CEK ID FACEBOOK

Selasa, 13 September 2011

"PEMBUNUH SERATUS NYAWA YANG TOBAT




Laki-laki ini tenggelam di dalam dosa. Dia telah membunuh seratus orang. Membunuh adalah perkara besar di sisi Allah, dosa agung di sisi-Nya. Akan tetapi, tidak ada dosa yang pelakunya tidak tercakup oleh rahmat Allah. Allah mengampuni seluruh dosa jika seorang hamba kembali kepada-Nya dan bertaubat. Manakala laki-laki yang bermandikan darah seratus orang in mengetuk pintu Tuhannya dengan benar, dia kembali kepada-Nya dengan penuh taubat. Maka Allah mengampuni dan menyayanginya.


Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, "Pada Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Lalu dia pergi bertanya dengan mendatangi seorang rahib. Dia bertanya, 'Adakah taubat untukku?' Dia menjawab, 'Tidak ada.' Maka dia membunuhnya.

Dia bertanya-tanya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, 'Datanglah ke desa ini dan ini.' Saat dalam perjalanan itulah dia dijemput oleh maut. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih. Maka Allah mewahyukan kepada ini, 'Mendekatlah.' Dan Allah mewahyukan kepada ini, 'Menjauhlah.' Lalu berkata, 'Ukurlah antara keduanya. Maka dia lebih dekat kepada ini(desa yang dituju) satu jengkal. Dan dia diampuni."

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabiyullah bersabda, "Pada umat sebelum kalian terdapat seorang laki-laki pembunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Dia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim(pintar). Dia ditunjukkan kepada seorang rahib, dan dia mendatanginya. Dia berkata bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, maka adakah taubat untuknya? Rahib itu menjawab, 'Tidak.' Dan dia membunuhnya untuk menggenapkan hitungan menjadi seratus.

Kemudian dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Dia pun ditunjukkan kepada seorang alim. Dia berkata bahwa dia telah membunuh seratus orang, lalu apakah dia masih bisa bertaubat? Dia menjawab, 'Ya, siapa yang menghalanginya dari taubat. Pergilah ke kota ini dan ini, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Jangan pulang ke kotamu karena ia adalah kota yang buruk.'

Lalu dia berangkat. Di tengah perjalanan, dia mati. Malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, 'Dia datang dengan taubat, datang dengan hatinya kepada Allah.' Malaikat adzab berkata, 'Dia belum melakukan kebaikan apapun.' Lalu malaikat yang berwujud manusia datang kepada mereka, dan mereka menjadikannya hakim di antara mereka. Dia berkata, 'Ukurlah antara kedua kota itu. Ke mana dia lebih dekat, maka ia untuknya.' Lalu mereka mengukurnya, dan mereka mendapatkannya, dan mereka mendapatkannya lebih dekat kepada kota yang dia tuju. Maka malaikat rahmat mengambilnya."

Qatadah berkata bahwa Hasan berkata, "Dikatakan keapda kami bahwa ketika dia mati, dia miring dengan dadanya."
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya, 6/512, no.3470. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabut Taubah, bab diterimanya orang yang bertaubat (4/2118), no.2766. Hadis ini Syarah Shahih Muslim An-Nawawi,17/235.


Kisah ini membuka pintu harapan bagi setiap pendosa, seberapapun besar dosa dan kejahatannya. Kisah seorang laki-laki yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan. Rasulullah menyampaikan bahwa laki-laki ini membunuh seratus orang. Akan tetapi, dosa-dosa ini belum mencerabut seluruh benih dan cikal bakal kebaikan dalam dirinya. Masih tersisa di relung jiwanya secercah cahaya, setitik rasa takut kepada Tuhannya. Mungkin dia bertanya-tanya antara diri dan jiwanya, apakah hubungan dengan Tuhannya telah terputus sehingga tidak mungkin lagi dia kembali kepada-Nya, ataukah di sana masih terdapat harapan di manakah posisi dirinya dari Tuhannya jika dia kembali kepada-Nya?

Dia tidak mampu memberi jawaban untuk dirinya sendiri. Orang seperti dia, yang hanyut dalam dosa-dosa pasti tidaklah berilmu. Oleh karena itu, dia keluar dari rumah untuk mencari seorang alim yang bisa memberinya fatwa dan menjawab pertanyaannya. Dia menyadari bahwa persoalannya sangatlah besar. Hanya orang dengan ilmu besar yang bisa mengatasinya, sehingga dia tidak bertanya tentang orang alim, tetapi orang yang paling alim.

Orang yang ditanya pertama kali tidak mampu menunjukkan penduduk bumi teralim, dia hanya bisa menunjukkan seorang rahib. Para rahib banyak beribadah tetapi minim ilmu, dan orang awam bisa tertipu dengan orang-orang seperti itu. Mereka menyangka bahwa banyak ibadah berarti banyak ilmu, lalau mereka datang dan belajar kepada mereka serta meminta fatwa kepada mereka. Dan para rahib ini pun melakukan kesalahan; jika dia tertipu dengan datangnya orang-orang kepadanya, maka dia pun memberi fatwa tanpa ilmu. Semestinya mereka berterus terang dengan menjelaskan secara terbuka tentang keadaan diri mereka. Jika mereka memang tidak mengetahui, hendaknya berkata 'Allahu a'lam' dan mempersilahkan untuk bertanya kepada orang lain yang mempunyai ilmu.

Laki-laki ini mendatangi rahib itu. Rahib itu menyimak persoalannya. Dia merasa dosa orang ini sangat besar, dia mengira rahmat Allah tidak cukup untuk menaunginya. Dan orang seperti laki-laki ini, rahmat Allah tidak cukup untuk meliputinya. Sungguh anggapan ini adalah kebodohan.

Jika dugaan rahib ini benar, maka pelaku kejahatan akan semakin bertambah banyak. Seorang penjahat jika dia telah putus harapan dari rahmat Allah dan dia mengetahui bahwa jalan kembali kepada-Nya telah tertutup, maka hal ini akan semakin mendorongnya untuk lebih mendalam menyelami kejahatan dan kerusakan. Hal ini dibuktikan oleh laki-laki ini. Manakala dia mendengar bahwa pintu taubat telah tertutup dan bahwa rahmat Allah tidak menaunginya, dia pun bertambah nekat dan rahib itu menjadi pelengkap korban yang keseratus.

Sepertinya rahib ini di samping tidak berilmu, dia juga tidak mengetahui tabiat manusia. Jika dia mengetahuinya, niscaya dia tidak menjawab dengan segera. Semestinya dia mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk dirinya, seperti menghadirkan teman-temanya yang kuat di sekelilingnya atau menjawab di balik tembok biaranya. Karena, orang seperti laki-laki ini tidak lagi peduli, dia bisa membunuh hanya karena alasan yang sepele, membunuh dan mengalirkan darah sudah menjadi kebiasaannya.

Dia membunuh rahib itu. Dia tetap tidak puas dengan jawabannya. Harapan kepada Allah baginya sangatlah besar, dan orang yang memberinya fatwa adalah orang yang jahil tentang Allah. Dia memerlukan penegasan dan seseorang yang mengenalkannya secara benar. Sekali lagi dia mencari seorang alim yang kepadanya dia mengadukan masalahnya. Dia ditunjukkan kepada seorang alim tentang Allah. Dia memang benar-benar alim. Oleh karena itu, si alim ini berkata denga penuh keheranan kepada laki-laki tersebut, "Siapa yang menghalangi dirimu dari taubat?" Pertanyaan yang menyimpan pengingkaran dan keheranan. Ini menunjukkan bahwa ilmu tersebut adalah sesuatu yang tidak memerlukan banyak pemikiran, sudah ada di benaknya, dan tidak perlu bertanya. Sesungguhnya rahmat Allah itu luas, meliputi orang ini dan orang sepertinya. Sebesar dan sebanyak apa pun dosa itu, ia tetap ada harapan dari Allah.

Si alim ini tidak sekedar alim. Lebih dari itu, dia adalah seorang pendidik. Oleh karenanya, dia tidak sekedar menjawab bahwa pintu taubat masih terbuka lebar. Lebih dari itu, dia menunjukkan jalan yang harus dilaluinya.Orang yang tengelam dalam dosa-dosa harus merubah jalan hidupnya. Dia harus meninggalkan orang-orang sesat yang bergaul dengannya dan hidup bersama mereka. Dia harus meninggalkan apa apa yang ada pada dirinya selama ini. Dia harus pindah ke lingkungan yang baik dan mendukungya kepada kebaikan juga menjauhi kemungkaran.

Si alim itu memerintahkan laki-laki yang ingin taubat ini agar meninggalkan desanya, karena ia adalah desa yang buruk, lalu berhijrah ke tempat lain yang telah ditentukan untuknya di mana di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka, di sana dia bisa bergaul bersama mereka dan beribadah kepada Allah bersama mereka pula.
Laki-laki ini tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia pergi ke desa yang ditunjukkan oleh orang alim itu demi mencari lembaran baru. Kehidupan yang bersih, baik dan lurus, agar bisa mencuci jiwa yang kotor oleh dosa-dosa dan menghidupkannya dengan iman dan kebaikan.

Ketika laki-laki ini tiba di pertengahan jalan, ajalnya datang. Kematian menjemputnya. Karena kuatnya keinginannya kepda taubat, pada saat naza' terakhir dia memiringkan dadanya kea rah desa yang baik yang ditujunya. Dia mati dalam keadaan ingin kembali kepada Allah, pergi ke desa yang baik untuk beribadah kepad-Nya, meninggalkan seluruh hidupnya yang sarat dengan dosa dan kejahatan di belakangnya. Selanjutnya, bagaimana akhirnya? Tempat apa yang diraih di sisi Tuhannya?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan kepada kita bahwa malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Masing-masing ingin menangani urusanya dan mengurusinya. Mereka berkata,"Orang ini telah membuuh seratus nyawa." Sementara yang lainnya berkata,"Dia telah bertaubat dan kembali kepada Allah. Dia datang menghadap."

Maka Allah mengutus untuk mereka Malaikat dalam wujud seorang manusia dan memerintahkan mereka agar menegukur jarak antara kedua desanya, desa kerusakan dan kezhaliman dan desa orang-orang yang baik lagi terpilih, lalu Allah memerintahkan desa yang baik untuk mendekat dan desa yang berpenduduk zhalim agar menjauh, maka mereka mendapatinya lebih dekat satu jengkal kepada desa orang-orang baik.

Mungkin satu jengkal hasil dari usaha menyorongkan dadanya pada waktu dia dalam keadan naza', maka Malaikat rahmat mengurusinya dan dosa-dosanya yang besar diampuni,"Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS.Az-Zumar:53).

TOBATLAH !!

0 komentar:

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys