CEK ID FACEBOOK

Rabu, 19 Desember 2012

KHAWARIJ






            


                                                                    Oleh Von Edison Alouisci



Sejarah munculnya persoalan-persoalan theologi dalam Islam adalah disebabkan faktor-faktor politik pada awalnya setelah khalifah Usman terbunuh, kemudian digantikan pula oleh Ali menjadi khalifah.

Peristiwa tersebut  menurut keyakinan Muawiyah bahwa Ali terlibat dalam kasus pembunuhan Usman. Sedangkan Ali Bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim Al-Quraisy adalah anak paman Rasulullah Saw. dan ibunya bernama Fatimah binti ibnu Manaf.
 Sedangkan Muawiyah / adalah anak kandung Abdu Syanus bersaudara dangan Hasyim bin Abdul Manaf, Hasyim adalah keturunan Abdul Mutalib kakek nabi Muhammad Saw.

Abdul Manaf antara Umayyah dan Hasyim bin Abi Manaf sering terjadi persaingan dalam suku quraisy mereka ingin memiliki kharisma yang  tinggi dikalangan suku quraisy dan mereka termasuk keluarga bangsawan dari suku quraisy selain didukung dengan harta kekayaannya demikian disamping itu pula putra keturunannya  dihormati dikalangan masyarakat karena terkenal dalam keterampilannya dalam berbisnis.  Keadaan tatkala nabi Muhammad  Saw diangkat menjadi Rasul, persaingan terus berlanjut sampai anak cucu mereka bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Pada tahun 8 H kota Makkah dapat dikuasai Abi Sofyan dan Muawiyah masuk Islam pada saat itu Rasullullah Saw ingin mendekatkan keluarga pemannya ke dalam golongan orang- orang yang berjasa  dalam  mengembangkan  Islam karena itu Muawiyah dijadikan anggota menulis wahyu.
Setelah nabi wafat, pada tahun-tahun berikutnya peran Muawiyah dalam pengembangan Islam cukup diakui sampai akhir dia menjadi Gubernur di Yordania dan setelah Yazid (Gubernur Syam) meninggal dunia daerah ini disatukan dan ia menjadi gubernur untuk di wilayah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab (khalifah II) kemudian dilanjutkan sampai pemerintahan khalifah ke III (Usman bin Affan). Kedudukan Umayyah tersebut semakin kokoh pada masa Usman bin Affan, bahkan dia diberi wewenng untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat pemerintah. Hal tersebut menumbuhkan isu kurang baik terhadap khalifah Usman bin Affan sebagai kepala Madinah waktu itu, apalagi Usman dan Muawiyah sama-sama keturunan Bani Umayyah.
Wafatnya Usman  menjadi salah satu profil alasan Muawiyah untuk melakukan pemberontakan terhadap Ali, disamping itu Muawiyah melalui taktik ini ingin mengulangi lagi kekuasaan yang pernah dimiliki bani Umayyah  ketika  masih di zaman  Jahiliyah. Ambisi keturunan Muawiyah menjadi penguasa sejak zaman Jahiliyah terulang kembali dan dengan persoalan politik inilah muncul persoalan dalam Islam.


 SEJARAH TIMBULNYA KHAWARIJ

Pada saat Ali memegang tampuk pimpinan (kepala negara di Madinah) ia melihat bahwa ada beberapa pejabat pemerintah yang diangkat oleh khalifah Usman bin Affan kurang layak menduduki jabatan tersebut sehingga mereka perlu diganti dan diberikan kepada yang berhak, termasuk pejabat yang diberhentikan Ali adalah Muawiyah bin Abi Sufyan yang masih ada hubungan khalifah Usman bin Affan yang mati terbunuh. Muawiyah yang sudah dibenci kepada Ali semakin merasa benci setelah dipecat menjadi Gubernur Damaskus, karena itu pemecatan terhadap dirinya tidak digubris oleh Muawiyah bahkan ia merencanakan untuk menyerang Ali di ibu kota Madinah.

Mendengan isu Muawiyah akan menyerang Ali maka ia pun menyiapkan pasukannya untuk menahan penyerangan tersebut, akhirnya pada tahun 37 Hijriyah terjadilah pertempuran
akbar antara Ali dan pengikutnya sebelah barat sungai Eufrat yang bernama  siffien dan peran
tersebut dalam sejarah dikenal perang Siffien.
Pada saat kemenangan hampir di raih pasukan Ali, maka Amir bin Ash dari kelompok Muawiyah memerintahkan salah seorang pasukannya untuk mengangkat Al-qur’an diatas ujung tombak sebagai tanda minta bertahqim kepada Al-qur’an melihat gelagat yang tanpa didiga itu merasa ragu, khawatir itu semua sekedar tipu muslihat, maka Ali pun menyuruh tentaranya untuk terus bertenpur, maka  ketika itu sebagian tentaranya menentang, kebanyakan mereka menghendaki diadakan  perdamaian dan menerima ajakan Muawiyah. Akibat dari desakan  tentaranya Ali terpaksa menerima tahqim dan menyuruh komandannya Al-Ansyar An-Naka’i menghentikan pertempuran.

 Anehnya setelah Ali setuju, laskar Ali yang semula mendesak untuk bertahqim yang rencananya dilaksanakan bulan Ramadhan tahun 37 Hijriyah, berbalik sikap dan  mereka mendesak Ali agar jangan mau melaksanakan tahqim, dan lebih dari itu mereka menuntut  agat Ali mengaku telah kafir karena kesalahannya mau bertahqim, tentu saja semua ini jelas ditolak oleh Ali. Pada saat tentara Muwiyah mundur ke Syam dan pasukan Ali mundur ke Koufa, kelompok Ali yang mendesak jangan bertahqim tersebut memisahkan diri dan pergi ke Harura dan tidak mau lagi bergabung dibawah pimpinan Ali. Maka mengangkat Abdullah Ibnu Wahab Al-Rasyidi, sebagai imam mereka. Dan kelompok ini dikenal dengan nama Khawarij yang pada awalnya jumlah mereka kurang lebih 12.000 orang.

 Merekapun membenci Muawiyah karena dianggap Agreddor dan membenci Ali karena dianggap lemah. Mereka tersebut khawarij karena keluar dari pasukan Ali, sebagai kelompok tidak setia. Kemudian mereka mengaitkan nama khawarij dengan Al-qur’an dengan maksud nama khawarij itu berkonotasi baik. 
ﺎﻤﻴﺣﺮﻟارﻮﻔﻏ ﷲا نﺎآو ﷲا ىﺎﻋ ﻩﺮﺟا ﻊﻗو ﺪﻘﻓ تﻮﻤﻟا ﻪآرﺪﻳ ﻢﺛ ﻪﻟﻮﺳرو ﷲا ﻰﻟا اﺮﺟﺎﻬﻣ ﻪﺘﻴﺑ ﻦﻣ جﺮﺨﻳ ﻦﻣو
Artinya : Barang   siapa  yang keluar dari rumahnya dengan maksud berziarah kepada Allah  dan Rasul-Nya kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai kepada tempat yang dimaksud) maka sesungguhnya  telah tetap pahala disis  Allah. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (An-Nisa : 100)

Disamping sebutan Khawarij, merekapun menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan kelompok Syurah yakni penjual. Mereka sebagai orang yang menjual (mengorbankan) dirinya untuk mendapatkan ridho Allah. Nama ini dinisbatkan dengan QS. 2 : 207. 
ِدﺎَﺒِﻌْﻟﺎِﺑ ٌفوُؤَر ُﻪّﻠﻟاَو ِﻪّﻠﻟا ِتﺎَﺿْﺮَﻣ ءﺎَﻐِﺘْﺑا ُﻪَﺴْﻔَﻧ يِﺮْﺸَﻳ ﻦَﻣ ِسﺎﱠﻨﻟا َﻦِﻣَو
Artinya : Dan   diantara   manusia   ada   orang  yang mengorbankan dirinya karena mencari  keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Jadi kaum Khawarij disebut juga kaum Syurah, walaupun mereka tidak setuju bertahqim, namun musyawarah dilangsungkan juga, da tempat dilaksanakannya musyawarah di Daumatul Jandal (suatu tempat antara Irak dan Syam). Pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asyari sedangkan pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash.

 Dalam musyawarah ini pihak Ali terjebak tipu muslihat yang dilakukan oleh Muawiyah mereka dianggap pihak yang benar dan tidak  melakukan kesalahan, akhirnya musyawarah ini tidak berakhir dengan baik dengan gagalnya musyawarah ini kelompok Khawarij makin benci Ali, Muawiyah, Abu Musa Al-Asyari dan Amr bin Ash, serta semua pendukung dari pihak Ali dan Muawiyah dan semuanya dianggap berdosa dan kafir.
Persoalan politik ini akhirnya berubah menjadi persoalan theologi karena persoalan kafir atau bukan kafir bukanlah soal politik tetapi masalah theologi.

Kafir adalah orang yang tidak percaya dan lawannya adalah mukmin orang dipercaya. Dalam Al- qur’an kedua kata ini senantiasa dikontraskan. Didalamnya kata kafir dipakai terhadap orang yang tidak percaya pada Nabi Muhammad Saw dan ajaran yang dibawa oleh nabi tersebut, atau orang
yang belum menjadi mukmin dan masuk Islam. Berbeda dengan kaum khawarij kata kafir mereka pakaikan untuk golongan orang mukmin / yang  sduah masuk Islam. Bagi faham golongan Khawarij dalam golongan umat Islam ada yang bersifat kafir, sehingga kafir yang artinya semula di dalam Al-qur’an ditunjukkan pada orang yang tidak percaya kepada ajaran Allah atau orang belum masuk Islam berubah hati, karena Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari serta semua pengikutnya yang setuju kepada pelaksanaan tahqim dianggapp kafir oleh kaum Khawarij, padahal mereka semua adalah Muslim. Dan inilah persoalan kafir mengkafirkan dalam kalangan Islam muncul pertama sekali dilakukan oleh kelompok Khawarij.

Khawarij dinilai sebagai  golongan paling keras dalam aturan  keberagaman,  mereka menentang pandangan ortodoks yang beranggapan bahwa kepercayaan (iman) yang paling utama. Keyakinan dogmatic golongan Khawarij sangat besar mempengaruhi dialektika agama dalam theologi Islam, terutama dalam memahami kodrat dan madar Tuhan. Meskipun beranggapan bahwa dirinya adalah satu-satunya golongan yang kuat dalam memegang semua ajaran dan  hukum Islam.


Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (49. Al-Hujurat : 9)

Dengan merujuk kepada ayat diatas mereka mengambil keiimpulan bahwa Muawiyah harus digempur dan ditundukkan sampai ia atuh dan mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, disamping itu mereka yang menyalahkan Muawiyah karena ia telah melawan dan menyerang kekhalifahan yang sah dan karen ia telah berdosa besar dan dianggap kafir. Disamping  Muawiyah  yang telah berdosa  maka  Ali juga bersalah dan berdosa dan dianggap kafir karena tidak melaksanakan ayat diatas dan malah lebih parah lagi karena Ali mau menerima Tahkim.

Sementara itu Abu Musa Al-Asyari dan Amr bin Ash sebagai pendukung Ali Muawiyah juga telah berdosa besar dan kafir karena mau menyetujui Tahkim. Hukum kafir ini semakin luas  meliputi setiap orang  yang berbuat dosa besar seperti pencuri, penzina dan pembunuh kafir bagi pembuat dosa besar benar ini didasarkan dengan ayat Al-qur’an surat An- Nisa : 31.
ﺎًﻤﻳِﺮَآ ًﻼَﺧْﺪﱡﻣ ﻢُﻜْﻠِﺧْﺪُﻧَو ْﻢُﻜِﺗﺎَﺌﱢﻴَﺳ ْﻢُﻜﻨَﻋ ْﺮﱢﻔَﻜُﻧ ُﻪْﻨَﻋ َنْﻮَﻬْﻨُﺗ ﺎَﻣ َﺮِﺋﺂَﺒَآ ْاﻮُﺒِﻨَﺘْﺠَﺗ نِإ
Artinya : Jika kamu  menjauhi  dosa - dosa  besar  di  antara  dosa-dosa yang dilarang kamu  mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

DOKTRIN-DOLTRIN POKOK KHAWARIJ
-Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam.
-Khalifah tidak harus berasal dari keturuna Arab. Dengan demikian setiap orang mulim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat.
-Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman.
-Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ke 7 kekhalifahannya, Utsman r.a dianggap telah menyeleweng.
-Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim), ia dianggap telah menyeleweng.
-Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.
-Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir.
-Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangar anarkis (kacau) lagi, mereka menganggap bahwa muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menaggung beban harus dilenyapkan pula.
-Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup di dalam dar al-harb (Negara musuh), sedang golongan merekan sendiri dianggap berada dalam dar al-Islam (Negara Islam).
-Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
-Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang yang jahat harus masuk neraka).
-Amar ma’ruf nahi mungkar.
-Memalingkan ayat-ayat al-qur’an yang tampak mutsyabih (samar).
-Al-qur’an adalah makhluk.
-Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan.

3. PERKEMBANGAN KHAWARIJ

Semua aliran yang bersifat radikal, pada perkembangan lebih lanjut, dikategorikan sebagai aliran khawarij, selama doktrinnya identik dengan aliran ini. Harun Nasution mengidentifikasi beberapa indikasi aliran yang dapat dikategorikan sebagai aliran khawarij, yaitu sebagai berikut :
-Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka walaupun orang itu adalah penganit agama Islam.
-Islam yang benar adalah Islam yang mereka fahami dan amalkan, sedangkan Islam yang dipahami dan diamalkan golongan lain tidak benar.
-Orang-orang Islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke Islam yang sebenarnya, yaitu Isla yang seperti mereka fahami dan amalkan.
-Karena pemerintahan dan ulama yang tidak sepaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka memilih Imam dari golongan mereka sendiri yakni Imam dalam arti pemeluk agama dan pemuka pemerintahan.
-Mereka bersifat fanatic dalam faham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan membunuh untuk mencapai tujuan mereka

Khawarij pada awalnya adalah penampilan Islam sebagai kekuatan politik, namun persoalan  menjadi berubah, karena  Khawarij memasukkan Team Kafi dalam pembicaraan mereka apabila tuduhan kafir ditujukan kepada umat Islam. Hukum-hukum baik tentang dosa besar, syirik maupun Terminologi kafir yang harus dikemukakan, semula didasarkan kepada kepentingan-kepentingan politik bergeser menjadi masalah Theologi.
 Pemecahan-pemecahan diantara mereka yang semula didominasi oleh sebab-sebab politik
akhirnya berubah menjadi sekte-sekte aliran theologi Khawarij.

A. Kelompok  Khalifah  sekte  Al-Muhakimah  dengan  pimpinan Abdullah bin Wahab
Al-Raisbi melakukan pemberontakan di Nahrawan serta membunuh Abdullah ibnu Al-Khabbah istrinya. Karena perbuatan mereka kelompok Al-Muhakimah  ini terpaksa dihancurkan  dan dihapuskan  dan dihapuskan Ali, tetapi dari sebagian dari kelompok Al-Muhakimah  dapat melarikan diri diantaranya dua orang ke Sijistan, dua orang ke Yaman, dua orang ke Oman, dua orang ke Al-Jazair dan satu orang ke Talmuzan. Sisa-sisa Al-Muhakimah ini kelak membuat kelompok baru yang dikenal dengan sekte Al-Zariqah.

 Sekte Al-Zariqiyah / Azariqah

Sisa-sisa Al-Muhakimah mengadakan kosolidasi dan mendirikan kelompok baru dibawah pimpinan Nafi ibn Al-Zaraqiyah. Mereka golongan yang kuat dan dapat menguasai Ahwaz serta daerah sekitarnya. Perlu juga diketahui bahwa mereka masih belum melupakan peristiwa pahit karena kekalahan dari pihak Ali akibat ketidak jujuran dari Muawiyah dan rekan-rekannya, sehingga wajar jika ajaran dari theologi mereka sangat keras.

Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut : 

1. Semua penduduk yang tidak mampu membantu gerakan mereka adalah musrik. Alasannya
karena mereka menyeru masyarakat kepada seruan Rasul, jadi jika menolak adalah syirik.
2. Wilayah yang tidak menyetujui paham mereka dinilai Daru syirkah.
3.Haram hukumnya  menjalin kasih sayang, pernikahan, serta bermukim ditengah-tengah mereka,
4.haram waris-mewarisi, haram memakan sembelihan mereka,
5.tidak boleh menerima kesaksian mereka, namun boleh membunuh mereka termasuk anak-anak dan wanitanya.
6. Penzina  mukhson boleh  tidak dirajam tapi cukup didera saja, karena nash hanya  menyuruh mencambuknya (Alil milal wa nihal 121).
7. Tidak boleh taqiyah (menyembunyikan pendirian).
8. Dosa besar dan kecil boleh terjadi pada diri nabi.


 Untuk  menjadi   penganut   theologi  Khawarij sekte Azraqiyah harus melalui ujian.  Calon anggota diberi tawanan, jika tawanan itu dibunuhnya berarti ia lulus. Akan tetapi jika tidak dibunuh maka dialah yang dibunuh. Kadang tawanan itu berasal dari sukunya, sehingga putuslah
hubungan dengan sukunya dan semakin eratlah hubungan Azraqiyah

 Sekte An-Najdah

Karena paham Azraqiyah terlalu keras,  maka orang-orang yang tidak setuju kepada paham itu lantas  memisahkan diri, antara lain rombongan Abu Fudaik  yang pergi menuju Yamamah. Kelompok mereka semakin besar setelah mampu menarik hati Najdah bin Amir Al- Hanafi beserta rombongannya yang semula berminat bergabung dengan golongan Azraqiyah. Najdah yang di bai’ah tahun 66 H beserta rombongannya menguasai daerah Bahrain Hadral Maut Yaman dan Thaib.

Pokok-pokok ajaran mereka adalah : 



1. Haram membunuh anak-anak dan wanita yang tidak sepaham dengan kelompok Najdah.
Namun demikian bagi anak-anak Muslim yang dewasa yang tidak sepaham tetap dinilai kafir (sama dengan pendapat Azraqiyah).
2. Muslim tidak ikut berziarah atau perang bersama mereka tidaklah musrik.
3. Non Muslim (ahluzinnah) yang tinggal diluar daerah Najd, halal dibunuh.
4. Taqiyah demi menyelamatkan diri tidak terlarang.
5. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi dosa besar dan pelakunya akan
musyrik. Allah mungkin akan menghukumnya, tetapi kalaupun Allah menghukumnya tidak akan memasukkannya ke neraka. Dengan demikian asal muslim  itu melaksanakan hal-hal yang fundamental (        Pemikiran Theologi Dan Filsafat Islam) (W.Mothomery Wtt, 1987, hlm.22)


 Sekte Al-Ajaridah

athiah Al-Hanafi yang lari  ke Sijistan bersama temannya yang bernama Abdur Karim
Bin Arsyad membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Al-Ajaridah, (  Abdul Aziz,
 hlm.48)
Menurut golongan Ajaridah mereka tidak mengakui Surat Yusuf yang ada dalam Al-qur’an, sebab menurut mereka, tidak layak ada kisah percintaan di dalam Al-qur’an (            Al-Milal Wal
Nijhal, 1967, hlm.128)

Pokok-pokok ajaran mereka adalah : 

 1.Kaum Muslim yang tidak ikut berperang dari sekte Aj-Jaridah tidaklah muslim.
2. Kaum muslim yang tidak ikut berhijrah ke Dar Islam juga tidak musyrik, karena hijrah itu
tidak wajib, melainkan keutamaan saja. (al-Milal Wa An-Nihal, hlm.128).
 3.Harta yang boleh dijadikan rampasan adalah harta orang yang mati terbunuh dalam
peperangan (Theologi Islam, hlm.17).
4. Anak-anak yang musyrik tidak ikut menjadi musyrik, (Theologi Islam, hlm. 17)

 Sekte Ash-Shuryyah

Sekte ini dipimpin oleh Zaid Ibn Al-Asfar. Mereka berpendapat : 
 
1.Orang Islam tidak turut serta berhijrah tidaklah kafir. 
2.Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka bukanlah Zona Perang (Dar
Alharb). Daerah perang adalah kap pasukan pemerintah (Al-Hilal Wal Nihal, hlm.137). 
3.Tidak semua orang yang berbuat dosa dinilai musyrik. Mereka membagi dosa menjadi
dua kelompok.
-Pertama dosa yang sangsinya hanya didunia seperti membunuh, berzinah
dan  mencuri, ini tidak dinilai kafir.

- Kedua dosa  yang sangsinya di akhirat seperti meninggalkan sholat dan puasa. Pelakunya dinilai kafir. (Theologi Islam, hlm.19). 

4. Kufur terbagi 2, pertama  BI inkar – nik’Mahmuddin. Kedua kufur  bi ingkar Al-
Rububiyah. Jadi istilah Kafir tidak selamanya berarti keluar dari Islam.
5. Boleh takiyah dalam perkataan tapi terlarang dalam perbuatan.
6. Demi keamanan diri, perempuan Islam boleh menikah dengan laki-laki didaerah bukan
Islam. (yang dimaksud dengan kafir adalah muslim yang tidak sepaham dengan mereka). Melihat pendapat-pendapat  mereka maka golongan ini agak moderat dibandingkan dengan golongan lainnya.


 Sekte Ibadiyah

tokoh pembawanya adalah Abdullah bin Ibadi yang memisahkan diri dari kelompok Azariqoh tahun 66 H. pokok-pokok ajaran mereka :

1. Orang Islam diluar kelompok atau yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin
dan bukan pula musrik tetapi kufur nikmat. Syahadatnya diterima, jadi haram dibunuh
dan boleh mengadakan hubungan pernikahan. (Theologi Islam hlm.20).
2. Orang yang berbuat dosa besar adalah  Muwhid (mengesakan Allah tetapi bukan
mukmin). Kalaupun kufur hanyalah kufur Nikmat  bukan kufur Nillah. Jadi tidak dinilai keluar dari agama Islam.
3. Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah alat-alat perang seperti kuda dan senjata,
sedangkan harta  mereka seperti emas dan  perak tidak boleh dirampas  dan harus dikembalikan.


Al-Ibadiyah merupakan kelompok Khawarij yang paling moderat. Jadi tidak heran jika mereka menjalin hubungan harmonis dengan pemerintah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga pemimpin Al-Ibadiyah berikutnya yang bernama Jabir Zayid Al-Azdi sanggup berhubungan hajjad, panglima bani Umayyah yang selalu bersikap keras dalam memerangi kaum Khawarij lainnya.


 
HADIS KHAWARIJ KAITANNYA DENGAN NAJD DAN ARAH TIMUR

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur
Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd..
Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]
Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]
Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar..
Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. [Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]
Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.
Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.
Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah” mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]
Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk [Sirah Ibnu Hisyam 2/562]
Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
TIGA HADIS SAHL BIN HUNAIF  TENTANG KHAWARIJ YANG BERBEDA

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]
Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]
Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkan isyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan “tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].
Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur” yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”
Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.


Abu Said al Khudri menceritakan bahwa Ali sewaktu berada di Yaman menghantarkan Dhahiibah dalam taribahnya kepada Rasulullah. Barang tersebut dibagi-bagikan Rasulullah kepada : Aqra’ bin Habis al Handzali, Aynah bin Badr al Fazari, Alqamah bin Alasah al Amiri, dan salah seorang daripada Bani Kilab, dan Zaid al Khair al Thai, dan salah seorang Bani Nabhan. Pembahagian itu membuat kaum Qurasiy dan Anshar merasa tidak senang sehingga berkata : “Ya Rasulullah, baginda telah memberikannya kepada kelompok Askar daripada Najd dan meninggalkan kami”.
Rasulullah menjawab: ”Aku berbuat demikian, semata-mata untuk menjinakkan hati mereka”.
Abu Said melanjutkan : “Tidak lama kemudian datang seorang lelaki yang buta, lebar dahinya, lebat janggutnya, gundul kepalanya berkata : ”Ya Muhammad, bertakwalah kamu kepada Allah”.
Baginda berkata : ”Siapakah lagi yang akan taat kepada Allah jika aku tidak taat kepadaNya. Dia (Allah) telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk menjaga bumi ini, mengapa engkau tidak percaya kepadaku?”
Abu said melanjutkan: ”selanjutnya seorang lelaki menurut sebagian riwayat Khalid bin Walid telah meminta izin kepada Nabi untuk membunuh lelaki tersebut tetapi baginda melarangnya. Setelah lelaki itu pergi Rasulullah saw bersabda : ”Sesungguhnya dari keturunan lelaki ini nanti akan muncul sebuah kaum yang membaca Al-Quran tetapi ia tidak melepasi pangkal tenggorokan mereka. Mereka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Mereka membunuh umat Islam dan membiarkan umat penyembah berhala. Sekiranya aku menjumpai mereka, niscaya aku akan memerangi mereka seperti yang menimpa kaum Ad”.
(Sahih Bukhari 3344; Sahih Muslim 2451)

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar: Saya melihat Rasulullah menunjuk ke arah timur (Najd), “Lihatlah Penderitaan sungguh akan muncul oleh karena itu, penderitaan sungguh akan muncul oleh karena itu di mana tanduk setan muncul.
(Sahih Bukhari [4:499]).

KEUTAMAAN YANG MEMERANGI KHAWARIJ
Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” [Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]
Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”
Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”.
KESIMPULAN
Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya.
 

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Amin,    Duha al Islam, Beirut : Dar al-Kutb al’Arabiyah, tt, Juz III.
Al-Asyari,     Abi   al-Hasan   Ali bin   Ismail,   Maqalat   al-Islamiyah,   (ed),  Muhammad 
Muhyiddin Abdul Hamid, (Mesir :  Maktabah an- Nahdah al-Misriyah, 1950), Juz I. Al-Baqillani, Kitab at-Tahmid,  (Beirut : al-Maktabah asy-Syarqiyah, 1957).
Ali   Mustafa   Al-Gurabi,    Al-Firaq   al-Islamiyah,   (  Mesir,   Muhammad   Ali Subh wa 
Auladuh, tt)
Al  -  Harmaini,   al - Juwani,   al - Imam,    asy - Syamil   fi   Usul   ad -Din,(Iskandariyah : 
al-Ma’rif, 1969).
Harun  Nasution, teologi  Islam,   Aliran - aliran Sejarah Analisa Perbandingan,     Jakarta : 
Penerbit Universitas Indonesia, 1986)
Muhammad   Abduh,   Rislah   Tauhid,   Alih   Bahasa,   KH.Firdaus   AN,  Jakarta  : Bulan 
Bintang , 1996
Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah, Kairo : Dar al-Fikr al-Arabi, tt.
As-Syahrastani, Al-Milal wa an Nihal, Beirut : Dar al-Kutb al-Ilmiyah, 1992, Juz I 
Al-qur’an Al-Karim. 

0 komentar:

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys