CEK ID FACEBOOK

Minggu, 30 Oktober 2011

ILMU KALAM (USHULUDIN) (ilmu tentang pokok/dasar i’tikad-akidah agama) Bagian 2

2.     Periode Imam Malik Bin Anas (91 H – 167 H)
Pada periode ini mulai muncul orang-orang yang menanyakan tentang ayat Al-Qur’an yang tasybih, yaitu perbuatan Allah yang mirip dengan perbuatan mahkluk.

Suatu hari ada orang yang menanyakan kepada Imam Malik : “Bagaimana Allah ber-Istiwa’ (bersemayam) diatas Arsy ?”

Imam Malik menjawab : “maksud istiwa’(bersemayam) telah kita ketahui, namun mengenai bagaimana caranya kita tidak mengetahuinya. Iman kepadanya adalah wajib dan menanyakan bagaimana caranya adalah bid’ah”.
Sikap Imam Malik yang mengimani ayat-ayat mutasyabih tanpa mau menakwilkannya itulah ciri “Aliran Salaf” pada saat itu.

3.     Periode Imam Ahmad bin Hanbal ( 164 H – 261 H)
Beliau salah satu darin empat imam mazhab fiqih yang muktabar (terkenal dan diakui). Ciri fiqihnya adalah mengutamakan hadits dan atsar daripada dengan qiyas. Imam Ahmad bin Hanbal lebih suka ber hujjah dengan hadits dhaif dari pada berijtihad dengan qiyas atau ihtihsan.
Pada masa itu Aliran Muktazilah sedang mencapai puncak kejayaannya, karena didukung penuh oleh Khalifah Al-Ma’mun dari Bani Abbas. Aliran Muktazilah yang didukung penguasa mengkampanyekan pemikiran bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.
Semua ulama dan rakyat dipaksa mengikuti pemikiran tersebut, semuanya tidak ada yang berani menentang kecuali Imam Ahmad bin Hanbal, yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah kalamullah”

4.     Periode Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384 H-456)
Beliau seorang ulama kelahiran Cordova Andalusia, mula-mula ber mazhab Maliki, kemudian berpindah ber mazhab Syafi’ii kemudian berpindah lagi ke mazhab zahiri, yaitu berpegang pada makna zahir ayat (literalis).
Pada periode sebelumnya muncul teologi Imam Abu Hasan Asy’ari (260 H-330 H), yang pada mulanya seorang pengikut Mu’tazilah yang kemudian menyatakan keluar dari Aliran Muktazilah.
Imam Abu Hasan Asy’ari (ber mazhab Syafi’i dalam fikih) merumuskan teologi yang ber pihak kepada pemikiran ulama salaf sebelumnya yaitu (Imam Malik dan Imam Hanbali) tapi dengan metode pembahasan yang menggunakan metode scholastik, ilmu mantiq (logika) kaum Mu’tazilah.
Imam Ibnu Hazm telah mempelajari filsafat Yunani, filsafat Islam, teologi muktazilah, teologi Hanbaliyah dan teologi Asy’ariyah. Imam Ibnu Hazm merumuskan teologi Hanbali-Literalis, yang lebih memegangi makna literalis nash dan tidak membolehkan memberi sifat kepada Allah.

Menurutnya Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dsb itu adalah “asma” bukan “sifat” karena memberi sifat kepada Allah dianggap menyerupakan Allah dengan makhluk. Ibnu Hazm mengakui mu’jizat yang ada pada diri Nabi dan Rasul, namun beliau menolak adanya karomah pada diri Wali atau orang-orang saleh.
 Sikap Literalis-Hanbalis inilah yang menjadi ciri “Aliran salaf” pada periode Imam Ibnu Hazm.
  
5.     Periode Kaum Hanbaliyin (469 H)
Teologi Asy’ariyah yang telah disebut sebelumnya, walaupun berpihak kepada Aliran Salaf tetapi masih tetap dicurigai dan tidak diterima oleh “ahlul hadits/ahlul atsar” dan orang-orang yang mengaku mengikuti teologi Imam Ahmad bin Hanbal
Dengan alasan teologi Asy’ariyah memberikan porsi yang besar kepada “akal” disamping itu krn Imam Asy’ari ber mazhab Syafi’i. Tampaknya pada masa itu fanatisme mazhab telah menjalar ke tubuh umat Islam.
Sejak masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil (205-247 H), banyak menteri yang diangkat dari kalangan Hanbaliyin, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Jadi lingkungan istana didominasi oleh ulama-ulama Hanbaliyin.
Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai pada masa pemerintahan Khalifah Al-Qaim Biamrillah (391-467 H). Salah seorang menterinya yang bernama ‘Amid al Mulk sampai-sampai mengeluarkan praturan-peraturan yang mendiskreditkan orang-orang penganut Asy’ariyah.
Setelah masa Khalifah Al-Mutawakkil, pengaruh orang-orang Turki mulai besar pada pemerintahan dan militer. Banyak orang Turki yang menduduki kursi menteri dan komandan tentara. Orang-orang turki sangat setia kepada pemimpin kaum mereka. Demikian besarnya Kekuasaan mereka, hingga mereka bisa dengan sesuka hati menunjuk dan mencopot Khalifah. Jadi mereka mengakui Khalifah sebagai Amirul Mukminin sekedar dijadikan simbol dan icon, kekuasaan secara militer yang sebenarnya ada ditangan para Sultan.
Pada masa pemerintahan Khalifah Al Qaim Billah yang menjadi Sultan adalah Alp Arselan (wafat 465 H) dari Turki Seljuk, beliau mempunyai seorang wazir (perdana menteri) yang sangat cakap bernama Nizamul Mulk (wafat 485 H).
Perdana Menteri Nizamul Mulk dengan dukungan Sultan Alp Arselan mendirikan Universitas NIZAMIYAH, pusat ilmu dan study Islam pada jaman itu. Yang  menjadi pemimpin (rektor) Universitas Nizamiyah adalah ulama besar Imam Al Juwainy, penganut Asy’ariyah dan bermazhab Syafi’i. Nizamul Mulk dengan Universitas Nizamiyahnya menjadikan Theologi Asy’ariyah sebagai theologi resmi dan menjadikan ajaran Asy’ariyah satu-satunya theologi yang diajarkan. Kebijaksanaan Pedana Menteri Nizamul Mulk yang lain adalah menghapuskan semua peraturan-peraturan yang mendiskreditkan orang-orang Asy’ariyah yang pernah diberlakukan  oleh menteri ‘Amid al Mulk.
Kebijaksanaan itu tentu saja tidak disukai oleh orang-orang Salafiah-Hanbaliyah. Pada tahun 469 H datang ke Universitas Nizamiyah seorang ulama bernama Abu Nashr bin Abu Qasim Al Qusyairi memberikan pengajian umum yang memberi penjelasan yang mendetail mengenai theologi Asy’ariah.
Hal itu menjadi pemicu kemarahan orang-orang Hanbaliyah, maka pada tahun 469 H terjadilah huru-hara dan keonaran besar di kota Baghdad, yang berupa tindakan anarkis orang-orang Hanbaliyin terhadap para pendukung teologi Asy’ariyah khususnya dan para penganut mazhab Imam Syafi’i pada umumnya.
Kaum Hanbaliyah merusak kedai yang dijumpai menjual khamr, mematahkan papan catur, menyerang rumah tokoh-tokoh Syafi’iyah dan perbuatan anarkis lainnya, tercatat sampai menimbulkan korban jiwa yang tentu saja dilawan oleh para pengikut Asy’ariyah-Syafi’iyah. Peristiwa huru-hara Kaum Hanbaliyyin di Kota Baghdad ini sangat terkenal dalam sejarah.
Tindakan keras dan agresif kaum Salafiah-Hanbaliyah inilah yang menjadi ciri “Aliran Salaf” pada abad IV Hijriah.

6.     Periode Ibnu Taimiyah (661 H – 728 H)
Seorang ulama besar abad 7 H, nama lengkapnya Ahmad Taqiyuddin bin Syihabuddin Ibnu Taimiyah. Kelahiran Haran Palestina, bermazhab Hanbali dalam fikih, menguasai hampir semua ilmu ke Islaman dan banyak mengarang kitab dalam berbagai bidang ilmu.
Beliau mengkritik gejala taqlid dan kemunduran ijtihad yang berjangkit pada umat, menyerukan agar umat kembali meneladani manhaj dan perilaku para generasi salafus-saleh. Beliau juga mengkritik pengaruh filasat Yunani, dalam pemikiran Islam, filsafat Persia dalam konsep Imamah Syiah, penakwilan ayat-ayat mutasyabih berdasarkan akal,  dan filsafat India dalam Tasawuf (ittihad, hulul).
Kritik dan Fatwa Ibnu Taimiyah yang keras, tajam dan vulgar tentunya membuat merah telinga ulama-ulama bahkan yang sama-sama ber mazhab Hanbali dan pihak lain yang tidak sependapat dengan fatwanya, termasuk para penguasa. Apalagi penguasa Bani Buwaihi dikenal mendukung tarekat-tarekat Tasawuf. Jadi banyak pihak  yang tersinggung dan tidak senang dengan ajaran-ajaran Ibnu Taimiyah yang disampaikan secara terbuka pada majelis-majelis pengajiannya.
. Dalam buku Rihlah Ibnu Batutah (catatan perjalanan Ibnu Batutah), salah satu sumber sejarah yang sangat terkenal dan telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, Inggris, Perancis dan Jerman, Ibnu Batutah telah melakukan perjalanan pengembaraan selama 29 tahun kebanyak negeri-negeri mulai dari Mesir, Syria, Palestina, Hijaz (Arab Saudi), Irak, Persia, Turki, Bukhara, Afghanistan, India, Bangladesh, Cina, Sumatera, Indonesia dan terus ke Afrika.
Catatan perjalanannya oleh sebagian besar ahli sejarah, dianggap cukup teliti dan dijadikan salah satu “sumber sejarah”.  Dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah diterangkan bahwa dia singgah di Damaskus Syiria dan kebetulan mendengarkan Ibnu Taimiyah memberikan pengajian di mimbar Masjid Umayyah, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Tuhan Allah itu duduk diatas Arsy dan dudukNya itu serupa dengan duduknya Ibnu Taimiyah diatas mimbar. Tuhan Allah itu turun tiap-tiap akhir malam kelangit dunia dan turunnya itu sepeti turunnya Ibnu Taimiyah dari atas mimbar ke bawah.
Mendengar uraian itu, pendengar jama’ah pengajian menjadi ribut, kacau balau, sehingga ada yang melempari Ibnu Taimiyah dengan sandalnya. Akhirnya perkataan Ibnu Taimiyah sampai kepada penguasa. Ibnu Batutah memberi komentar bahwa Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama besar tetapi “fi aqlihi syaiun” (pikirannya guncang), demikian keterangan Ibnu Batutah.
Namun keterangan tersebut masih perlu diteliti lagi, bisa jadi ada kesalah pahaman dalam menafsirkan ajaran Ibnu Taimiyah atau bisa jadi peristiwa kekacauan Majelis pengajian beliau sudah direkayasa lawan-lawan nya untuk memfitnahnya.
Ajaran dan fatwa-fatwanya yang dianggap terlalu keras, tidak sopan dan melawan arus menyebabkan banyak ulama dan penguasa Bani Buwaihi tersinggung dan tidak suka kepada beliau, disamping itu ajaran theologinya dianggap cenderung kepada  “anthropomorpist” akhirnya menyebabkan beliau ditangkap oleh pihak penguasa dan keluar masuk penjara, bahkan beliau meninggal dalam penjara. Pemakamannya diiringi oleh ratusan ribu orang yang menaruh simpati kepada beliau.
               Jadi seruan kembali kepada manhaj salafus-saleh, kritik yang keras kepada taqlid dan kemandekan ijtihad, penyimpangan akidah (ziarah dan berdoa di kuburan orang suci), superioritas akal dalam pemahaman agama, konsep imamah kaum Syiah dan  penyimpangan ajaran ittihad, hulul dalam tasawuf itulah ciri khas ajaran Ibnu Taimiyah.

7.     Periode Muhammad bin Abdul Wahab  (1115 H –1206 H)
Terkenal dengan gerakan Wahabi, yang didukung oleh Pangeran Muhammad bin Saud seorang war lord (kepala suku, komandan lapangan). Duet serasi ulama-penguasa ini mengantarkan keduanya menduduki tahta kerajaan Arab Saudi.
Muhammad bin Abdul Wahab dikenal sebagai ulama bermazhab Hanbali dan seorang penganut dan pendukung fanatik pemikiran Ibnu Taimiyah. Setelah berkuasa, mazhab Wahabi ini dijadikan mazhab resmi pemerintah kerajaan Arab Saudi sampai sekarang. Gerakan wahabi berciri khas pada pemurnian akidah, tauhid dan menempuh kekerasan.

Dari semua periode-periode yang telah diuraikan diatas sampai pada periode Muhammad  bin Abdul Wahab dan gerakan Wahabinya, kaum Salafiyin-Hanbaliyin kalau dapat dikatakan “berbeda” dan hanya keras dalam masalah akidah dan theologi saja, tidak sampai pada masalah fikih-amaliah, apalagi sampai pada masalah furu’iyah (cabang) yang khilafiah.  

8.     Periode Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Beliau seorang ulama ahli hadits abad 20 M, sangat dihormati di Kerajaan Arab Saudi. Beliau menyerukan agar umat mempelajari Al-Qur’an dan Hadits serta mencela kebiasaan taqlid, yaitu hanya mengikuti saja pendapat seorang imam tanpa mengetahui dalil dan argumennya.
Sepeninggal beliau timbul fenomena baru, yaitu ketika para pengikutnya mengikuti semua perkataan Syeikh Albani, sehingga yang terjadi bukannya bebas mazhab melainkan menjadikan beliau sebagai mazhab kelima disamping empat mazhab fikih yang sudah ada.

Fanatik pada ahli hadits inilah yang menjadi ciri “Aliran Salaf” periode Syeikh Albani.

9.     Periode Salafi Kotemporer
Pada masa kotemporer sekarang ini muncullah kelompok yang menamakan diri “salafi”. Kelompok inilah yang mewarisi dan meneruskan “Aliran Salaf” seperti yang telah diuraikan sebelumnya, tentunya dengan karakteristik yang sedikit banyak juga mewarisi “Aliran salaf” periode-periode sebelumnya dengan beberapa fenomena baru pula.
Salafi kotemporer tidak mempunyai institusi formal, sebab mereka lebih bersifat aliran pemikiran umum (aliran theologi sekaligus mazhab fiqih). Kadang terdiri atas beberapa kelompok yang masing-masing mengaku sebagai salafiyin, diantaranya :
a        Jama’ah Anshar As Sunnah di Mesir dan Sudan.
b        Jam’iyyah Ihya’ At-Turats (menghidupkan Qur’an & Hadits) di Kuwait.

Tapi ada juga yang tidak berupa organisasi, melainkan pengikut tokoh ulama salafiyin tertentu, seperti :
a.     Salafiyun Albaniyun, seperti telah disebut sebelumnya diatas (periode 8), yaitu para pengikut Syeikh Albani.
b.     Salafiyah Politik, adalah salafiyin yang terpengaruh pemikiran Ihwanul Muslimin dalam mengkritisi pemerintahan yang dianggap kurang berpihak pada ajaran Islam. 
Kelompok ini menentang kebijaksanaan Kerajaan Arab Saudi menempatkan tentara Amerika di Dahran, mengkritik dukungan Kerajaan Arab Saudi kepada Sekutu pada perang Teluk II.
  Tokoh-tokohnya diantaranya : Dr. Aidh Al Qarni, Salman Audah, Safat Al Hawali, mereka pernah ditangkap dan dipenjara oleh penguasa Kerajaan Arab Saudi.
Dr. Aidh Al Qarni setelah dibebaskan dari penjara, lebih banyak menulis buku tentang “personality empowerment”. Bukunya yang sedang Best Seller adalah “ La Tahzan”.
c.     Salafiyun Al-Jamiyun (Salafi beringas)
Tokohnya adalah Syeikh Rabi’ Al-Madkhali, kelompok ini tidak punya kreasi lain kecuali menyalahkan dan menyerang orang lain, termasuk ulama ulama yang tidak sehaluan dengan mereka.
Tidak ada figur yang selamat dari serangan kelompok ini, baik ulama klasik maupun modern. Termasuk Imam Ghazali, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Atsqolani hanya karena mereka penganut teologi asy’ariah.
Ulama kotemporer  pun tidak segan-segan diserang, seperti : Hasan Al Bana, Syeikh Muhammad Al-Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, Muhammad ‘Imarah, Fahmi Huwaidi, Ali Athj Thantawi, dll.
Kelompok Salafi Beringas juga menulis buku yang menyerang dan membeberkan kejelekan-kejelekan mereka, melemparkan tuduhan terhadap pemikiran dan tingkah-laku ulama-ulama yang diluar kalangan mereka.

Disamping itu ada juga kelompok salafiyin pengikut Syeikh Abdul Azis bin Baz dan Syeikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin.
Sudah menjadi opini umum bahwa salafi kotemporer  yang sekarang ini sedikit banyak mewarisi ciri  “Aliran salaf”  periode sebelumya, yaitu :
1.     Hanbalis-Literalis dalam fiqih.
2.     Keras dalam masalah akidah dan tauhid
3.     Agresif – tidak toleran.

Disamping itu,  pada Salafi kotemporer muncul fenomena ciri baru,  yang belum muncul pada periode sebelumnya, yaitu :
  1. Memperluas (extend) konsep bid’ah sampai pada masalah furu’iyah-khilafiah.
  2. Memperluas sikap keras-tidak toleran pada masalah furu’iyah-khilafiah.
  3. Meng-generalisir seluruh tasawuf adalah sesat. (Bandingkan dengan Ibnu Taimiyah yang hanya mengkritik konsep ittihad dan hulul dalam tasawuf).


XV.  Akidah Salafiah-Ahlus Sunnah wal Jama’ah

1.     Masalah ketuhanan :
a.     Tidak ada Tuhan selain Allah.
b.     Allah itu Esa tidak ada sekutu bagiNya.
c.     Allah itu “laisa kamislihi syaiun” tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya.
d.     Mengimani sifat-sifat Khabariah (yang dikhabarkan Allah tentang diriNya), yaitu :
1.  Wujud (Ada).
2.     Qidam (Maha Dahulu).
3.     Baqa (Kekal Abadi)
4.     Mukholafatul lil Hawaditsi (berbeda dengan semua makhluk yang baru).
5.     Qiyamuhu bi Nafsihi (berdiri sendiri).
6.     Wahdaniyah (Maha Esa)
7.     Qudrat (Maha Kuasa).
8.     Iradat (Maha Berkehendak).
9.     Ilmu (Maha Mengetahui)
10.       Hayat (Maha Hidup)
11.       Sama’ (Maha Mendengar)
12.       Bashar (Maha Melihat)
13.       Kalam (Maha Berfirman)
14.       Qodiron (Maha Berkuasa)
15.       Muridan
16.       Aliman
17.       Hayyan
18.       Sami’an
19.       Bashiran
20.       Mutakalliman

Disamping mengimani sifat-sifat Allah juga mengimani 99 Asmaul Husna (nama-nama baik yang juga menunjukkan sifat) bagi Allah, yaitu : Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Qudus, As Salam, Al Mukmin, Al Muhaimin, Al Azis, Al Jabbar, Al Mutakabir, Al Khaliq, Al Bari’, Al Musawwir, Al Ghofar, Al Qohar, Al Wahab, Al Fatah, Ar Rozaq, dst ada 99.

2.     Akidah Tauhid :
a.     Tauhid Rububiyah, meyakini bahwa Allah satu-satunya Rabb, pencipta seluruh alam semesta.
b.     Tauhid Uluhiyah, meyakini bahwa Allah satu-satunya Ilah, sesembahan yang boleh diibadahi.
c.     Tauhid Mulkiyah, meyakini bahwa Allah satu-satunya Mulk, penguasa, pengatur seluruh alam semesta, pemberi rejeki seluruh makhluk-Nya.

3.     Al-Qur’an
a.     Al-Qur’an merupakan Kalamullah (firman Allah) bukan makhluk.
b.     Meyakini semua ayat Al-Qur’an benar dari sisi Allah, tidak ada kesalahan, kebatilan dan pertentangan dalam semua ayat-ayatnya.
c.     Mengimani kitab suci sebelum Al-Qur’an pernah berlaku pada masanya masing-masing seperti : Injil nabi Isa, Zabur nabi Daud, Taurat nabi Musa, Suhuf-suhuf (lembaran suci) nabi Ibrahim.

4.     Rasul
a.     Mengimani 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Diluar 25 Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an ada Nabi dan Rasul yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.
b.     Mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir yang membawa syariat agama Islam yang telah sempurna untuk seluruh umat manusia dimuka bumi dan untuk golongan jin.
c.     Mengimani tidak ada Nabi dan Rasul baru yang menerima wahyu dan membawa syariat baru sesudah Nabi Muhammad SAW.
d.     Mengimani bahwa Nabi Muhammad SAW makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan).

4.     Malaikat
a.     Mengimani adanya para Malaikat yang selalu taat dan patuh kepada Allah :
1.     Malaikat Jibril, pemimpin para Malaikat yang menyampaikan wahyu kepada Nabi.
2.     Malaikat Mikail, pembagi rezeki, pengatur hujan, berhembusnya angin.
3.     Malaikat Isrofil, peniup sangkakala saat hari kiamat.
4.     Malaikat Izrail, pencabut nyawa.
5.     Malaikat Munkar, penanya dalam alam kubur.
6.     Malaikat Nakir, penanya dalam alam kubur.
7.     Malaikat Rokib, pencatat amal baik.
8.     Malaikat Atid, pencatatat amal buruk.
9.     Malaikat Ridwan, pemimpin penjaga surga.
10.       Malaikat Malik, pemimpin penjaga neraka.
11.       Malaikat Hafadah, mengiringi setiap manusia.
12.       Malaikat Zabaniah, petugas menjaga neraka.
13.       Malaikat Muqorrobin, pemikul Arsy
b.     Mengimani bahwa para malaikat selalu taat, patuh, beribadah, berdzikir dan memuji Allah.

5.     Mengimani adanya Iblis, syaiton dan Jin.

6.     Akhirat
a.     Mengimani adanya alam kubur.
b.     Mengimani adanya Masyar.
c.     Mengimani adanya Mizan (timbangan).
d.     Mengimani adanya hisab (perhitungan amal).
e.     Mengimani adanya Shirat (jembatan).
f.       Mengimani adanya telaga Kautsar.
g.     Mengimani adanya syafa’at Nabi Muhammad dan orang-orang yang diijinkan oleh Allah untuk memberi syafa’at.
h.     Mengimani adanya surga dan neraka.

7.     Iman
a.     Iman itu keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.
b.     Iman dapat bertambah karena ilmu dan amal saleh, iman juga dapat berkurang karena kelalaian dan dosa-kemaksiatan.

8.     Dosa besar
a.     Pelaku  dosa besar menjadi fasik.
b.     Pelaku dosa besar yang akidahnya masih sempurna, tidak keluar dari Islam.
c.     Dosa besar selain Syirik masih bisa  diampuni oleh Allah bila mau taubat dengan sungguh-sungguh.
d.     Pelaku dosa besar kelak akan masuk neraka sampai waktu tertentu sebagai hukuman atas dosa-dosanya kemudian akan dimasukkan kedalam surga.

9.     Takdir dan keadilan Allah
a.     Mengimani adanya takdir Allah pada induk kitab Lauhful Mahfudz.
b.     Manusia diberi kebebasan ber ikhtiar.
c.     Allah bersifat adil dalam memberi pahala-surga bagi mukmin yang taat dan memberi dosa-neraka bagi yang durhaka.

10.       Khilafah dan imamah
a.     Wajib adanya khilafah (pemerintahan)
b.     Tidak boleh memberontak selama Khalifah masih mendirikan shalat.
c.     Prinsip pemerintahan : Quraisy (memiliki keutamaan seperti orang Quraisy), baiat, syuro (musyawarah) dan keadilan.
d.     Rasulullah tidak mewasiatkan seseorang tertentu (Ali dan keturunannya) sebagai satu-satunya yang berhak atas kekhalifahan.

11.       Filsafat
a.     Dalam urusan akidah tidak boleh mengutamakan dominasi rasio (apalagi liberal seenaknya) dalam menafsirkan nash.
b.     Dalam urusan dunia (kedokteran, matematika, kimia, astronomi, dsb), hadits Nabi : “kamu lebih tahu urusan duniamu”.

12.       Sahabat Nabi
a.     Semua sahabat Nabi adalah adil, artinya diterima kesaksian dan periwayatan haditsnya.
b.     Generasi Islam terbaik adalah generasi sahabat Nabi, generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in.
c.     Tidak boleh mencaci, mencelah dan mengatakan tentang keburukan para sahabat Nabi.
d.     Sahabat Nabi yang terlibat pertikaian pada perang Jamal dan Shiffin, walaupun ada yang bersalah, namun mereka telah taubat dan jasa mereka terhadap Islam masih lebih besar dari kesalahannya.


e.     Sahabat Nabi yang utama adalah :
1.     Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali).
2.     Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
3.     Orang-orang Muhajirin dan Anshar yang paling dahulu masuk Islam.
4.     Para peserta perang Badar.
5.     Para peserta Baiat dibawah pohon (Baitur Ridwan).
6.     Para veteran perang-perang lain dimasa Nabi.

13.       Nash-nash Tasybih dan Tajsim.
a.     Tasybih, yaitu nash yang mengabarkan penyerupaan Allah dengan makhluk, seperti :
1.     “Tuhan yang Rahman bersemayam diatas Arsy.” (Q Thaha : 5)
2.     “Dan datanglah Tuhanmu, sedang para Malaikat berbaris-baris” (QS Al Fajr : 22).
3.     “Dan Dia (Allah) bersama kamu dimana saja kamu berada.” (QS AL-Hadid : 4)
4.     “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaaf : 16)
5.     “Bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar (musuh) tetapi Allah lah yang melempar (mereka)” (QS Al-Hadid : 22).
6.     Hadits Riwayat Bukhari :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda : “Tuhan kita, tiap-tiap malam turun kelangit dunia pada ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berkata : ‘Siapakah yang akan berdo’a maka Aku kabulkan, siapakah yang meminta maka akan Aku beri, siapakah yang mohon ampunan, maka Aku ampuni.”

b.     Tajsim, yaitu nash yang mengkhabarkan “anggota tubuh Allah”
1.     “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah, tangan Allah diatas tangan mereka.”  (QS Al-Fath : 10)
2.     “Hai Iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku(QS Ash Shaf : 7).
3.     “Dan Langit kami bangun dengan tangan Kami.” (QS Az Zariat : 47)
4.     “Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS Az Zumar : 67).
5.     Hadits Riwayat Muslim :
 “Bahwasanya hati anak Adam seluruhnya terletak diantara dua anak jari Tuhan yang Rahman.”
6.     “Dan buatlah perahu dengan mata Kami dan wahyu kami.” (QS Hud : 37).
7.     “Aduhai, sesalanku atas kelalaianku dalam mengurus sisi rusuk Tuhanku.” (QS Az Zumar : 56)
8.     “Segala yang didunia akan lenyap binasa, dan yang akan kekal hanyalah wajah Tuhanmu.” (QS Ar Rahman : 26)
9.     “Kemana saja kamu menghadap disitulah wajah Allah.” (Al Baqarah : 115)
10.       “Allah cahaya langit dan bumi” (QS An Nur : 35).
11.       Hadits riwayat Muslim:
“Tuhan menjadikan Adam atas rupa (citra) Nya.”

12.       Hadits riwayat Bukhari dan Muslim :
“Kepada neraka jahanam selalu dilemparkan sesuatu, dan ia selalu bertanya : ‘Adakah tambahannya ?’ sampai tuhan meletakkan tumit-Nya dalam neraka jahanam itu, sehingga berhimpit isi neraka itu yang satu dengan yang lainnya, lalu jahanam berkata : ‘Cukuplah, cukup’.”

Terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits yang mengkhabarkan  tasybih, tajsim, sifat-sifat Allah, maka yang demikian itu termasuk ayat-ayat mutasyabih maka kita wajib mengimani semua ayat-ayat mutasyabih tersebut berasal dari sisi Allah. Tidak ada yang tahu ta’wilnya kecuali Allah, dan kita tidak diwajibkan mengetahui ta’wilnya, maka tidak perlu menanyakan, atau membahasnya secara mendetail berdasarkan akal pikiran.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.  (QS Asy Syura : 11).

“Dialah yang telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu, diantaranya ada ayat-ayat muhkam yang merupakan induk (agama) dan lainnya mutasyabih. Adapun orang-orang yang dalam harinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. (QS Ali Imran : 7).

J J J




Reference :
1.     Al Milal Wa An Nihal, author : Imam Syarastani, publisher :Mizan
2.     Tarikh Khulafa’, author : Jallaludin As Suyuthi, publisher : Pustaka Al Kautsar.
3.     Pengantar Ilmu Kalam, author : Drs. H. Sahilun A. Nasir, publisher : Rajawali Press.
4.     Pemikiran Kalam dalam Islam, author Drs. H. M. Laily Mansyur, LPH. Publisher : Pustaka Firdaus in associated with LSIK Jakarta.
5.     40 Masalah Agama Islam, author : KH. Siradjudin Abbas, bab V. Masalah Salaf dan Khalaf.
6.     51 Ijma’ Serat-Serat Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Tahqiq kitab Risalah Ahli Ats Tsaghri, karya Imam Abu Hasan Al Asy’ari), Author : Hammad bin Muhammad Al Anshari, publisher : Pustaka Azzam.
7.     Filsafat dan Mistisme dalam Islam, author : Harun Nasution, publisher : Bulan Bintang.
8.     Kebangkitan Gerakan Islam, autor : Dr. Yusuf Qaradhawy, publisher : Pustaka Al Kautsar.

0 komentar:

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys