CEK ID FACEBOOK

Rabu, 22 Agustus 2012

FAKTA SEJARAH WAHABI



Penulis. Von Edison Alouisci

Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad  ibn  'Abdul  Wahab.  Ayahnya,  'Abdul  Wahab  adalah  hakim (qâdlî) 'Uyaynah pengikut madzhab Ahmad ibn Hanbal. Ibn 'Abdul Wahab lahir pada tahun 1703/1115 di 'Uyaynah, termasuk daerah Najd. Dibanding­ kan dengan Yaman dan Syria, Nabi pernah mengungkapkan bahwa tidak akan muncul apa pun dari Najd selain goncangan fitnah dan setan. Mungkin saja pernyata­an Nabi ini tidak terkait dengan Wahabi, tapi jelas bahwa daerah ini merupakan  salah satu  daerah yang  paling akhir menerima  Islam dan kampung Musailamah al­Kadzdzab. Dimasa kecil Muhammad bin Abdul Wahabi dikenal bermazhab Hanbali namun pada akhirnya pemahaman agama jutru menyimpang dari Madzab Hambali. Ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan atas penyimpangan itu. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya.

Ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, menuliskan sebagai berikut:

“Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

Ternyata firasat itu benar. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama’ besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:  “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)      

Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).
“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).
Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:
مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).
“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).
Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:
عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).
“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang.

Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab.

 Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.”
(Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275)
Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah at Tamimi al Najdi, mereka melakukan dosa besar yakni membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala yakni kaum Zionis Yahudi
                   
                                                              
                                                                                                    

Pada tahun 1143 H. mulailah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan pemikiran
barunya, namun ayah dan guru-gurunya segera menghadang dan menegurnya.
Sayangnya, pendirian Muhammab bin Abdul Wahhab terlanjur membatu sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 1153 H. Selanjutnya Muhammad bin Abdul Wahhab memperbaharui metode dakwahnya sehingga mulai diikuti banyak orang awam. Namun mayoritas penduduk kota risih dan hendak membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri. Ibn 'Abdul Wahab kembali ke 'Uyaynah dan mendapat dukungan dari 'Utsman ibn Mu'ammar,  penguasa  setempat. 

Hal  ini  telah  memberinya  keleluasaan dan kekuatan untuk tidak hanya menggunakan kata­kata terhadap  siapa  pun  yang  dipandangnya  menyimpang  dari  ajaran Islam (harus ditekankan bahwa, sebenarnya menyimpang dari pemahaman  Ibn  'Abdul  Wahab  atas  ajaran  Islam).  Ibn  Mu'ammar menyediakan sekitar 600 orang pasukan untuk mengawal Ibn 'Abdul Wahab dan para pengikutnya dalam melakukan aksi­aksinya(penyebaran paham dan otoriternya) Ibn  'Abdul  Wahab  memperkuat  dukungan  ini dengan  menikahi al­Jauhara, bibi penguasa 'Uyaynah tersebut.Penduduk Uyainah  muak dengannya lalu mengusirnya dari perut kota.

Si Muhammad belum menyerah juga, ia hijrah lagi ke Dir'iyah (sebelah timur kota Najd) dimana kawasan Dir'iyah dan sekitarnya dulu merupakan pusat dakwah Musailamah al-Kadzab yang melahirkan golongan-golongan murtad. Di tengah-tengah kawasan itu jualah Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan virus-virusnya dan diikuti pula oleh amir setempat serta mayoritas rakyatnya. Saat itu Muhammad bin Abdul Wahhab bertindak seolah ia satu-satunya mujtahid mutlak. Ia tidak bersandar sedikitpun pada ajaran ajaran para pendahulu, baik imam-imam mujtahid, ulama-ulama salaf maupun ilmuan ilmuan kontemporer. Disamping itu juga ia tidak memiliki hubungan apapun dengan para mujtahid yang ada.                                      
                                                                                
                                                                          
Syeikh Abd al-Muta
l al-Saidi dalam bukunya “al- Mujaddidun fi al-Islam” Menjelaskan bahwa keberhasilan Syeikh Muhamad bin Abdul Wahab menyebarkan pemahamannya di Najd karena dia  muncul dan menyebarkan pemahamannya  pada masyarakat badwi yang pendek pemikiran dan mudah menerima pemahaman baru disamping  memang ada dukungan dari pemerintahan setempat.

Sungguh banyak karya para ulama seputar kesesatan Muhammad bin Abdul Wahhab dan ajaran-ajarannya. Antara lain kitab "al-Wahhabiyyun wal Buyut al-Marfu'ah" karya Syeikh Muhammad Ali al-Kardistani, "al-Wahhabiyah wa al-Tauhid" karya Syeikh Ali al-Kaurani,"al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyah" karya Syeikh Sha'ib Abdul Hamid, "al-Durar al-Saniyah fi al-Raddi ala al-Wahhabiyah" karya Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan, "Kasyf al-Irtiyab fi Atba' Muhammad bin Abdil Wahhab" karya Syeikh Muhsin al-Amin, "Hadzihi Hiya al-Wahhabiyah" karya Syeikh Muhammad Jawwad, dan masih banyak lagi kitab-kitab terpercaya lainnya.

                                           
                                                    Mufti Mesir, Syeikh Ali Jum'ah al-Syafi'i dalam sebuah fatwanya menegaskan, kelompok wahabi gemar menipu umat dan menyembunyikan kebenaran demi kepentingan politik.Kelompok wahabi sangat anti kepada hadits-hadits dha'if namun di waktu yang sama mereka mendha'ifkan bahkan memaudhu'kan semua hadits yang tak sehaluan dengan pemikiran-pemikiran mereka. Syeikh Ali Jum'ah amat menyayangkan kelompok wahabi yang mengharamkan dzikir berjamaah, dzikir berdiri, dzikir isim mufrad, memuji Rasul,shalat di masjid yang ada maqamnya, bersumpah demi Rasul, menggunakan tasbeh, dan masih banyak lagi korban pengharaman orang-orang bodoh seperti mereka. Mungkin yang halal bagi mereka hanyalah darah orang-orang yang tak sependapat dengan mereka..!!

 Habib Ali al-Jufri, ulama negeri Yaman yang sangat mengenal kelompok wahabi  mengatakan” wahabi jelas-jelas membenci Rasulullah Saw. Dan mengkafirkan kedua orangtua Rasul serta paman beliau, Saidina Abu Thalib, seolah-olah mereka telah duduk santai di surga lalu menengok siapa saja penghuni neraka. Menurut Habib Ali al-Jufri, misi wahabi tiada lain menjauhkan hati umat dari cinta Rasul Saw. sebab musuh-musuh Islam tak mampu melakukannya secara terang-terangan. Pembaca dapat membuktikan dengan mudah kebencian wahabi terhadap Rasulullah Saw. Dan agama Islam. Selain mengkafirkan orangtua Rasul, mereka juga merendahkan martabat Ahlul Bait, menyalahkan sahabat, mengharamkan tabarruk, maulid, tawassul, pujian kepada Rasul, lalu memusnahkan jejak-jejak Rasul, membatasi dan menghalangi ziarah maqam Rasul, mendha'ifkan atau memaudhu'kan banyak hadits shahih, dan seterusnya”.

Aksi otoriter pertama Wahabi ketika itu adalah menghancurkan makam Zaid ibn al­Khaththab, sahabat Nabi dan saudara kandung 'Umar ibn al­Khaththab. Sebelum itu, aksi­aksi pemurtadan dan  pengkafiran  pun  dilancarkan,  sebagai  pembuka  aksi­aksi  kekerasan yang akan dilakukan. Namun patronase ini tidak berlangsung  lama  karena  kepala  suku  daerah  tersebut  mencium  bahaya laten dalam gerakan Wahabi. Atas desakan inilah, Ibn 'Abdul Wahab meninggalkan 'Uyaynah, pindah ke Dir'iyah dan menemukan sekutu baru, Muhammad ibn Sa'ud, yang terbukti menjadi sekutu permanen. Aliansi baru ini kelak melahirkan Kerajaan Saudi­Wahabi modern.dalam sejarahnya
Kerajaan dinasti Saudi ini didirikan atas kolaborasi antara penguasa Muhammad bin Sa’ud dan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.


                                                 
                                                                                   
Berikut kutipan perkenalan dari kedutaan besar Saudi Arabia,
“In the 18th century, a religious scholar of the central Najd, Muhammad bin Abdul Wahhab, joined forces with Muhammad bin Saud, the ruler of the town of Diriyah, to bring the Najd and the rest of Arabia back to the original and undefiled form of Islam”. Dokument Saud embassy
“ Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya

Berkaitan dengan hal ini Muhammad ibn Sa'ud  tidak menyia­nyiakan kesempatan sangat berharga untuk memberi dukungan kepada  Ibn  'Abdul  Wahab  demi  meraih  kepentingan  politiknya. Dia  minta  jaminan  Ibn  'Abdul  Wahab  untuk  tidak  mengganggu  kebiasaannya  mengumpulkan  upeti  tahunan  dari  penduduk Dir'iyah.  Ibn  'Abdul  Wahab  meyakinkannya  bahwa  jihâd  ke  depan akan memberinya keuntungan yang lebih besar daripada upeti yang dia impikan. Maka, panggung pemurtadan, pengkafiran, dan aksi­aksi  kekerasan  yang  akan  dilakukan  ke  seluruh  jazirah  Arab pun dibangun di atas aliansi permanen ini.




 Mufti Mazhab Syafi‘iyy, Ahmad bin Zaini Dahlan (1304H) yang merupakan tokoh ulama Makkah pada zaman Sultan ‘Abd al-Hamid menyatakan dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah Fi al-Radd ‘Ala al-Wahhabiyyah (
ةيباهولا ىلع درلا يف ةينسلا رردلا ), hlm 42:“Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat Islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab berkata:

 Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik.”

Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih Anak-Anak kecil di pangkuan ibunya ketika mereka baru saja memasuki Kota Ta’if. Lihat kitab Umara’ al-Balad al-Haram ( دلبلا ءارمأمارحلا ), hlm 297 – 298, cetakan al-Dar al-Muttahidah Li al-Nasyr..                                

                                                                                      
 Pada  tahun  1746/1159,  Wahabi bekerja sama dengan Sa'ud  secara  resmi  memproklamasikan  jihâd  terhadap  siapa  pun  yang  mempunyai  pemhaman tauhîd berbeda dari mereka. Kampanye ini diawali dengan tuduhan  syirk  (polytheist),  murtad,  dan  kafir.  Setiap  Muslim  yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis  seperti  Wahabi  dianggap  murtad,  karenanya  perang  dibolehkan,  atau  bahkan  diwajibkan,  terhadap  mereka.  Razia,  penggerebekan dan perampokan terhadap mereka pun dilakukan. Dengan demikian,  predikat  Muslim  —menurut  Wahabi—  hanya  merujuk secara eksklusif kepada para pengikut Wahabi, seperti digunakan dalam buku 'Unwân al-Majd fî Târîkh al-Najd, salah satu buku sejarah resmi Wahabi.  Sekitar lima belas tahun setelah proklamasi jihad ini, Wahabi sudah menguasai sebagian besar jazirah Arab, termasuk Najd, Arabia tengah, 'Asir, dan Yaman. Muhammad ibn Sa'ud yang mening gal pada tahun 1766/1180 digantikan oleh 'Abdul 'Aziz, yang pada 1773/1187 merebut Riyadh, dan sekitar tujuh belas tahun kemudian mulai berusaha merebut Hijaz.

Muhammad ibn 'Abdul Wahab wafat tahun 1791/1206, sesaat setelah perang melawan para penguasa Hijaz dimulai. seorang ulama’ mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: “Ba daa halaakul khobiits” (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji)

Kurang dari satu dekade, ajaran Wahabi sudah dipaksakan dengan senjata kepada penduduk Haramain (Makkah dan Madinah), walaupun hanya sesaat, pemaksaan ini mempunyai pengaruh yang luar biasa tidak hanya di Hijaz, tetapi juga di dunia Islam lainnya, termasuk Nusantara.                               

                                                                          

Wafatnya Muhammmad bin Abdul wahab tahun 1791/1206  ternyata   tidak mengubah prinsip prinsip akidah ala wahabi yakni “ memurnikan Ajaran Islam” yang notabene-nya adalah tindakan ekstrim,kasar dan tidak bermoral.  ini tetap dijalankan Suad dan para  pengikutnya setia Muhammad bin Abdul wahab yang otaknya sudah tercuci.mereka tetap membunuh dgn alasan agama dimana urusan` Kafiir’ sebagai pedoman.ujung ujungnya mereka lalai dalam ukhuwah,lalai dalam kasih sayang sesama muslim padahal hal itu juga hukum Islam

Tahun  1802/1217  Wahabi  menyerang  Karbala,  membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk wanita dan anak­anak. Wahabi juga menghancurkan  kubah  makam  Husein  serta  menjarah  berlian,  permata,dan  kekayaan  apa  pun  yang  mereka  temukan  di  makam  tersebut. Pada 1803/1217 Wahabi kembali menyerang Hijaz, dan Ta'if adalah kota pertama yang mereka serbu. Pada 1805/1220 mereka merebut Madinah dan 1806/1220 merebut Makkah untuk kedua kalinya.  Seperti  biasa,  Wahabi  memaksa  para  ulama  menyatakan sumpah setia dengan todongan senjata.

Meraka merusak kiswah, kain penutup Ka`bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma`la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.

  Wahabi juga menduduki  Haramain.  ini  berlangsung  sekitar  enam  setengah  tahun.  Periode  kekejaman  ini  ditandai  dengan  pembantaian dan pemaksaan ajaran Wahabi kepada penduduk Haramain, penghancuran bangunan­bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku­buku selain al­Qur'an dan hadits, larangan merayakan Maulid Nabi, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa hadits mau'izhah hasanah sebelum khotbah Jum'at, larangan memiliki rokok dan mengisapnya, bahkan sempat mengharamkan kopi.

    Semua  kekejaman  Wahabi  ini  berakhir  ketika  Muhammad 'Ali Pasha, Gubernur Mesir, atas perintah Sultan 'Utsmani berhasil membebaskan Haramain. Pada tahun 1811/1226 Muhammad 'Ali Pasha mendarat di pelabuhan Yanbu', pesisir Laut Merah, dan pada akhiri tahun berikutnya dia berhasil membebaskan Madinah dan  membebaskan  Makkah  tiga  bulan  kemudian. 

Wahabi  mundur ke Najd dan menyatukan semua kekuatannya di sana, namun Muhammad 'Ali Pasha terus mengejar mereka dan berhasil merebut Dir'iyah, ibu kota Wahabi ketika itu, pada tahun 1819/1234.

Sayangnya,  kemenangan  Sultan  'Utsmani  ini  hanya  membuat Wahabi terkubur untuk beberapa tahun. Pada tahun 1832/1248,Wahabi bangkit lagi dari kuburnya dan memulai ekspedisi militer terhadap 'Uman dan memaksa Sultan Muscat membayar upeti ke pada Riyadh. Wahabi sadar bahwa Makkah dan Madinah bukan hanya pusat gravitasi religius, tetapi juga sumber keuntungan ekonomi yang tidak akan pernah berakhir. Karena itu, setelah berhasil menguasai daerah sekitarnya, Wahabi terus berusaha merebut kedua kota suci tersebut, dan baru pada tahun 1925 berhasil kembali merebut Makkah dan Madinah, dan kali ini didukung "perjanjian pertemanan dan kerjasama" yang ditandatangani penguasa Wahabi­Saudi ketika itu dengan pihak Inggris. (lihat uraian selanjutnya Saud keturunan Yahudi)
                                                                                                  
                                                                                                                                                                     
Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-18. (Al-Ja'bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang dianggapnya bid'ah dan khurafat. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn Ats-Tsani 'Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Kaifa Hudimat Al-Khilafah hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.(nanti kita lihat peyimpangan atas pelecahan terhadap  madzab hambali Oleh Muhammad bin Abd wahab pada uraianku selanjutnya.pen)                                                              
                                            
Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Berbicara menganai kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah  terutama hal. 13-20 aku  mencoba dengan sedikit menganalisa kembali upaya gerakan Wahabi  dengan Saud yang mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah  seperti yang telah dijelaskkan diatas. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.
Jika kita perhatikan,Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing --seperti nasionalisme dan demokrasi-- yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas'alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).
Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).
                                                 
                                             
Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).
Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).
Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As'ad dalam kitabnya As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.

                     


Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As'ad mengatakan,"Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913." (Abu Al-As'ad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).
Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir'iyyah, sehingga sering disebut "Baiah Dir'iyyah" (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi'i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).
Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).
Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).

                       
Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi --mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi-- menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-Syuwai'ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj 'Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).
Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.
Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?                                                            
                               
Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS Al-Maaidah : 8).Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l'histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). end
Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi`i yang sudah mapan.Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma?la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

         
Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.  Dalam sebuah pembicaraan dg Router, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters.


Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis,Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.
Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Terlepas dari persoaln diatas sesungguhnya Kaum Wahhabi tanpa sadar menjadi korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Mereka tidak penyadari jika apa yang mereka perbuat adalah sebagian dari rencana kelompok lain yang megetahui latar belakang tegaknya sekte Wahabi. salah satu pelaku penghasut Wahabi diantaranya adalah Letnan Kolonel Thomas Edward Lawrence, CB, DSO (16 Agustus 1888  - 19 Mei 1935), yang dikenal profesional sebagai TELawrence, adalah seorang perwira Angkatan Darat Inggris terkenal terutama untuk peran penghubung selama Revolusi Arab melawan kekuasaan Ottoman Turki tahun 1916 - 18. Luasnya luar biasa dan berbagai kegiatan dan asosiasi, dan kemampuannya untuk menggambarkan mereka jelas secara tertulis, yang dia ketenaraninternasional sebagai Lawrence of Arabia, judul dipopulerkan oleh film 1962 berdasarkan hidupnya.
Lawrence citra publik adalah karena sebagian reportase sensasional Amerika jurnalis Lowell Thomas ’pemberontakan serta untuk otobiografi account Tujuh Lawrence Pilar Kebijaksanaan(1922)


Laurens sosok provokator Ulama ulama Islam masa itu.ia menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.

Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.
Mereka yang terhasut lebih memilih mengikuti pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salaf yang Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang Sholeh.
Mereka meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak). Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salaf yang sholeh. Imam Mazhab yang empat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata, jalan atau cara (manhaj) beribadah  dari Salaf yang sholeh dan membukukannya dalam kitab-kitab mereka.


Sekilas sejarah hidup Lawrence.
Lawrence lahir di Gorphwysfa di Tremadog, Caernarfonshire (sekarang Gwynedd), Wales. Ayahnya Anglo-Irlandia, Thomas Robert Tighe Chapman, yang pada tahun 1914 mewarisi gelar Baronet ketujuh Westmeath di Irlandia, telah meninggalkan istrinya Edith untuk putrinya ‘pengasuh Sarah Junner (lahir di luar nikah untuk seorang ayah bernama Lawrence, dan yang telah ditata dirinya ‘Miss Lawrence’ dalam rumah tangga Chapman).  Pasangan tidak menikah tapi dikenal sebagai Bapak dan Ibu Lawrence.
Thomas Chapman dan Sarah Junner memiliki lima anak lahir di luar nikah, di antaranya Thomas Edward adalah anak tertua kedua. Dari Wales keluarganya pindah ke Kirkudbright di Skotlandia, maka Dinard di Brittany, kemudian ke Jersey. Dari 1894-96 keluarga tinggal di Langley Lodge (sekarang dibongkar), ditetapkan dalam hutan pribadi antara perbatasan timur Hutan Baru dan Southampton Air di Hampshire. Mr Lawrence berlayar dan mengambil anak-anak untuk menonton balap kapal pesiar di lepas pantai Solent Lepe. Pada saat mereka kiri, Ned delapan tahun (sebagai Thomas menjadi dikenal) telah mengembangkan rasa untuk pedesaan dan kegiatan di luar ruangan.
Pada musim panas tahun 1896 yang Lawrences pindah ke 2 Polstead Road (sekarang ditandai dengan sebuah plakat biru) di Oxford, di mana, sampai tahun 1921, mereka hidup di bawah nama Bapak dan Ibu Lawrence. Ned menghadiri Kota Oxford High School for Boys, dimana salah satu dari empat rumah kemudian bernama “Lawrence” untuk menghormatinya,. Sekolah ditutup pada tahun 1966  Sebagai anak sekolah, salah satu hiburan favoritnya adalah siklus ke negara gereja dan membuat rubbings kuningan. Lawrence dan salah satu saudara-saudaranya menjadi menugaskan petugas di Gereja Lads ‘Brigade di St Aldate Gereja.

Lawrence menyatakan bahwa pada sekitar 1905, ia lari dari rumah dan melayani selama beberapa minggu sebagai seorang prajurit anak dengan Royal Garrison Artileri di St Mawes Castle di Cornwall, dari mana ia dibeli. Tidak ada bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam catatan tentara.
Dari 1907 Lawrence pendidikan di Yesus College, Oxford.Selama musim panas tahun 1907 dan 1908, ia berkunjung ke Perancis dengan sepeda, pengumpulan foto, gambar dan pengukuran istana yang berasal dari periode abad pertengahan.Pada musim panas 1909, ia berangkat sendirian di tur berjalan tiga bulan benteng tentara salib di Suriah Ottoman, di mana ia pergi 1.000 mi (1.600 km) dengan berjalan kaki. Lawrence lulus dengan First Class Honours setelah mengirimkan tesis berjudul Pengaruh Perang Salib di Eropa Militer Arsitektur – sampai akhir abad ke-12 berdasarkan penelitian lapangan sendiri di Perancis, terutama di Châlus, dan Timur Tengah.
Pada menyelesaikan gelar pada tahun 1910, Lawrence dimulai pascasarjana penelitian dalam tembikar abad pertengahan dengan Demy Senior di Magdalen College, Oxford, yang ditinggalkan setelah ia ditawari kesempatan untuk menjadi seorang arkeolog berlatih di Timur Tengah. Lawrence adalah seorang poliglot yang bisa berbicara bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Latin, Yunani, Arab, Turki dan Syria. [Rujukan?] Pada bulan Desember 1910 ia berlayar ke Beirut, dan pada saat kedatangan pergi ke Jbail (Byblos), dimana dia belajar bahasa Arab. Ia kemudian pergi bekerja pada penggalian di Karkemis, Jerablus dekat di Suriah utara, di mana ia bekerja di bawah Ditjen Hogarth dan R. Campbell-Thompson dari British Museum. Dia kemudian akan menyatakan bahwa segala sesuatu yang telah dilakukannya, dia berhutang untuk Hogarth Sebagai situs yang penting terletak di dekat persimpangan pada kereta api Baghdad,. Pengetahuan berkumpul ada yang sangat penting untuk intelijen militer. Sementara penggalian situs Mesopotamia kuno, Lawrence bertemu Gertrude Bell, yang adalah untuk mempengaruhi dia selama waktunya di Timur Tengah.
Pada akhir 1911, Lawrence kembali ke Inggris untuk persinggahan singkat. Pada November ia sedang dalam perjalanan ke Beirut untuk musim kedua di Karkemis, di mana ia bekerja dengan Leonard Woolley. Sebelum melanjutkan bekerja di sana, bagaimanapun, dia sebentar bekerja dengan Flinders Petrie di Kafr Ammar di Mesir.
Lawrence melanjutkan perjalanan membuat ke Timur Tengah sebagai arkeolog lapangan hingga pecahnya Perang Dunia I. Pada Januari 1914, Woolley dan Lawrence dikooptasi oleh militer Inggris sebagai tabir asap arkeologi untuk survei militer Inggris dari Gurun Negev. Mereka didanai oleh Dana Eksplorasi Palestina untuk mencari daerah sebagaimana dimaksud dalam Alkitab sebagai “padang gurun Zin”; sepanjang jalan, mereka melakukan survei arkeologi dari Gurun Negev. Tanah Negeb adalah kepentingan strategis, karena akan harus dilewati oleh setiap tentara Ottoman menyerang Mesir pada saat terjadi perang. Woolley dan Lawrence kemudian menerbitkan sebuah laporan temuan arkeologi ekspedisi itu,  tetapi hasil yang lebih penting adalah pemetaan diperbarui daerah, dengan perhatian khusus untuk fitur relevansi militer seperti sumber air. Lawrence juga mengunjungi Aqaba dan Petra.
Maret sampai dengan Mei 1914, Lawrence bekerja lagi di Karkemis. Setelah pecahnya permusuhan pada bulan Agustus 1914, atas saran SF Newcombe, Lawrence tidak segera mendaftar di Angkatan Darat Inggris, ia menahan diri sampai Oktober, ketika dia ditugaskan dalam Daftar Umum.
Pada pecahnya Perang Dunia I Lawrence sebuah universitas pasca-sarjana peneliti yang sudah bertahun-tahun melakukan perjalanan secara ekstensif dalam provinsi Kekaisaran Ottoman dari Levant (Transjordan dan Palestina) dan Mesopotamia (Suriah dan Irak) di bawah namanya sendiri. Dengan demikian ia menjadi dikenal otoritas Kementerian Dalam Negeri Turki dan Jerman mereka penasihat teknis. Lawrence datang ke dalam kontak dengan penasehat teknis Ottoman-Jerman, perjalanan selama-Jerman dirancang, dibangun, dan didanai kereta api selama-nya penelitian.
Bahkan jika Lawrence tidak sukarela, Inggris mungkin akan merekrutnya untuk pengetahuan tangan pertama tentang Syria, Levant, dan Mesopotamia. Dia akhirnya diposting ke Kairo pada Staf Intelijen GOC Timur Tengah.
Bertentangan dengan mitos kemudian, itu tidak Lawrence maupun Angkatan Darat, yang dikandung kampanye pemberontakan internal terhadap Kekaisaran Ottoman di Timur Tengah, melainkan Biro Arab Kantor Luar Negeri Inggris. Biro Arab telah lama merasa kemungkinan bahwa kampanye dihasut dan dibiayai oleh kekuatan luar, yang mendukung suku-suku yang memisahkan diri-minded dan penantang daerah untuk memerintah terpusat pemerintah Turki kerajaan mereka, akan membayar dividen besar dalam pengalihan usaha yang akan diperlukan untuk memenuhi tantangan seperti itu. Biro Arab telah mengakui nilai strategis dari apa yang hari ini disebut “asimetri” konflik tersebut. Pihak berwenang Utsmani harus mencurahkan dari seratus ribu kali ke sumber daya untuk mengandung ancaman seperti pemberontakan internal dibandingkan dengan biaya Sekutu ‘dari mensponsori itu.
Pada titik dalam pemikiran Kantor Luar Negeri mereka tidak mempertimbangkan kawasan ini sebagai wilayah calon untuk dipasang di Kerajaan Inggris, tapi hanya sebagai perpanjangan dari berbagai pengaruh Imperial Inggris, dan melemahkan dan perusakan sekutu Jerman, Kekaisaran Ottoman.
Selama perang, Lawrence berperang dengan pasukan teratur Arab di bawah pimpinan Emir Faisal, putra dari Sherif Hussein di Mekah, dalam operasi gerilya diperpanjang melawan kekuatan bersenjata Kekaisaran Ottoman. Dia membujuk orang-orang Arab untuk tidak membuat serangan frontal terhadap benteng Ottoman di Madinah tetapi diperbolehkan tentara Turki untuk mengikat tentara di kota garnisun. Orang-orang Arab kemudian bebas untuk mengarahkan sebagian besar perhatian mereka ke titik lemah Turki ‘, kereta api Hijaz yang disediakan garnisun. Hal ini sangat meluas medan perang dan diikat bahkan lebih pasukan Ottoman, yang kemudian dipaksa untuk melindungi rel kereta api dan memperbaiki kerusakan konstan.
Pada tahun 1917, Lawrence mengatur sebuah aksi bersama dengan laskar Arab dan pasukan di bawah Auda Abu Tayi (sampai saat itu dalam mempekerjakan Dinasti Utsmani) terhadap berlokasi strategis namun ringan membela  kota Aqaba. Pada tanggal 6 Juli, setelah serangan darat kejutan, Aqaba jatuh ke Lawrence dan kekuatan Arab. Setelah Aqaba, Lawrence dipromosikan menjadi besar. Untungnya untuk Lawrence, komandan baru-in-chief dari Angkatan Ekspedisi Mesir, Jenderal Sir Edmund Allenby, setuju untuk strateginya untuk pemberontakan, yang menyatakan setelah perang:
“Aku memberinya tangan bebas kerjasama Nya ditandai oleh loyalitas terbaik, dan aku tidak pernah punya apa-apa kecuali pujian atas pekerjaannya, yang, memang, sangat berharga selama kampanye..”
Lawrence sekarang memegang posisi yang kuat, sebagai penasihat Faisal dan orang yang memiliki keyakinan Allenby’s.
Tahun berikutnya, Lawrence terlibat dalam merebut Damaskus pada minggu-minggu terakhir perang dan dipromosikan menjadi letnan kolonel tahun 1918. Dalam baru dibebaskan Damaskus-yang telah dibayangkan sebagai modal suatu-negara Arab Lawrence berperan dalam membangun sebuah pemerintahan Arab sementara di bawah Faisal. aturan Faisal sebagai raja, tetapi, tiba-tiba berakhir pada tahun 1920, setelah pertempuran Maysaloun, ketika Angkatan Perancis Umum Gouraud bawah komando Jenderal Mariano Goybet, memasuki Damaskus, memecahkan mimpi Lawrence dari Arabia independen.
Seperti kebiasaan saat bepergian sebelum perang, Lawrence banyak mengadopsi kebiasaan setempat dan tradisi (banyak foto menunjukkan kepadanya di padang gurun mengenakan dishdasha Arab putih dan mengendarai unta).
Selama tahun-tahun penutupan perang ia dicari, dengan keberhasilan campuran, untuk meyakinkan atasannya di pemerintah Inggris bahwa kemerdekaan Arab kepentingan mereka. The Sykes-Picot rahasia Perjanjian antara Perancis dan Inggris bertentangan dengan janji-janji kemerdekaan dia telah membuat orang-orang Arab dan frustrasi karyanya.
Pada tahun 1918 ia bekerja sama dengan koresponden perang Lowell Thomas untuk waktu yang singkat. Selama ini Thomas dan juru kameranya Harry Chase menembak banyak film dan banyak foto, yang Thomas digunakan dalam sebuah film yang sangat menguntungkan bahwa tur dunia setelah perang.
Segera setelah perang, Lawrence bekerja untuk Departemen Luar Negeri, menghadiri Konferensi Perdamaian Paris antara Januari dan Mei sebagai anggota delegasi Faisal. Ia menjabat untuk banyak tahun 1921 sebagai penasehat Winston Churchill di Kantor Kolonial.
Pada bulan Agustus 1922, Lawrence mendaftarkan diri di Royal Air Force sebagai aircraftman dengan nama John Hume Ross.Dia segera terekspos dan, pada bulan Februari 1923, terpaksa keluar dari RAF. Dia mengubah namanya menjadi TE Shaw dan bergabung dengan Royal Tank Corps pada tahun 1923. Dia tidak senang di sana dan berulang kali mengajukan petisi untuk bergabung dengan RAF, yang akhirnya diterima kembali dia pada bulan Agustus 1925. Ledakan segar publisitas setelah penerbitan Pemberontakan di Gurun (lihat di bawah) mengakibatkan penugasannya ke basis terpencil di British India pada akhir 1926, di mana ia tetap sampai akhir 1928. Pada waktu itu ia dipaksa untuk kembali ke Inggris setelah rumor mulai beredar bahwa dia terlibat dalam kegiatan spionase.
Kolonel TE Lawrence, Emir Abdullah, Air Marshal Geoffrey Salmond Sir, Sir Herbert Samuel HBM tinggi komisaris dan Sir Wyndham Deedes dan lain-lain di Yerusalem.
Dia membeli beberapa petak kecil tanah di Chingford, membangun gubuk dan kolam renang di sana, dan sering dikunjungi. Ini telah dihapus pada tahun 1930 ketika Chingford Urban District Council membebaskan lahan tersebut dan melewati ke Kota London Corporation, tapi kembali mendirikan gubuk di lapangan The Warren, Loughton, dimana masih, diabaikan, hari ini. masa Lawrence tanah Chingford kini telah diperingati oleh plak tetap pada tugu penampakan di Kutub Hill.
Dia terus melayani di RAF berbasis di Bridlington, East Riding of Yorkshire, yang mengkhususkan diri dalam perahu berkecepatan tinggi dan kebahagiaan yang mengaku, dan itu dengan cukup menyesal bahwa ia meninggalkan layanan tersebut pada akhir pendaftaran di bulan Maret 1935.
Lawrence adalah seorang pengendara sepeda motor yang tajam, dan, pada waktu yang berbeda, telah memiliki tujuh sepeda motor Brough Superior.  sepeda motor ketujuh Nya dipamerkan di Imperial War Museum. Di antara buku-buku Lawrence diketahui telah melakukan dengan dia di kampanye militernya adalah Thomas Malory’s Morte D’Arthur. Account penemuan 1934 dari Naskah Winchester dari Morte termasuk laporan yang diikuti Lawrence Eugene Vinaver-a Malory sarjana-dengan sepeda motor dari Manchester ke Winchester setelah membaca penemuan di The Times.

Pada usia 46, dua bulan setelah meninggalkan layanan ini,  Lawrence terluka dalam kecelakaan fatal terhadap nya sepeda motor Brough Superior SS100 di Dorset, dekat dengan pondok-Nya, Awan Hill, dekat Wareham. Sebuah berenang di jalan menghalangi pandangannya dari dua anak laki-laki pada sepeda mereka, ia membanting setir untuk menghindari mereka, kehilangan kendali dan terlempar di atas setang. Ia meninggal enam hari kemudian pada tanggal 19 Mei 1935. spot ini ditandai dengan peringatan kecil di pinggir jalan.
Keadaan kematian Lawrence memiliki konsekuensi jauh. Salah satu dokter yang hadir dia adalah ahli bedah saraf Hugh Cairns.Dia sangat dipengaruhi oleh insiden itu, dan akibatnya mulai studi panjang apa yang dilihatnya sebagai hilangnya tidak perlu hidup oleh pengendara sepeda motor pengiriman melalui luka di kepala.Penelitiannya menyebabkan penggunaan helm kecelakaan oleh pengendara sepeda motor militer dan sipil.

Moreton Estate, yang berbatasan Bovington Camp, dimiliki oleh sepupu keluarga, keluarga Frampton. Lawrence menyewa dan kemudian membeli Awan Hill dari Framptons. Dia telah sering berkunjung ke rumah mereka, Okers Rumah Kayu, dan telah selama bertahun-tahun berhubungan dengan Louisa Frampton.Pada kematian Lawrence, ibunya diatur dengan Framptons baginya untuk dimakamkan di petak keluarga mereka di Moreton Gereja  peti mati Nya usungan jenazah diangkut pada kawasan Frampton’s.. Pelayat termasuk Winston dan Clementine Churchill dan adik bungsu Lawrence, Arnold.
Sebuah patung Lawrence ditempatkan di ruang bawah tanah di St Paul’s Cathedral dan sebuah patung batu oleh Eric Kennington tetap di gereja Anglo-Saxon St Martin, Wareham.
Sepanjang hidupnya, Lawrence adalah seorang penulis yang produktif. Sebagian besar dari output-nya adalah berkenaan dgn tulisan, ia sering mengirimkan beberapa surat sehari. Beberapa koleksi surat-suratnya telah dipublikasikan. Dia berkorespondensi dengan tokoh terkenal, termasuk George Bernard Shaw, Edward Elgar, Winston Churchill, Robert Graves, Noël Coward, EM Forster, Siegfried Sassoon, John Buchan, Augustus John dan Henry Williamson. Dia bertemu Joseph Conrad dan berkomentar perceptively pada karya-karyanya. Banyak huruf yang ia dikirim ke istri Shaw, Charlotte, menawarkan sisi mengungkap karakternya.
Dalam masa hidupnya, Lawrence menerbitkan empat teks utama.Dua orang Terjemahan: Homer Odyssey, dan The Giant Forest – pekerjaan yang terakhir dinyatakan terlupakan fiksi Perancis. Dia menerima biaya flat untuk terjemahan kedua, dan dinegosiasikan biaya murah plus royalti untuk pertama kalinya.
14 Barton Street, London SW1, di mana Lawrence tinggal saat menulis Tujuh Pilar.
pekerjaan utama Lawrence adalah Tujuh Pilar Kebijaksanaan, account dari pengalaman perang. Pada tahun 1919 ia telah terpilih untuk persekutuan riset tujuh tahun di All Souls College, Oxford, memberinya dukungan selama ia bekerja pada buku itu. Selain menjadi memoar dari pengalamannya selama perang, bagian-bagian tertentu juga berfungsi sebagai esai tentang strategi militer, budaya Arab dan geografi, dan topik lainnya. Lawrence menulis ulang Tujuh Pilar Kebijaksanaan tiga kali, satu kali “buta” setelah ia kehilangan naskah saat mengubah kereta di Reading stasiun kereta api.
Daftar dugaan “hiasan” di Tujuh Pilar panjang, meskipun tuduhan tersebut telah banyak dibuktikan dengan waktu, paling definitif dalam biografi resmi Jeremy Wilson. Namun notebook Lawrence sendiri menolak klaimnya telah menyeberangi Semenanjung Sinai dari Aqaba ke Terusan Suez hanya dalam 49 jam tanpa tidur.Pada kenyataannya ini naik unta terkenal berlangsung selama lebih dari 70 jam dan terganggu oleh dua istirahat lama untuk tidur yang Lawrence dihilangkan ketika ia menulis bukunya.
Lawrence mengakui telah membantu dalam pengeditan buku oleh George Bernard Shaw. Dalam kata pengantar Tujuh Pilar, Lawrence menawarkan nya “terima kasih kepada Mr dan Mrs Bernard Shaw untuk saran yang tak terhitung nilai besar dan keragaman:. Dan untuk semua titik koma hadir”
Edisi publik pertama diterbitkan pada tahun 1926 sebagai edisi langganan harga tinggi swasta, dicetak di London oleh Roy Manning Pike dan Herbert John Hodgson, dengan ilustrasi oleh Eric Kennington, Augustus John, Paul Nash, Blair Hughes-Stanton dan istrinya Gertrude Hermes . Lawrence takut bahwa masyarakat akan berpikir bahwa ia akan membuat penghasilan besar dari buku itu, dan ia menyatakan bahwa itu ditulis sebagai hasil jasa perang. Dia bersumpah tidak mengambil uang dari itu, dan memang dia tidak, sebagai harga jual adalah sepertiga dari biaya produksi  ini. Kiri Lawrence dalam hutang yang cukup besar.
Sketsa oleh John Augustus, 1919
Pemberontakan di Gurun merupakan versi singkat dari Tujuh Pilar, yang ia mulai tahun 1926 dan telah diumumkan Maret 1927 dalam edisi terbatas dan perdagangan. Ia melakukan latihan publisitas dibutuhkan tetapi enggan, yang menghasilkan best-seller. Sekali lagi ia bersumpah untuk tidak mengambil biaya dari publikasi, sebagian untuk memenuhi tuntutan pelanggan untuk Tujuh Pilar yang telah membayar mahal untuk edisi mereka.
Pada cetak ulang keempat pada tahun 1927, utang dari Seven Pilar telah dilunasi.Sebagai Lawrence berangkat dinas militer di India pada akhir 1926, ia mendirikan “Tujuh Pilar Trust” dengan temannya DG Hogarth sebagai wali, di mana ia dilakukan selama hak cipta dan penghasilan surplus Pemberontakan di Gurun. Ia kemudian mengatakan Hogarth bahwa ia telah “membuat Trust final untuk menyelamatkan diri godaan dari meninjau itu, jika Revolt ternyata menjadi best seller.”
Kepercayaan dihasilkan melunasi pinjaman, dan Lawrence kemudian dipanggil klausa dalam kontrak penerbitan untuk menghentikan publikasi ringkasan di Inggris. Namun, ia diperbolehkan edisi Amerika dan terjemahan, yang menghasilkan aliran besar dari pendapatan. kepercayaan yang dibayarkan pendapatan baik menjadi dana pendidikan bagi anak-anak pejabat RAF yang kehilangan nyawa atau mereka invalided sebagai akibat dari pelayanan, atau lebih substansial ke RAF Dana Kebajikan.
Lawrence kiri tidak diterbitkan The Mint,  sebuah memoar dari pengalamannya sebagai orang terdaftar di Royal Air Force. Untuk ini, dia bekerja dari sebuah notebook yang dia terus sambil meminta, menulis tentang kehidupan sehari-hari terdaftar laki-laki dan keinginannya untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri: Royal Air Force. Buku ini stylistically sangat berbeda dari Seven Pilar Kebijaksanaan, menggunakan prosa jarang yang bertentangan dengan sintaks rumit ditemukan di Tujuh Pilar. Itu diterbitkan secara anumerta, diedit oleh saudaranya, Profesor AW Lawrence.
Setelah kematian Lawrence, A.W. Lawrence mewarisi estat semua Lawrence dan hak cipta sebagai pewaris tunggal. Untuk membayar pajak warisan, ia menjual hak cipta AS Tujuh Pilar Kebijaksanaan (teks pelanggan ‘) yang nyata Doubleday Doran pada tahun 1935. Doubleday masih mengontrol hak publikasi versi teks Tujuh Pilar Kebijaksanaan di Amerika Serikat. Pada tahun 1936 Prof Lawrence membagi aset sisa dari warisan, pemberian Awan Hill dan banyak salinan surat substansial atau kurang historis bangsa melalui National Trust, dan kemudian mendirikan dua trust untuk mengontrol kepentingan hak cipta sisa TELawrence’s. Untuk Pilar Tujuh asli Trust, Prof Lawrence ditugaskan hak cipta di Tujuh Pilar Kebijaksanaan, sebagai akibat dari yang diberikan publikasi pertama umum. Untuk Surat dan Simposium Trust, ia ditugaskan hak cipta dalam The Mint dan surat-surat semua Lawrence, yang kemudian disunting dan diterbitkan dalam buku TE Lawrence oleh teman-Nya (diedit oleh AW Lawrence, London, Jonathan Cape, 1937).
Sejumlah besar penghasilan pergi langsung ke RAF Dana Kebajikan atau untuk proyek-proyek arkeologi, lingkungan, atau akademis. Dua kepercayaan yang digabung pada tahun 1986 dan, pada kematian Prof AW Lawrence, kepercayaan bersatu juga mengakuisisi semua hak yang tersisa untuk karya Lawrence bahwa hal itu tidak dimiliki, ditambah hak untuk semua karya Prof Lawrence.
Lawrence pasca Perang Dunia I visi Levant.
Sebuah peta Timur Tengah yang milik Lawrence telah di pameran di Imperial War Museum di London. Hal ini dirancang oleh dia dan disajikan kepada Kabinet Perang Inggris pada November 1918.
Peta menyediakan alternatif perbatasan saat ini di wilayah ini, tampaknya sebagian dirancang dengan tujuan untuk meminggirkan peran pasca-perang Perancis di wilayah ini dengan membatasi kekuasaan kolonial langsung untuk hari ini Libanon. Ini mencakup sebuah negara terpisah untuk Armenia, sebuah negara terpisah dari Palestina, dan kelompok rakyat Suriah sekarang, Yordania dan bagian dari Arab Saudi di negara bagian lain, berdasarkan pola suku dan rute komersial.
Dedikasi untuk bukunya Tujuh Pilar adalah puisi yang berjudul “Untuk SA” yang membuka sebagai berikut:
..Aku mencintaimu, jadi aku menggambar pasang surut ini laki-laki ke tangan saya
dan menulis akan saya di langit di bintang-bintang
Untuk mendapatkan Anda Kebebasan, rumah layak tujuh terpilar,
bahwa mata Anda mungkin akan bersinar bagi saya
Ketika kami datang..
Lawrence tidak pernah spesifik tentang identitas “SA” Ada banyak teori yang menyatakan mendukung calon termasuk orang-orang individu, wanita, dan bangsa Arab. Yang paling populer adalah bahwa SA merupakan (setidaknya sebagian) temannya Ahmed Selim, “Dahoum”, yang tampaknya meninggal tifus sebelum 1918.
Meskipun Lawrence tinggal di sebuah periode di mana oposisi resmi untuk homoseksualitas kuat, tulisannya pada subyek tersebut adalah toleran. Dalam Tujuh Pilar, ketika membahas hubungan antara laki-laki muda pejuang dalam perang, ia merujuk pada satu kesempatan untuk “keterbukaan dan kejujuran cinta yang sempurna” dan pada lain untuk “teman-teman bergetar bersama di pasir menghasilkan dengan anggota badan panas intim di tertinggi merangkul “. Dalam sebuah surat kepada Charlotte Shaw ia menulis” Saya telah melihat banyak manusia-manusia dan-mencintai:. sangat cantik dan beruntung, sebagian dari mereka “
Dalam kedua Tujuh Pilar dan surat 1919 untuk seorang rekan militer, Lawrence menggambarkan sebuah episode pada bulan November 1917 di mana, sementara reconnoitring Dera’a menyamar, ia ditangkap oleh militer Turki, berat dipukuli, dan dilecehkan secara seksual oleh lokal Bey dan pengawal-Nya. Sifat yang tepat dari hubungan seksual tidak ditentukan. Meskipun tidak ada bukti independen, laporan konsisten banyak, dan tidak adanya bukti untuk penemuan langsung dalam karya Lawrence, membuat account dipercaya untuk penulis biografinya. Setidaknya tiga penulis biografi Lawrence (Malcolm Brown, John Mack, dan Jeremy Wilson) berpendapat episode ini memiliki efek psikologis yang kuat di Lawrence yang mungkin menjelaskan beberapa perilaku yang tidak konvensional dalam kehidupan nanti.
E.H.R. Altounyan, teman dekat Lawrence, menulis sebagai berikut di TE Lawrence oleh teman-Nya:
Perempuan adalah untuk dia orang, dan dengan demikian akan dinilai secara terpisah mereka. Keasyikan dengan seks adalah (kecuali dalam cacat) karena baik untuk rasa kekurangan pribadi dan meraba-raba resultan untuk pemenuhan, atau ke simpati nyata dengan tujuan biologisnya. Tidak bisa menahan berat badan dengan dia. Dia dibenarkan mandiri, dan sampai dengan saat kematiannya wanita tidak ada yang meyakinkan dirinya dari kebutuhan untuk mengamankan suksesi sendiri. Dia tidak pernah menikah karena dia tidak pernah kebetulan bertemu orang yang tepat, dan tidak ada kekurangan yang akan melakukan kutipan ini.
Ada bukti bahwa Lawrence adalah seorang masokis. Dalam deskripsi tentang pemukulan Dera’a, Lawrence baik menulis “sebuah kehangatan lezat, mungkin seksual, bengkak melalui aku”, dan termasuk deskripsi hiper-rinci tentang penjaga ‘cambuk dalam gaya khas masochists’ menulis. Dalam kehidupan selanjutnya, Lawrence diatur untuk membayar seorang rekan militer untuk mengelola pemukulan kepadanya, dan menjadi sasaran tes formal parah kebugaran dan stamina Sementara John Bruce, yang pertama kali membawa ke depan cerita ini, termasuk. beberapa klaim lain yang tidak kredibel, penulis biografi Lawrence menganggap pemukulan sebagai fakta didirikan.

Saud keturunan yahudi

                                       
Ada sebuah Fakta menarik yang perlu juga aku jelaskan disini berkenaan dengan saud dan kerjasamanya menghancurkan tatanan Islam dengan Wahabi.Penelitian dan Penelusuran  Mohammad Shakher, yang akhirnya dibunuh oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan, agaknya menuntun kita menemukan jawabnya.
Shakher menulis buku berjudul ‘Ali Saud min Aina wa Ila Aina?’ membongkar apa di balik  Bungkamnya penguasa Khadimul Haramaian setiapkali berhadapan dengan konflik Palestina-Israel.



Buku ini juga menemukan fakta baru, mengenai asal muasal Dinasti Saudi. Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza BinWael, keturunan Yahudi militan?
Informasi buku ini mencekam sekaligus mencengangkan. Sulit dipercaya, sebuah dinasti yang bernaung di bawah kerajaan Islam Saudiyah bisa melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan pembakaran masjid sekaligus membunuh jamaah shalat yang berada di dalamnya.
Buku yang terbit 3 Rabi’ul Awal 1401 H (1981 M) ini ‘terpaksa’ dipercaya, karena faktanya yang jelas,Kkejahatan Kerajaan Saudi Arabia terhadap kabilah Arab dahulu, persis seperti kebuasan zionis Israel membantai rakyat Muslim di Jalur Gaza.
                                                   
Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di “Ad-Dir’iyah”, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mencegah prilaku bid’ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.

                                                   

Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M.Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M.
Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, Imam Muhammad bin Saud di “Ad-Dir’iyah(Dinasti pertama). ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini maka semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern , yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.

Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud,untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin Kerajaan Saudi Arabia.Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Namun, di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H.Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak,dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool.
 Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe,Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu.
 “Dari manakah anda berasal?” Mereka menjawab, ”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.”

Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.Setelah itu,Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis. Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.

Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut bersama mereka,kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu,kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd.

Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem.Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.

Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin.
Katanya, “Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun.”

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dlir’iya, yang berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya.Mereka menangkap saudagar Yahudi itu danmenawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.

Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir’iya, sebuah nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya.

Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir’iya sebagai pusat
kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir’iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai
semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat,membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka.

Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a,Anza dan Al-Masalikh.

Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin  al-Tamimi, kepala Perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar
35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.

“Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah
warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran ,di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.Sejumlah kesaksian yang meyakinkan bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi, dapat dibuktikan melalui fakta-fakta berikut ini .kebetulan aku dapat transkrip videonya.

King Faisal Al Saud bin Abdul Aziz at that time could not deny his family’s kindred with the jews when he declared to the Washington Post on Sept. 17, 1969 stating:

“We, the Saudi Familiy, are cousins of the Jews: we entirely disagree with any Arab or Muslem Authority which shows any antagonism to the Jews; but we must live together with them in peace. Our country (Arabia) is the fountain head from where the first Jew sprang, and his descendants spread out all over the world.”.

Ini terjemahannya :

Raja Faisal Al Saud bin Abdul Aziz pada saat itu tidak menyangkal keluarganya adalah keluarga dengan Yahudi sebagaimana yang dia ungkapan pada Washington Post pada 17 September 1969 yang menyatakan:
Kami, Keluarga Saudi, adalah saudara sepupu dari orang-orang Yahudi: kita sama sekali tidak setuju dengan penguasa Arab atau Muslim yang menunjukkan sikap permusuhan kepada orang Yahudi, tetapi kita harus hidup bersama dengan mereka dalam damai. Negara kami (arabia) adalah sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar keseluruh dunia
Hubungan kekeluargaan mereka juga aku dapat disini.silahkan lihat sendiri pada link berikut ini:.         http://www.youtube.com/watch?v=7tVQ5NNBFhc


Muhammad Sakher  yang di bantai Saud karna membuka Rahasia keluarga kerajaan dalam keterangannya mengatkan“Sistem rejim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama. Tujuannya, untuk merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajaran Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.Lihat bukunya “Aly Sa’ud, Min Aina? wa Ilaina” terbit 3 Rabi’ul Awal 1401 H (1981 M)  dan ini tanda tanda Fitnah dua tanduk syetan.

Hafez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung Arabia’  menugtip pernyataan Abdul Azis sebagai berikut:

“Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal ( saud awal adalah keturunan Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe suku     yahudi. pen) menceriterakan saat menawan sejumlah Syaiikh dari suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orangorangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang dihidangkan adalah daging manusiayang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan di atas piring.” Lihat Buku “ Semenajung Arabia”.

Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.


Hafez Wahbi selanjutnya melanjutkan ceritanya :

“ berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shyaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak,mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Syaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat.Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengeritik Raja Abul Aziz Al-Saud. Ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.” Lihat Buku “ Semenajung Arabia” end.

Seperti kita ketahui bahwa   awal kejadian  penanda tangannan itu dimulai Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel. Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.
Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”Allahu Akbar !!
Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.
Keberakhiran kekhalifahan pada dasarnya karena terpengaruh paham individualisme dalam skala negara (nasionalisme) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Paham nasionalisme untuk memecah belah umat Islam atau upaya meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah. Kita telah terpecah belah ke dalam beberapa wilayah atau negara atau kesatuan dalam negara (nation state) yang dikenal dengan propaganda nasionalisme. Salah satu hasutan kaum Zionis Yahudi adalah menumbuhkan nasionalisme Arab.
Secara perlahan namun pasti, lembaga-lembaga kajian Islam yang didirikan para orientalis Barat (kaum Zionis Yahudi) ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab.
Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah.( Mengenai  Edward Terrence Lawrence aku menilai dia kafir tulen dan gila sex !! buku bukunya kurang ajar menurutku)

Pada awal Perang Dunia I tahun 1914,  Zionis Yahudi  Inggris pada saat itu berupaya menjamin kekuasaannya di negara-negara Syam dan Irak dengan cara memfungsikan tiga pendekatan yang kontradiktif, pertama; negosiasi dengan Syarif Husain bin Ali dengan mendorongnya mendeklarasikan revolusi Arab, kedua; negosiasi dengan Prancis membahas masa depan Palestina dan negara- negara Syam, akhirnya mereka setuju pada satu kesepakatan yang dikenal dengan kesepakatan Sykes Picot

Agreement pada bulan Mei 1916 dengan memberikan sebagian besar wilayah-wilayah Irak Timur Jordan dan daerah Haifah di Palestina kepada Inggris, Prancis mendapatkan Lebanon dan Suriah dan Palestina menjadi wilayah dibawah kawasan internasional karena pertimbangan banyak pihak yang menghendaki pendudukan atas wilayah Palestina
Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Deklarasi  Balfour.


                                  

                                                  Deklarasi  Balfour ialah sebagai berikut  Sesuai Aslinya:
Deklarasi Balfour
Foreign Office
November 2nd, 1917
Dear Lord Rothschild,
I have much pleasure in conveying to you, on behalf of His Majesty’s Government, the following declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved by, the Cabinet.
“His Majesty’s Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish pePLOe, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.”
I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation.
Yours sincerely,
Arthur James Balfour
Catatan tentang diskusi-diskusi yang menghasilkan teks akhir deklarasi Balfour ini menjelaskan beberapa rincian susunan kata-katanya. Frase “tanah air” secara disengaja digunakan sebagai pengganti “negara”, dan Inggris mencurahkan beberapa usaha pada dekade-dekade berikutnya untuk menyangkal bahwa mereka memaksudkan pembentukan suatu negara, termasuk Buku Putih Churchill, 1922. Namun demikian, secara pribadi, banyak pejabat Inggris setuju dengan interpretasi kaum Zionis bahwa hasil akhir yang diharapkan memang adalah sebuah negara.
Dalam sebuah wawancara dalam majalah New Statesman, pada November 2002 menteri luar negeri Inggris, Jack Straw tidak menyetujui penjajahan Inggris masa lalu atas banyak masalah politik modern, termasuk konflik Arab-Israel. Jack Straw mengungkapkan “Deklarasi Balfour, merupakan sejarah yang menarik buat kami, namun bukan sesuatu yang terhormat, karena disatu sisi Inggris memberikan janji kepada Palestina Untuk memberikan kemerdekan dan disisi lain Inggris memberikan jaminan kepada Israel untuk mendirikan negara di tanah Palestina
Deklarasi Balfour adalah sebuah perjanjian yang paling aneh dan kontradiktif dengan kesepakatan kesepakatan lain, dimana dalam deklarasi ini Inggris berjanji untuk memberikan wilayah yang bukan miliknya bahkan wilayah tersebut belum dijajah Inggris, hal ini terjadi di saat Inggris mencapai puncak kejayaannya dengan mengklaim dirinya sebagai pembela nilai-nilai prinsip kemanusiaan.
Syarif Husain bin Ali sebagai Amir Mekah menolak untuk mengakui negara Israel. Sebagai Khadim Al Haramain atau ‘Penjaga Dua Kota Suci’, beliau tidak sanggup mengkhianati amanah yang diberikan oleh umat Islam dengan mengakui negara haram Israel yang didirikan di atas tanah kaum muslimin.
Beliau terpaksa membayar penolakan tersebut dengan harga yang sangat mahal yaitu kehilangan kedudukan sebagai Amir Mekah dan Raja Hijaz.
 Ketahuilah bahwa Zionis Yahudi Inggris membantu mendudukan Ibnu Saud atau  Abdul Aziz bin Saud (1880-1953)  sebagai Raja Hijaz.Pada tahun 1902, Ibnu Saud bersama-sama dengan pasukan keluarga dan saudaranya berhasil merebut Riyadh dengan membunuh gubernur Rashidi di sana.Dua tahun setelah berhasil merebut Riyadh, Ibnu Saud berhasil menguasai separuh dari Nejd. Meskipun begitu, pada tahun 1904, dinasti Rashidi meminta bantuan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah untuk mengalahkan dinasti Saud (Keluarga Kerajaan Saudi).
Kerajaan Utsmaniyah mengirimkan pasukan ke Arabia (Tanah Arab) dan ini menyebabkan kekalahan dinasti Saud pada 15 Juni 1904, namun setelah pasukan Utsmaniyah mundur disebabkan masalah tertentu, pasukan dinasti Saud berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya.
Pada tahun 1912, Ibnu Saud berhasil menguasai Nejd dengan bantuan  sekte  Wahabi.Pada saat Perang Dunia I, Ibnu Saud berpihak kepada Zionis Yahudi Inggris, Britania Raya  karena dinasti Rashidi merupakan sekutu Utsmaniyah yang merupakan musuh Britania.Pada tahun 1922 dinasti Saud berhasil mengalahkan dinasti Rashidi dan ini mengakhiri penguasaan dinasti Rashidi di Tanah Arab. Dan dalam tahun ini tercipta sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922 dimana  ingris mendesak  agar saud menanda tangani sebuah pernyataan untuk  memberikan Palestina kepada Yahudi. Disinilah kisah berdarah terjadi  menimpa Shyaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis yang mengkritik saud atas perjanjian itu yakni Deklarasi  Balfour dan pernjanjian kesepakatan  sebelumnya.
Pada tahun 1925, dinasti Saud berhasil merebut Kota Suci Makkah dari Syarif Husain bin Ali.Pada 10 Januari 1926, Ibnu Saud dinobatkan menjadi Raja Hijaz di Masjidil Haram, Makkah dan Sultan Najd dan daerah-daerah bawahannya. Untuk pertama kali sejak Negara Saudi II, empat wilayah penting di Jazirah Arabia, yaitu Najd, Hijaz, `Asir, dan Hasa, kembali berada di tangan kekuasaan klan Saudi. Pada tahun 1932, Ibn Saud telah berhasil menyatukan apa yang sekarang dikenal sebagai Kerajaan Saudi Arabia.

Mengenai kematian Raja Paisal,Hampir seluruh informasi yang  di dapat dan juga keterangan tambahan dari pelaku sejarah seperti hafez dapat kutarik sebuah kesimpulan singkat  bahwa beliau terbunuh karena kepemimpinan beliau tidak sesuai .Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak.Sesudah skandal keuangan Raja Saud, Pangeran Faisal dilantik menjadi pemerintah sementara. Pada tanggal 2 November 1964, ia dilantik menjadi raja setelah Raja Saud di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani.
Pada tahun 1973, Raja Faisal memulai suatu program yang bertujuan untuk memajukan kekuatan tentara Arab Saudi. Pada tanggal 17 Oktober 1973, ia menghentikan ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika Serikat yang menyebabkan harga minyak di Amerika Serikat melambung tinggi. Namun dua tahun kemudian kenyataan yang “tampak”  adalah pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal ditembak mati oleh anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad.sampai disini aku kurang tahu banyak  kronolgi penembakan itu karna banyak sekali alibi dan asumsi yang berkembang dari berbagai kalangan sehingga menyulitkan analisaku.


Kembali pada inti persoalan, sungguh sejarah  Wahabi  tidak  pernah  lepas  dari  aksi­aksi  kekerasan,baik doktrinal, kultural, maupun sosial. Dalam penaklukan jazirah Arab 1920­an ini, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh, dieke­sekusi secara publik atau diamputasi, termasuk wanita dan anak­anak.  12 Selain itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukan sering dibawa sebagai rampasan perang. Setelah itu, seperti biasa, Wahabi memaksakan ajarannya kepada semua Muslim yang berada di daerah taklukannya. Wahabi kemudian menjadi 'agama' baru.

Pemahaman  ekstrem,  kaku,  dan  keras  Ibn  'Abdul  Wahab,yang terus dipelihara dan diperjuangkan para pengikutnya (Wahabi) hingga saat ini, adalah hasil dari pembacaan harfiah atas sumber­sumber ajaran Islam yang keliru Ini pula yang telah menyebabkan  mereka menolak rasionalisme, tradisi, dan beragam khazanah intelektual Islam yang sangat kaya. Dalam hal polemik, Kristen, Syî'ah, tasawuf, Mu'tazilah dan Aswaja merupakan target utamanya. Namun bukan berarti bahwa selain kelompok tersebut aman dari kecaman yang didasarkan pada  pembacaan  harfiah  atas  teks­teks  suci  (baca:  al­Qur'ân  dan Sunnah).

Sebenarnya,  klaim  kebenaran  wahab secara sepihak  yang  kemudian  mengandalkan klaim­klaim teologis dengan mengkafirkan pihak lain, merupakan sikap beragama yang tidak dewasa dan menunjukkan tidak adanya sifat rendah hati (islâm). Keyakinan yang dewasa dan rendah hati tidak akan pernah terganggu oleh keyakinan lain yang berbeda, bahkan akan berbagi secara terbuka untuk mencapai kebenaran hakiki. Dan al­Qur'ân sendiri menegaskan bahwa perbedaan adalah cobaan, dan tidak perlu diseragamkan. Penolakan terhadap  perbedaan  ini  merupakan  dampak  langsung  dari  penyakit penyimpangan epistemologis literalisme tertutup manapun.


                                        

menurutku,setiap konklusi yang dihasilkan dari metode yang tidak sehat seperti wahabi ini,pasti  akan  menyebabkan aksi­aksi  yang  tidak  sehat  pula.  Distorsi dan  reduksi  terhadap  pesan­pesan  luhur  Islam,  dalam  kasus  Wahabi, faktanya menyebabkan aksi­aksi destruktif terhadap tradisi spiritual dan  intelektual  Islam  sendiri,  dan  kemudian  menyebabkan distorsi dan kekejaman sosial dan budaya terhadap masyarakat Islam dan masyarakat global secara keseluruhan, bahkan kekerasan terhadap ajaran Islam sendiri.jika sudah seperti ini..maka sikap diktator,pemaksaan sepihak pada kelompok lain hanya akan menimbulkan benih perpecahan dalam tubuh Islam sendiri.Islam menekankan Ukhuwah dimana sebuah perbedaan prinsip bukan menjadikan halangan membentuk persaudaraan sesama muslim.

sangat disayangkan jika wahabi ternyata hanya meng-atas namakan Islam dalam memenuhi nafsu serakahnya.mengubah nilai nilai Islami yang Indah dengan mengobrak-abrik segala kemuliaan yang terkandung didalamnya dengan menipu,memutar balikan fakta sejarah,menyesatkan kaum muslim sendiri dengan hujah hujah palsu hanya demi meluluskan jalan Syetan ( tanduk syetan !)

sangat pula disayangkan jika org org yang terlibat dldlm kelompok wahabi  disaat sekarang ini yang notabenanya kaum intelek,cerdas tidak bisa membaca arah tujuan pemimpin mereka dahulu,Muhammad bin Abdullah Cs.masa lalu adalah pelajaran yang harus dijadikan patokan dalam mengubah keadaan yang lebih baik.dan bagiku, adalah suatu kebodohan jika seorang pengikut wahabi tidak bisa mencerna secara mendalam setiap episode sejarah wahabi dari waktu kewaktu.selamatkan diri anda.iman dan keyakinan anda tanpa menjadi seekor kerbau yang ditusuk hidungnya oleh seorang Muhammad bin Abdu wahab yang jelas jelas sepak terjangnya tidak sehat secara Islam Kaffah.sikap egoisme yang dipelihara tidak akan pernah menjadikan seorang  muslim sejati kecuali memang anda (wahabi) sudah buta mata hati !!


Wahabi= al-Hasyawiyyah=khawarij masa kini.


Faham golongan Wahabi/Salafi pada zaman modern ini  jika  aku perhatikan mirip seperti golongan al-Hasyawiyyah, karena kepercayaan-kepercayaan dan pendapat pendapat mereka memang mirip dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal.

Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu Penyisipan,pemasangan dan kemasukan.

Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M) mencatatkan bahwa:

“Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw. dan mereka menerimanya tanpa melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahlal-Sunnah wa al-Jama`ah...Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahwa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahwa Allah mempunyai anggota tubuh dan lain sebagainya.”

Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) menuliskan bahwa:

Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadits, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya) ...sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut. [ Lihat Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]


Faham sekte Wahabi ini  disamping sama dengan  golongan al-Hasyawiyyah, ia juga seakan-akan menjiplak atau mengikuti kaum Khawarij yang juga mudah mengafirkan, mensyirikkan, mensesatkan sesama muslimin karena tidak sependapat dengan fahamnya. Kaum khawarij ini kelompok pertama yang secara terang-terangan menonjolkan akidahnya dan bersitegang leher mempertahankan prinsip keketatan dan kekerasan terhadap kaum muslimin yang tidak sependapat dan sefaham dengan mereka.

 Kaum khawarij ini mengkafirkan Amirul Mu’minin Imam Ali bin Abi Thalib kw dan para sahabat Nabi saw. yang mendukungnya. Kelompok ini ditetapkan oleh semua ulama Ahlus-Sunnah sebagai ahlul-bid’ah, dan dhalalah/sesat berdasarkan dzwahirin-nash (makna harfiah nash) serta keumuman maknanya yang berlaku terhadap kaum musyrikin.

Kaum Khawarij  ini  sama dengan Sekte Wahbi ,mudah sekali mengkafir kafirkan kaum muslimin yang tidak sefaham dengan mereka, menghalal kan pembunuhan,
perampasan harta kaum muslimin selain golongannya/ madzhabnya.ini sudah disinggung di awal makalah.

Ibnu Mardawih mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Mas’ab bin Sa’ad yang menuturkan
sebagai berikut :

“Pernah terjadi peristiwa, seorang dari kaum Khawarij menatap muka Sa’ad bin Abi Waqqash
(ayah Mas’ab) ra. Beberapa saat kemudian orang Khawarij itu dengan galak berkata: ‘Inilah dia,
salah seorang pemimpin kaum kafir!’. Dengan sikap siaga Sa’ad menjawab; ‘ Engkau bohong!.
Justru aku telah memerangi pemimpin-pemimpin kaum kafir ‘. Orang khawarij yang lain berkata: ‘
Engkau inilah termasuk orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya ‘ ! Sa’ad menjawab :
‘Engkau bohong juga ! Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan
Allah, Tuhan mereka, mengingkari perjumpaan dengan-Nya (yakni tidak percaya bahwa pada hari
kiamat kelak akan dihadapkan kepada Allah swt.) ’! Riwayat ini dikemukakan juga oleh Al-Hafidz
didalam Al-Fath.


Thabrani juga mengetengahkan sebuah riwayat  didalam Al-Kabir dan Al-Ausath, bahwa

“ ‘Umarah bin Qardh dalam tugas operasi pengamanan didaerah dekat Al-Ahwaz
mendengar suara adzan. Ia berangkat menuju ketempat suara adzan itu dengan maksud hendak menunaikan sholat berjama’ah. Tetapi alangkah terkejutnya, ketika tiba disana ternyata ia berada ditengah kaum Khawarij sekte Azariqah. Mereka menegurnya: ‘Hai musuh Allah, apa maksudmu datang kemari ?’
! Umarah menjawab dengan tegas: ‘Kalian bukan kawan-kawanku’ !
Mereka menyahut:  ‘Ya, engkau memang kawan setan, dan engkau harus kami bunuh’ !
Umarah berkata; ‘ Apakah engkau tidak senang melihatku seperti ketika Rasulallah saw. dahulu melihatku ? ‘. Mereka bertanya:  ‘ Apa yang menyenangkan beliau darimu ?
‘Umarah menjawab:  ‘ Aku datang kepada beliau saw. sebagai orang kafir, lalu aku meng-ikrarkan kesaksianku, bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwa beliau saw. adalah benar-benar utusan Allah. Beliau saw. Kemudian membiarkan aku pergi ’. Akan tetapi sekte Azariqah tidak puas dengan jawaban ‘Umarah seperti itu. Ia lalu diseret dan dibunuh “.
 Peristiwa ini dimuat juga sebagai berita yang benar dari sumber sumber yang dapat dipercaya.

Sikap dan tindakan kaum khawarij tersebut jelas mencerminkan penyelewengan akidah mereka,dan itu merupakan dhalalah/kesesatan. Perbuatan mereka ini telah dan selalu dilakukan oleh pengikut mereka disetiap zaman. Mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dipengaruhi oleh bujukan hawa nafsunya sendiri dan berpegang kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits secara harfiah atau tekstual. Mereka beranggapan hanya mereka/golongannya sajalah yang paling benar,suci dan murni, sedangkan orang lain yang tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, berbuat bid’ah, kafir dan musyrik! Mereka ini tidak sudi mendengarkan siapapun juga selain orang dari kelompok mereka sendiri. Sama dengan Sekte Wahabi maka Khawarij-pun memandang ummat Islam lainnya dengan kacamata hitam,sebagai kaum bid’ah atau kaum musyrikin yang sudah keluar meninggalkan agama Islam !


Mari kita lihat lagi  persamaan Wahabi dengan khawarij berikut ini :

Secara global dapat disebutkan beberapa sisi-sisi kesamaan antara kelompok sesat Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela oleh Rasulullah saw.

 Rasul pernah memberi julukan golongan sesat (Khawarij) tersebut dengan sebutan “Mariqiin”, yang berarti “lepas” dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya. [Lihat: Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid :2 halaman:118] Sedikitnya terdapat enam sisi-sisi kesamaan antara dua golongan ini yang tentu meniscayakan vonis hukuman dan konsekuensi yang sama pula. Adapun enam sisi kesamaan tadi mencakup:
Pertama
Sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran (Takfir), walaupun dalam beberapa hal sebutan-sebutan itu memiliki kesamaan dengan kekafiran itu sendiri jika dilihat dari konsekwensi hukumnya. Oleh karena itu, kaum Wahabi juga layak dijuluki dengan sebutan Jama’ah Takfiriyah (kelompok pengkafiran), suka dan hoby menyesatkan dan mengkafirkan kelompok muslim lain selain kelompoknya. Mereka (Wahabi dan Khawarij) sama-sama merasa hanya ajarannya saja yang benar-benar murni dan betul

 Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi palsu (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (Muthowi’) menuduh para jamaah haji -tamu-tamu Allah (Dhuyuf ar-Rahman)- sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah dan keyakinan mereka. Padahal semua orang muslim datang menuju Baitullah Ka’bah dengan tetap meyakini bahwa “tiada tuhan melainkan Allah swt dan Muhammad saw adalah utusan Allah swt”.
Kedua
Sebagaimana kelompok Khawarij telah disifati dengan “Pembantai kaum muslim dan perahmat bagi kaum kafir (non-muslim)”, hal itu sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[Lihat: kitab Majmu’ah al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah Jilid: 13 halaman: 32] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji tersebut, terkhusus di awal-awal penyebarannya. Sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah berupa pembantaian beberapa kabilah Arab muslim yang menolak ajaran sesat Wahabisme. Hal itu pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Ia dengan dukungan Muhammad bin Saud -amir wilayah Uyainah- yang mendapat bantuan penuh pasukan kolonialis Inggris yang kafir sehingga akhirnya dapat menaklukkan berbagai wilayah di dataran Arabia. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz (sekarang Arab Saudi) dan Irak kala itu, dikarenakan penolakan mereka atas ajaran sesat Muhammad bin Abdul Wahab.
Ketiga
Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir yang darahnya halal, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama. Mereka menuduh kaum muslim yang berziarah kubur Rasulullah dengan sebutan syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu sama dengan pengkafiran terhadap kelompok-kelompok tadi.
Keempat
Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki jiwa Jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. Banyak hal mereka anggap bid’ah dan syirik namun dalam penentuannya mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas dan kuat, bahkan mereka tidak berani untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya tersebut dengan berdiskusi terbuka dengan kelompok-kelompok yang dianggapnya sesat. Kita dapat lihat, blog-blog dan situs-situs kelompok Wahabi tidak pernah ada forum diskusi terbuka. Sewaktu jamaah haji pergi ke tanah suci tidak diperkenankan membawa buku-buku agama dan atau buku tuntunan haji melainkan yang sesuai dengan ajaran mereka. sementara di sisi lain, mereka menggalakkan dakwah dan penyebaran akidahnya melalui berbagai sarana yang ada –seperti penyebaran buku, brosur, kaset dan sebagainya- kepada para jamaah haji yang Ahlusunah. Ini merupakan bentuk dari pemerkosaan akidah Wahabi dan perampokan keyakinan Ahlusunah wal Jamaah.
Kelima
Sebagaimana kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajarannya yang telah menyimpang dari agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw, Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama sehingga keislaman mereka pun layak untuk diragukan. Pengkafiran kelompok lain yang selama ini dilakukan oleh kaum Wahabi cukup menjadi bukti konkrit untuk meragukan keislaman mereka. karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia sendiri yang terkena pengkafiran tersebut.

Dalam sebuah hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi dimana Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam) sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[Lihat: kitab Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123]

Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd. [Lihat: kitab Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626] Sedang dalam satu hadis lain disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”. [Lihat: kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid: 2 halaman:81 atau jilid: 4 halaman: 5]
Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata “qorn” berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan. [ Lihat: kitab Al-Qomuus jilid:3 halaman:382, asal kata: qo-ro-na]

Sedang kita tahu bahwa kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabisme. Selain kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme dan dari situ pulalah pemikiran Wahabisme disebarluaskan dan diekspor ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dari semua hadis tadi dapat diambil benang merah bahwa di kota Najd-lah tempat munculnya pengikut ajaran Setan –dimana setan ini terkadang dari golongan jin ataupun dari golongan manusia, sedang yang dimaksud di sini adalah as-Syaithonul-Ins atau setan dari golongan manusia- yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab dimana kelompok tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Wahabi atay Salafy sebagai klaim kosongnya (Salafy palsu). Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana, gamis atau sarung hingga betis, suka mencukur pendek rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu ciri-ciri zahir pengikut kelompok ini. Tanda-tanda yang lebih nampak lagi ialah, mereka sangat lancar dan fasih sewaktu menuduh kelompok selainnya dengan sebutan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul.
Keenam
Sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan maksiat dan dosa besar maka mereka kategorikan sebagai “negara zona perang” (Daar al-Harb). Karena menurut mereka dengan banyaknya perbuatan maksiat tadi maka berarti penduduk muslim tadi telah keluar dari agama Islam (kafir). Kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal yang sama.

Jika sudah begini apa bedanya wahabi dgn khawarij ??
 Aku merasa wahabi adalah ciptaan atau katakanlah jelmaan kelompok khawarij karna seperti kita ketahui  bahwa khawarij bagai  menghilang hilang dari peredaran dan seakan hanya bagian sejarah masa lal. tidak ada yang tahu persis kondisi kelompok ini sekarang karna tertutup dan tidak sperti masa lalu yang terang terangan.dalam posisi itu..tahu tahu..kemudian muncul  nama Wahabi dgn metode berbeda namun jika diteliti tetap sama dgn prinsip khawarij !! aku merasa wahabi adalah indetitas baru golongan khawarij. Aku tahu sebagian wahabi ada yang menganggap atipitas kafir mengkafirkan org adalah golongan khawarij  alias cuci tangan.namun bagiku ini tidak lebih untuk menengelamkan nama Khawarij dan memunculkan nama wahabi yang pada kenyataan tetap masih ada kesamaan dan tidak bisa hilang begitu saja khas khwarij.Wahabi seakan mengkambingkan hitamkan Khawarij yang notabenenya tidak tampak lagi eksis secara nyata. Ini sama saja tipuan wahabi.karna khawarij ada didalam golongan wahabi. Dengan kata lain khawarij sudah berganti menjadi wahabi dan nama khawarij bukanlah persoalan buat di fitnah karna sudah tidak ada lagi org orgnya melainkan namanya saja. ini dugaanku..dan tentunya dugaan ini bisa saja salah dan mesti ada peneltian lanjut.

untuk jelasnya siapa sebenarnya khwarij dan kaitannya dengan najb perhatikan uraianku berikut ini :

Firqah  khawarij

Sejarah munculnya persoalan-persoalan theologi dalam Islam adalah disebabkan faktor-faktor politik pada awalnya setelah khalifah Usman terbunuh, kemudian digantikan pula oleh Ali menjadi khalifah.

Peristiwa tersebut  menurut keyakinan Muawiyah bahwa Ali terlibat dalam kasus pembunuhan Usman. Sedangkan Ali Bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim Al-Quraisy adalah anak paman Rasulullah Saw. dan ibunya bernama Fatimah binti ibnu Manaf.
 Sedangkan Muawiyah / adalah anak kandung Abdu Syanus bersaudara dangan Hasyim bin Abdul Manaf, Hasyim adalah keturunan Abdul Mutalib kakek nabi Muhammad Saw.

Abdul Manaf antara Umayyah dan Hasyim bin Abi Manaf sering terjadi persaingan dalam suku quraisy mereka ingin memiliki kharisma yang  tinggi dikalangan suku quraisy dan mereka termasuk keluarga bangsawan dari suku quraisy selain didukung dengan harta kekayaannya demikian disamping itu pula putra keturunannya  dihormati dikalangan masyarakat karena terkenal dalam keterampilannya dalam berbisnis.  Keadaan tatkala nabi Muhammad  Saw diangkat menjadi Rasul, persaingan terus berlanjut sampai anak cucu mereka bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Pada tahun 8 H kota Makkah dapat dikuasai Abi Sofyan dan Muawiyah masuk Islam pada saat itu Rasullullah Saw ingin mendekatkan keluarga pemannya ke dalam golongan orang- orang yang berjasa  dalam  mengembangkan  Islam karena itu Muawiyah dijadikan anggota menulis wahyu.
Setelah nabi wafat, pada tahun-tahun berikutnya peran Muawiyah dalam pengembangan Islam cukup diakui sampai akhir dia menjadi Gubernur di Yordania dan setelah Yazid (Gubernur Syam) meninggal dunia daerah ini disatukan dan ia menjadi gubernur untuk di wilayah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab (khalifah II) kemudian dilanjutkan sampai pemerintahan khalifah ke III (Usman bin Affan). Kedudukan Umayyah tersebut semakin kokoh pada masa Usman bin Affan, bahkan dia diberi wewenng untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat pemerintah. Hal tersebut menumbuhkan isu kurang baik terhadap khalifah Usman bin Affan sebagai kepala Madinah waktu itu, apalagi Usman dan Muawiyah sama-sama keturunan Bani Umayyah.
Wafatnya Usman  menjadi salah satu profil alasan Muawiyah untuk melakukan pemberontakan terhadap Ali, disamping itu Muawiyah melalui taktik ini ingin mengulangi lagi kekuasaan yang pernah dimiliki bani Umayyah  ketika  masih di zaman  Jahiliyah. Ambisi keturunan Muawiyah menjadi penguasa sejak zaman Jahiliyah terulang kembali dan dengan persoalan politik inilah muncul persoalan dalam Islam.


 Sejarah Timbulnya Khawarij

Pada saat Ali memegang tampuk pimpinan (kepala negara di Madinah) ia melihat bahwa ada beberapa pejabat pemerintah yang diangkat oleh khalifah Usman bin Affan kurang layak menduduki jabatan tersebut sehingga mereka perlu diganti dan diberikan kepada yang berhak, termasuk pejabat yang diberhentikan Ali adalah Muawiyah bin Abi Sufyan yang masih ada hubungan khalifah Usman bin Affan yang mati terbunuh. Muawiyah yang sudah dibenci kepada Ali semakin merasa benci setelah dipecat menjadi Gubernur Damaskus, karena itu pemecatan terhadap dirinya tidak digubris oleh Muawiyah bahkan ia merencanakan untuk menyerang Ali di ibu kota Madinah.

Mendengan isu Muawiyah akan menyerang Ali maka ia pun menyiapkan pasukannya untuk menahan penyerangan tersebut, akhirnya pada tahun 37 Hijriyah terjadilah pertempuran
akbar antara Ali dan pengikutnya sebelah barat sungai Eufrat yang bernama  siffien dan peran
tersebut dalam sejarah dikenal perang Siffien.
Pada saat kemenangan hampir di raih pasukan Ali, maka Amir bin Ash dari kelompok Muawiyah memerintahkan salah seorang pasukannya untuk mengangkat Al-qur’an diatas ujung tombak sebagai tanda minta bertahqim kepada Al-qur’an melihat gelagat yang tanpa didiga itu merasa ragu, khawatir itu semua sekedar tipu muslihat, maka Ali pun menyuruh tentaranya untuk terus bertenpur, maka  ketika itu sebagian tentaranya menentang, kebanyakan mereka menghendaki diadakan  perdamaian dan menerima ajakan Muawiyah. Akibat dari desakan  tentaranya Ali terpaksa menerima tahqim dan menyuruh komandannya Al-Ansyar An-Naka’i menghentikan pertempuran.

 Anehnya setelah Ali setuju, laskar Ali yang semula mendesak untuk bertahqim yang rencananya dilaksanakan bulan Ramadhan tahun 37 Hijriyah, berbalik sikap dan  mereka mendesak Ali agar jangan mau melaksanakan tahqim, dan lebih dari itu mereka menuntut  agat Ali mengaku telah kafir karena kesalahannya mau bertahqim, tentu saja semua ini jelas ditolak oleh Ali. Pada saat tentara Muwiyah mundur ke Syam dan pasukan Ali mundur ke Koufa, kelompok Ali yang mendesak jangan bertahqim tersebut memisahkan diri dan pergi ke Harura dan tidak mau lagi bergabung dibawah pimpinan Ali. Maka mengangkat Abdullah Ibnu Wahab Al-Rasyidi, sebagai imam mereka. Dan kelompok ini dikenal dengan nama Khawarij yang pada awalnya jumlah mereka kurang lebih 12.000 orang.

 Merekapun membenci Muawiyah karena dianggap Agreddor dan membenci Ali karena dianggap lemah. Mereka tersebut khawarij karena keluar dari pasukan Ali, sebagai kelompok tidak setia. Kemudian mereka mengaitkan nama khawarij dengan Al-qur’an dengan maksud nama khawarij itu berkonotasi baik. 
ﺎﻤﻴﺣﺮﻟارﻮﻔﻏ ﷲا نﺎآو ﷲا ىﺎﻋ ﻩﺮﺟا ﻊﻗو ﺪﻘﻓ تﻮﻤﻟا ﻪآرﺪﻳ ﻢﺛ ﻪﻟﻮﺳرو ﷲا ﻰﻟا اﺮﺟﺎﻬﻣ ﻪﺘﻴﺑ ﻦﻣ جﺮﺨﻳ ﻦﻣو
Artinya : Barang   siapa  yang keluar dari rumahnya dengan maksud berziarah kepada Allah  dan Rasul-Nya kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai kepada tempat yang dimaksud) maka sesungguhnya  telah tetap pahala disis  Allah. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (An-Nisa : 100)

Disamping sebutan Khawarij, merekapun menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan kelompok Syurah yakni penjual. Mereka sebagai orang yang menjual (mengorbankan) dirinya untuk mendapatkan ridho Allah. Nama ini dinisbatkan dengan QS. 2 : 207. 
ِدﺎَﺒِﻌْﻟﺎِﺑ ٌفوُؤَر ُﻪّﻠﻟاَو ِﻪّﻠﻟا ِتﺎَﺿْﺮَﻣ ءﺎَﻐِﺘْﺑا ُﻪَﺴْﻔَﻧ يِﺮْﺸَﻳ ﻦَﻣ ِسﺎﱠﻨﻟا َﻦِﻣَو
Artinya : Dan   diantara   manusia   ada   orang  yang mengorbankan dirinya karena mencari  keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Jadi kaum Khawarij disebut juga kaum Syurah, walaupun mereka tidak setuju bertahqim, namun musyawarah dilangsungkan juga, da tempat dilaksanakannya musyawarah di Daumatul Jandal (suatu tempat antara Irak dan Syam). Pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asyari sedangkan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash.

 Dalam musyawarah ini pihak Ali terjebak tipu muslihat yang dilakukan oleh Muawiyah mereka dianggap pihak yang benar dan tidak  melakukan kesalahan, akhirnya musyawarah ini tidak berakhir dengan baik dengan gagalnya musyawarah ini kelompok Khawarij makin benci Ali, Muawiyah, Abu Musa Al-Asyari dan Amr bin Ash, serta semua pendukung dari pihak Ali dan Muawiyah dan semuanya dianggap berdosa dan kafir.
Persoalan politik ini akhirnya berubah menjadi persoalan theologi karena persoalan kafir atau bukan kafir bukanlah soal politik tetapi masalah theologi.

Kafir adalah orang yang tidak percaya dan lawannya adalah mukmin orang dipercaya. Dalam Al- qur’an kedua kata ini senantiasa dikontraskan. Didalamnya kata kafir dipakai terhadap orang yang tidak percaya pada Nabi Muhammad Saw dan ajaran yang dibawa oleh nabi tersebut, atau orang
yang belum menjadi mukmin dan masuk Islam. Berbeda dengan kaum khawarij kata kafir mereka pakaikan untuk golongan orang mukmin / yang  sduah masuk Islam. Bagi faham golongan Khawarij dalam golongan umat Islam ada yang bersifat kafir, sehingga kafir yang artinya semula di dalam Al-qur’an ditunjukkan pada orang yang tidak percaya kepada ajaran Allah atau orang belum masuk Islam berubah hati, karena Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari serta semua pengikutnya yang setuju kepada pelaksanaan tahqim dianggapp kafir oleh kaum Khawarij, padahal mereka semua adalah Muslim. Dan inilah persoalan kafir mengkafirkan dalam kalangan Islam muncul pertama sekali dilakukan oleh kelompok Khawarij.

Khawarij dinilai sebagai  golongan paling keras dalam aturan  keberagaman,  mereka menentang pandangan ortodoks yang beranggapan bahwa kepercayaan (iman) yang paling utama. Keyakinan dogmatic golongan Khawarij sangat besar mempengaruhi dialektika agama dalam theologi Islam, terutama dalam memahami kodrat dan madar Tuhan. Meskipun beranggapan bahwa dirinya adalah satu-satunya golongan yang kuat dalam memegang semua ajaran dan  hukum Islam.


Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (49. Al-Hujurat : 9)

Dengan merujuk kepada ayat diatas mereka mengambil keiimpulan bahwa Muawiyah harus digempur dan ditundukkan sampai ia atuh dan mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, disamping itu mereka yang menyalahkan Muawiyah karena ia telah melawan dan menyerang kekhalifahan yang sah dan karen ia telah berdosa besar dan dianggap kafir. Disamping  Muawiyah  yang telah berdosa  maka  Ali juga bersalah dan berdosa dan dianggap kafir karena tidak melaksanakan ayat diatas dan malah lebih parah lagi karena Ali mau menerima Tahkim.

Sementara itu Abu Musa Al-Asyari dan Amr bin Ash sebagai pendukung Ali Muawiyah juga telah berdosa besar dan kafir karena mau menyetujui Tahkim. Hukum kafir ini semakin luas  meliputi setiap orang  yang berbuat dosa besar seperti pencuri, penzina dan pembunuh kafir bagi pembuat dosa besar benar ini didasarkan dengan ayat Al-qur’an surat An- Nisa : 31.
ﺎًﻤﻳِﺮَآ ًﻼَﺧْﺪﱡﻣ ﻢُﻜْﻠِﺧْﺪُﻧَو ْﻢُﻜِﺗﺎَﺌﱢﻴَﺳ ْﻢُﻜﻨَﻋ ْﺮﱢﻔَﻜُﻧ ُﻪْﻨَﻋ َنْﻮَﻬْﻨُﺗ ﺎَﻣ َﺮِﺋﺂَﺒَآ ْاﻮُﺒِﻨَﺘْﺠَﺗ نِإ
Artinya : Jika kamu  menjauhi  dosa - dosa  besar  di  antara  dosa-dosa yang dilarang kamu  mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Doktrin-doltrin Pokok Khawarij
-Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.
-Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. Dengan demikian setiap orang mulim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat.
-Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman.
-Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ke 7 kekhalifahannya, Utsman r.a dianggap telah menyeleweng.
-Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim), ia dianggap telah menyeleweng.
-Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.
-Pasukan perang  jamal yang melawan Ali adalah kafir dan wajib diperangi pula.
-Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis (kacau) lagi, mereka menganggap bahwa muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menaggung beban harus dilenyapkan pula.
-Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup di dalam dar al-harb (Negara musuh), sedang golongan merekan sendiri dianggap berada dalam dar al-Islam (Negara Islam).
-Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
-Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang yang jahat harus masuk neraka).
-Amar ma’ruf nahi mungkar.
-Memalingkan ayat-ayat al-qur’an yang tampak mutsyabih (samar).
-Al-qur’an adalah makhluk.
-Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.
3. Perkembangan Khawarij

Semua aliran yang bersifat radikal, pada perkembangan lebih lanjut, dikategorikan sebagai aliran khawarij, selama doktrinnya identik dengan aliran ini. beberapa indikasi aliran yang dapat dikategorikan sebagai aliran khawarij, yaitu sebagai berikut :
-Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganit agama Islam.
-Islam yang benar adalah Islam yang mereka fahami dan amalkan, sedangkan Islam yang dipahami dan diamalkan golongan lain tidak benar.
-Orang-orang Islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke Islam yang sebenarnya, yaitu Isla yang seperti mereka fahami dan amalkan.
-Karena pemerintahan dan ulama yang tidak sepaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka memilih Imam dari golongan mereka sendiri yakni Imam dalam arti pemeluk agama dan pemuka pemerintahan.
-Mereka bersifat fanatic dalam faham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan membunuh untuk mencapai tujuan mereka

Khawarij pada awalnya adalah penampilan Islam sebagai kekuatan politik, namun persoalan  menjadi berubah, karena  Khawarij memasukkan Team Kafi dalam pembicaraan mereka apabila tuduhan kafir ditujukan kepada umat Islam. Hukum-hukum baik tentang dosa besar, syirik maupun Terminologi kafir yang harus dikemukakan, semula didasarkan kepada kepentingan-kepentingan politik bergeser menjadi masalah Theologi.
 Pemecahan-pemecahan diantara mereka yang semula didominasi oleh sebab-sebab politik
akhirnya berubah menjadi sekte-sekte aliran theologi Khawarij.

LIHAT FAKTA INI !

 Kelompok  Khalifah  sekte  Al-Muhakimah  dengan  pimpinan Abdullah bin Wahab Al-Raisbi melakukan pemberontakan di Nahrawan serta membunuh Abdullah ibnu Al-Khabbah istrinya. Karena perbuatan mereka kelompok Al-Muhakimah  ini terpaksa dihancurkan  dan dihapuskan  dan dihapuskan Ali.
 
Seorang dari keturunan bani tamim an najb  yang banyak disebut dalam litetur Hadist  Dzul Khuwaisirah atau  Hurqus bin Zuhair  atau Dzu Tsudayyah,Sahabat Rasululah yang kemudian menyimpang , mati terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448], tetapi  sebagian dari kelompok Al-Muhakimah  dapat melarikan diri diantaranya dua orang ke Sijistan, dua orang ke Yaman, dua orang ke Oman, dua orang ke Al-Jazair dan satu orang ke Talmuzan. Sisa-sisa Al-Muhakimah ini kelak membuat kelompok baru yang dikenal dengan sekte Al-Zariqah.

 Sekte Al-Zariqiyah / Azariqah

Sisa-sisa Al-Muhakimah mengadakan kosolidasi dan mendirikan kelompok baru dibawah pimpinan Nafi ibn Al-Zaraqiyah. Mereka golongan yang kuat dan dapat menguasai
Ahwaz serta daerah sekitarnya. Perlu juga diketahui bahwa mereka masih belum melupakan peristiwa pahit karena kekalahan dari pihak Ali akibat ketidak jujuran dari Muawiyah dan rekan-rekannya, sehingga wajar jika ajaran dari theologi mereka sangat keras.

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut : 

1. Semua penduduk yang tidak mampu membantu gerakan mereka adalah musrik. Alasannya
karena mereka menyeru masyarakat kepada seruan Rasul, jadi jika menolak adalah syirik.
2. Wilayah yang tidak menyetujui paham mereka dinilai Daru syirkah.
3.Haram hukumnya  menjalin kasih sayang, pernikahan, serta bermukim ditengah-tengah mereka,
4.haram waris-mewarisi, haram memakan sembelihan mereka,
5.tidak boleh menerima kesaksian mereka, namun boleh membunuh mereka termasuk anak-anak dan wanitanya.
6. Penzina  mukhson boleh  tidak dirajam tapi cukup didera saja, karena nash hanya  menyuruh mencambuknya (Alil milal wa nihal 121).
7. Tidak boleh taqiyah (menyembunyikan pendirian).
8. Dosa besar dan kecil boleh terjadi pada diri nabi.


 Untuk  menjadi   penganut   theologi  Khawarij sekte Azraqiyah harus melalui ujian.  Calon anggota diberi tawanan, jika tawanan itu dibunuhnya berarti ia lulus. Akan tetapi jika tidak dibunuh maka dialah yang dibunuh. Kadang tawanan itu berasal dari sukunya, sehingga putuslah
hubungan dengan sukunya dan semakin eratlah hubungan Azraqiyah

 Sekte An
-Najdah

Karena paham Azraqiyah terlalu keras,  maka orang-orang yang tidak setuju kepada paham itu lantas  memisahkan diri, antara lain rombongan Abu Fudaik  yang pergi menuju
Yamamah. Kelompok mereka semakin besar setelah mampu menarik hati Najdah bin Amir Al- Hanafi beserta rombongannya yang semula berminat bergabung dengan golongan Azraqiyah. inilah  kelompok Sekte Khawarij pimpinan Abu Fudaik bermarkas di yamamah,najdah (nejb) yang  jaringannya luas sampai ke Bahrain, yaman dan Thaif. . Najdah yang di bai’ah tahun 66 H .

Pokok-pokok ajaran mereka adalah : 


1. Haram membunuh anak-anak dan wanita yang tidak sepaham dengan kelompok Najdah.
Namun demikian bagi anak-anak Muslim yang dewasa yang tidak sepaham tetap dinilai kafir (sama dengan pendapat Azraqiyah).
2. Muslim tidak ikut berziarah atau perang bersama mereka tidaklah musrik.
3. Non Muslim (ahluzinnah) yang tinggal diluar daerah Najd, halal dibunuh.
4. Taqiyah demi menyelamatkan diri tidak terlarang.

5. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi dosa besar dan pelakunya akan
musyrik. Allah mungkin akan menghukumnya, tetapi kalaupun Allah menghukumnya tidak akan memasukkannya ke neraka. Dengan demikian asal muslim  itu melaksanakan hal-hal yang fundamental (      Pemikiran Theologi Dan Filsafat Islam) (W.Mothomery Wtt, 1987, hlm.22)


 Sekte Al-Ajaridah

athiah Al-Hanafi yang lari  ke Sijistan bersama temannya yang bernama Abdur Karim
Bin Arsyad membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Al-Ajaridah, (              Abdul Aziz,
 hlm.48)
Menurut golongan Ajaridah mereka tidak mengakui Surat Yusuf yang ada dalam Al-qur’an, sebab menurut mereka, tidak layak ada kisah percintaan di dalam Al-qur’an (  Al-Milal Wal
Nijhal, 1967, hlm.128)

Pokok-pokok ajaran mereka adalah : 

 1.Kaum Muslim yang tidak ikut berperang dari sekte Aj-Jaridah tidaklah muslim.
2. Kaum muslim yang tidak ikut berhijrah ke Dar Islam juga tidak musyrik, karena hijrah itu
tidak wajib, melainkan keutamaan saja. (al-Milal Wa An-Nihal, hlm.128).
 3.Harta yang boleh dijadikan rampasan adalah harta orang yang mati terbunuh dalam
peperangan (Theologi Islam, hlm.17).
4. Anak-anak yang musyrik tidak ikut menjadi musyrik, (Theologi Islam, hlm. 17)

 Sekte Ash-Shuryyah

Sekte ini dipimpin oleh Zaid Ibn Al-Asfar. Mereka berpendapat : 
 
1.Orang Islam tidak turut serta berhijrah tidaklah kafir. 
2.Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka bukanlah Zona Perang (Dar
Alharb). Daerah perang adalah kap pasukan pemerintah (Al-Hilal Wal Nihal, hlm.137). 
3.Tidak semua orang yang berbuat dosa dinilai musyrik. Mereka membagi dosa menjadi
dua kelompok.
-Pertama dosa yang sangsinya hanya didunia seperti membunuh, berzinah
dan  mencuri, ini tidak dinilai kafir.

- Kedua dosa  yang sangsinya di akhirat seperti meninggalkan sholat dan puasa. Pelakunya dinilai kafir. (Theologi Islam, hlm.19). 

4. Kufur terbagi 2, pertama  BI inkar – nik’Mahmuddin. Kedua kufur  bi ingkar Al-
Rububiyah. Jadi istilah Kafir tidak selamanya berarti keluar dari Islam.
5. Boleh takiyah dalam perkataan tapi terlarang dalam perbuatan.
6. Demi keamanan diri, perempuan Islam boleh menikah dengan laki-laki didaerah bukan
Islam. (yang dimaksud dengan kafir adalah muslim yang tidak sepaham dengan mereka). Melihat pendapat-pendapat  mereka maka golongan ini agak moderat dibandingkan dengan golongan lainnya.


 Sekte Ibadiyah

tokoh pembawanya adalah Abdullah bin Ibadi yang memisahkan diri dari kelompok Azariqoh tahun 66 H. pokok-pokok ajaran mereka :

1. Orang Islam diluar kelompok atau yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin
dan bukan pula musrik tetapi kufur nikmat. Syahadatnya diterima, jadi haram dibunuh
dan boleh mengadakan hubungan pernikahan. (Theologi Islam hlm.20).
2. Orang yang berbuat dosa besar adalah  Muwhid (mengesakan Allah tetapi bukan
mukmin). Kalaupun kufur hanyalah kufur Nikmat  bukan kufur Nillah. Jadi tidak dinilai keluar dari agama Islam.
3. Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah alat-alat perang seperti kuda dan senjata,
sedangkan harta  mereka seperti emas dan  perak tidak boleh dirampas  dan harus dikembalikan.

Al-Ibadiyah merupakan kelompok Khawarij yang paling moderat. Jadi tidak heran jika mereka menjalin hubungan harmonis dengan pemerintah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga pemimpin Al-Ibadiyah berikutnya yang bernama Jabir Zayid Al-Azdi sanggup berhubungan hajjad, pang
...BERSAMBUNG PADA ARTTIKEL SELANJUTNYA

1 komentar:

Udin Sarofudin mengatakan...

wah capek bacanya,,,,
tapi kok nggak bisa di copy paste yah....
mau nyebarin ke temen temen ek, tapi kok nggak bisa.......
hhhhhhuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh..........

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys