al- Muhammadiyyah karya asy-Syaikh Muhammad as-Sa ’di al-Maliki.

72. Raudl al-Majâl Fî ar- Radd ‘Alâ Ahl adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Abd ar- Rahman al-Hindi ad-Dalhi al-Hanafi, telah diterbitkan di Jeddah tahun 1327 H.

73. Sabîl an-Najâh Min Bid’ah Ahl az-Zâigh Wa adl-Dlalâlah karya asy- Syaikh al-Qâdlî Abd ar- Rahman Quti.

74. Sa ’âdah ad-Dârain Fî ar-Radd ‘Alâ al-Firqatain, al-Wahhâbiyyah Wa Muqallidah azh- Zhâhiriyyah karya asy- Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad as-Samnudi al-Manshuri al-Mishri, telah diterbitkan di Mesir tahun 1320 H dalam dua jilid.

75. Sanâ ’ al-Islâm Fî A’lâm al-Anâm Bi ‘Aqâ-id Ahl al- Bayt al-Kirâm Raddan ‘ Alâ Abd al-Azîz an-Najdi Fî Mâ Irtakabahu Min al- Auhâm karya asy-Syaikh Isma ’il ibn Ahmad az- Zaidi, karya manskrip.

76. as-Sayf al-Bâtir Li ‘ Unuq al-Munkir ‘Alâ al- Akâbir, karya al-Imâm as- Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad (w 1222 H).

77. as-Suyûf ash-Shiqâl Fî A ’nâq Man Ankar ‘Alâ al- Awliyâ’ Ba’da al-Intiqâl karya salah seorang ulama terkemuka di Bait al-Maqdis.

78. as-Suyûf al- Musyriqiyyah Li Qath ’ A’nâq al-Qâ-ilîn Bi al-Jihah Wa al-Jismiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad al-Maili al- Jamali at-Tunisi al- Maghribi al-Maliki.

79. Syarh ar-Risâlah ar- Raddiyyah ‘Alâ Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya Syaikh al-Islâm Muhammmad Atha ’ullah ibn Muhammad ibn Ishaq ar-Rumi, (w 1226 H).

80. ash-Shârim al-Hindi Fî ‘ Unuq an-Najdi karya asy- Syaikh Atha’ al-Makki.

81. Shidq al-Khabar Fî Khawârij al-Qarn ats- Tsânî ‘Asyar Fî Itsbât Ann al-Wahhâbiyyah Min al- Khawârij karya asy- Syaikh as-Sayyid Abdullah ibn Hasan Basya ibn Fadlal Basya al-Alawi al- Husaini al-Hijazi, telah diterbitkan.

82. Shulh al-Ikhwân Fî ar- Radd ‘Alâ Man Qâl ‘Alâ al-Muslimîn Bi asy-Syirk Wa al-Kufrân, Fî ar-Radd ‘ Alâ al-Wahhâbiyyah Li Takfîrihim al-Muslimîn karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an- Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H).

83. ash-Shawâ-iq al- Ilâhiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab. Beliau adalah saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.

84. ash-Shawâ-iq Wa ar- Rudûd karya asy-Syaikh Afifuddin Abdullah ibn Dawud al-Hanbali. as- Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad menuliskan: “ Karya ini (ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd) telah diberi rekomendasi oleh para ulama terkemuka dari Basrah, Bagdad, Halab, Ahsa ’, dan lainnya sebagai pembenaran bagi segala isinya dan pujian terhadapnya ”.

85. Dliyâ’ ash-Shudûr Li Munkir at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr karya asy-Syaikh Zhahir Syah Mayan ibn Abd al-Azhim Mayan, telah diterbitkan.

86. al- ‘Aqâ-id at-Tis’u karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abd al-Ahad al-Faruqi al-Hanafi an- Naqsyabandi, telah diterbitkan.

87. al- ‘Aqâ-id ash- Shahîhah Fî Tardîd al- Wahhâbiyyah an- Najdiyyah karya asy- Syaikh Hafizh Muhammad Hasan as-Sarhandi al- Mujaddidi, telah diterbitkan.

88. ‘Iqd Nafîs Fî Radd Syubuhât al-Wahhâbi at- Tâ ’is karya sejarawan dan ahli fiqih terkemuka, asy- Syaikh Isma ’il Abu al-Fida’ at-Tamimi at-Tunusi.

89. Ghawts al- ‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd karya asy-Syaikh Abu Saif Musthafa al-Hamami al- Mishri, telah diterbitkan.

90. Fitnah al- Wahhâbiyyah karya as- Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, (w 1304 H), mufti madzhab Syafi ’i di dua tanah haram; Mekah dan Madinah, dan salah seorang ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al- Haram. Fitnah al- Wahhâbiyyah ini adalah bagian dari karya beliau dengan judul al-Futûhât al-Islâmiyyah, telah diterbitkan di Mesir tahun 1353 H.

91. Furqân al-Qur’ân Fî Tamyîz al-Khâliq Min al- Akwân karya asy-Syaikh Salamah al-Azami al- Qudla ’i asy-Syafi’i al- Mishri. Kitab berisi bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa Allah adalah benda yang memiki bentuk dan ukuran. Termasuk di dalamnya bantahan atas Ibn Taimiyah dan faham Wahhabiyyah yang berkeyakinan demikian. Telah diterbitkan.

92. Fashl al-Khithâb Fî ar- Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab, saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. Ini adalah kitab yang pertama kali ditulis sebagai bantahan atas segala kesesatan Muhammad ibn Abd al- Wahhab dan ajaran- ajaran Wahhabiyyah.

93. Fashl al-Khithâb Fi Radd Dlalâlât Ibn ’Abd al- Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad ibn Ali al-Bashri yang dikenal dengan sebutan al-Qubbani asy- Syafi ’i.

94. al-Fuyûdlât al- Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘ Alâ ath-Thâ-ifah al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Abd as-Salam al-Banani al-Maghribi.

95. Qashîdah Fî ar-Radd ‘ Alâ ash-Shan’âni Fî Madh Ibn ’Abd al-Wahhâb, bait- bait sya’ir karya asy- Syaikh Ibn Ghalbun al- Laibi, sebanyak 40 bait.

96. Qashîdah Fî ar-Radd ‘ Alâ ash-Shan’âni al-Ladzî Madaha Ibn ’Abd al- Wahhâb, bait-bait sya’ir karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi, sebanyak 126 bait.

97. Qashîdah Fî ar-Radd ‘ Alâ al-Wahhâbiyyah, bait-bait sya’ir karya asy- Syaikh Abd al-Aziz Qurasyi al- ‘Ilji al-Maliki al-Ahsa’i. Sebanyak 95 bait.

98. Qam ’u Ahl az-Zâigh Wa al-Ilhâd ‘An ath-Tha’ni Fî Taqlîd A’immah all- Ijtihâd karya mufti kota Madinah al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad al- Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H).

99. Kasyf al-Hijâb ‘An Dlalâlah Muhammad Ibn ’ Abd al-Wahhâb karya manuskrip berada di al- Khizanah at-Taimuriyyah.

100. Muhiqq at-Taqawwul Fî Mas-alah at-Tawassul karya al-Imâm al- Muhaddits Syaikh Muhammad Zahid al- Kautsari.

101. al-Madârij as- Saniyyah Fî Radd al- Wahhâbiyyah karya asy- Syaikh Amir al-Qadiri, salah seorang staf pengajar pada perguruan Dar al- ‘Ulum al- Qadiriyyah, Karatci Pakistan, telah diterbitkan.

102. Mishbâh al-Anâm Wa Jalâ ’ azh-Zhalâm Fî Radd Syubah al-Bid’i an-Najdi al-Latî Adlalla Bihâ al- ‘Awâmm karya as- Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad, (w 1222 H), telah diterbitkan tahun 1325 H di penerbit al- ‘Amirah.

103. al-Maqâlât karya asy-Syaikh Yusuf Ahmad ad-Dajwi, salah seorang ulama terkemuka al- Azhar Cairo Mesir (w 1365 H).

104. al-Maqâlât al- Wafiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Hasan Quzbik, telah diterbitkan dengan rekomendasi dari asy- Syaikh Yusuf ad-Dajwi

105. al-Minah al-Ilâhiyyah Fî Thams adl-Dlalâlah al- Wahhâbiyyah karya al- Qâdlî Isma ’il at-Tamimi at-Tunusi (w 1248 H). Karya manuskrip berada di Dar al-Kutub al- Wathaniyyah Tunisia pada nnomor 2780. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir. Sekarang telah diterbitkan.

106. Minhah Dzî al-Jalâl Fî ar-Radd ‘Alâ Man Thaghâ Wa Ahalla adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Hasan Abd ar-Rahman. Berisi bantahan atas ajaran Wahhabiyyah tentang masalah ziarah dan tawassul. Telah diterbitkan tahun 1321 H oleh penerbit al- Hamidiyyah.

107. al-Minhah al- Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhabiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an- Naqsyabandi al-Baghdadi (w 1299 H), telah diterbitkan di Bombay tahun 1305 H.

108. al-Manhal as-Sayyâl Fî al-Harâm Wa al-Halâl karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi. 109. an-Nasyr ath-Thayyib ‘ Alâ Syarh asy-Syaikh ath- Thayyib karya asy-Syaikh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi (w 1272 H).

110. Nashîhah Jalîlah Li al- Wahhâbiyyah karya as- Sayyid Muhammad Thahir Al-Mulla al-Kayyali ar- Rifa ’i, pemimpin keturunan Rasulullah (al- Asyraf/al-Haba-ib) di wilayah Idlib. Karya berisi nasehat ini telah dikirimkan kepada kaum Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Idlib Lebanon.

111. an-Nafhah az- Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al- Kailani al-Iskandari (w 1362 H). 112. an-Nuqûl asy- Syar’iyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al- Hanbali ad-Damasyqi, telah diterbitkan tahun 1406 di Istanbul Turki.

113. Nûr al-Yaqîn Fî Mabhats at-Talqîn; Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar- Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al- Mustauhibîn.

114. Yahûdan Lâ Hanâbilatan karya asy- Syaikh al-Ahmadi azh- Zhawahir, salah seorang Syaikh al-Azhar Cairo Mesir.

1 komentar:

isx ridho mengatakan...

mantab,tebarkan terus kebenaran ini....

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys