CEK ID FACEBOOK

Minggu, 10 Februari 2013

AKIDAH YAHUDI.AKIDAH KRISTEN.AKIDAH WAHABI.AKIDAH RASALULLAH.AKIDAH ULAMA KHALAF DAN SALAF.AKIDAH ASWAJA


AKIDAH YAHUDI :  

Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسًا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عنيمينه و عن يساره
“Berkata :

 DENGARKANLAH ENGKAU KATA-KATA TUHAN,TELAH KU LIHAT TUHAN DUDUK DI ATAS KURSI DAN KE SEMUA TENTERA LANGIT BERDIRI DI SEKITARNYA KANAN DAN KIRI” .
AKIDAH KRISTEN :

Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
Lihat pada :
عاشرا: ذكر عنه ما ورد عن الله في العهد القديم
Kristiani berkata pada nomor 7 :
“الله جالس على الكرسي العالي” (اش 6 :1-10) .
Artinya: “ALLAH DUDUK DI ATAS KURSI YANG TINGGI”.



AKIDAH GOLONGAN WAHABI :

1.dalam kitab wahhabi : fathul majid syarh kitab at-tauhid karangan abdur rahman bin hasan al as-syeikh disohihkan oleh abdul aziz bin abdullah bin baz .
Cetakan pertama tahun 1992 bersamaan 1413 maktabah darul faiha dan maktabah darul salam.
Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:
” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.

2.Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :
إن محمدًا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه
“SESUNGGUHNYA MUHAMMAD RASULULLAH, TUHANNYA MENDUDUKKANNYA DIATAS ARASY BERSAMANYA”.
3. Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سُمِع له أطيط كأطيط الرَّحل الجديد
Artinya: ”

APABILA TUHAN DUDUK DI ATAS KURSI MAKA AKAN TERDENGARLAH BUNYI SEPERTI KURSI BARU DIDUDUKI”.


Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.


Ini contoh bukti otentik  yang siapapun boleh membuktikannya jika wahabi akidah jisim sama dengan kaum kafir tulen.Apapun Alasan kajian dan analisa wahabi terkait masalah akidah  dalam memahami ayat ayat mutyasibat  tidak akan pernah benar  selagi akidahnya tidak sama dengan akidah Rasulullah.


AKIDAH RASULULLAH

sekarang  mari kita pahami akidah raslulullah yang notabenya lebih tahu maksudnya ketimbang ahli agama  manapun. 


Perhatikan pendapat rasalullah :

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud.sanad sahih).

Rosulalloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda sesungguhnya allah subhanahu wata'ala itu wujud dan tak ada sesuatu apa pun selainnya ruang dan waktu. (h.r bukhori sanad sahih)

Rosulalloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

فَقُولُوا اللَّهُ كَانَ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ خَالِقٌ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ كَائِنٌ بَعْدَ كُلِّ شَيْءٍ "

katakanlah allah subhanahu wata'ala wujud sebelum ada sesuatu apa pun, dan dia yang menciptakan segala sesuatu dan ia tetap (seperti sebelumya tak membutuhkan ruang dan waktu) meskipun setelah ada sesuatu. (h.r baihaqi.Disahihkan imam Bukhari ).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Rasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka   ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)


AKIDAH SAHABAT


Pendapat rasulullah di ikuti  sahabat rasulullah (kulafou` rasydin)


Sahabat rasulullah  'ali bin abi thalib ra

berkata :"Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir."
Seorang bertanya kepadanya :"Wahai Amirul Mu'minin, apakah sebab kekufuran mereka. Adakah karena membuat ajaran baru? Atau karena pengingkaran?
Sahabat Ali bin Abi Thalib menjawab :"MEREKA MENJADI KAFIR KARENA PENGINGKARAN. MEREKA MENGINGKARI PENCIPTA MEREKA (ALLAH SWT) DAN MENSIFATINYA DENGAN SIFAT-SIFAT BENDA DAN ANGGOTA-ANGGOTA BADAN." ("Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mu'tadi).

Dari ibn umar rodliayallohu 'anhu

 berkata” sesungguhnya rosulalloh shollallohu 'alaihi wasallam berkata : hai dzat yang wujud (ada) sebelum ada sesuatu dan yang menciptakan akan segala sesuatu.(h.r. Baihaqi fiil asmai wasifat)

AKIDAH ULAMA KHALAF DAN SALAF


pendapat rasulullah  dan sahabat diikuti  ulama khalaf,salaf dan semua generasinya  yakni ulama ulamaa besar  ahlusunnah wala jama`ah (sunni atau aswaja) diseluruh dunia


 ibn al mu’allim al qurasyi (w. 725 h)
menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

 imam al-syafi'iyy rahimahullah  (204h)

 berkata
 “Dalil bahwa Allah wujud tanpa tempat adalah Allah Ta'ala telah wujud sebelum wujudnya tempat, kemudian Allah menciptakan tempat dan Allah tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum terciptanya tempat, maka tidak harus berlaku perubahan pada zat-Nya dan begitu juga tiada pertukaran pada sifat-Nya”.

Kenyataan Imam al-Syafi'iyy tadi dinyatakan oleh Imam al-Hafiz Murtadha az-Zabidyy di dalam kitab beliau berjudul Itihaf al-Sadah al-Muttaqin juz kedua, hal 36 Dar al-Kutub al'ilmiyyah.

Imam al-hafiz ahmad bin salamah abu ja'far al-tahawiyy

 Imam yang terkenal dengan karangan kitab aqidah beliau berjudul 'Aqidah al-Tahawiyyah bernama Imam al-Hafiz Ahmad bin Salamah Abu Ja'far al-Tahawiyy wafat pada 321 Hijriyyah (merupakan ulama Salaf) telah menyatakan dalam kitab beliau tersebut pada halaman 15, cetakan Dar al-Yaqin yang artinya:

“Allah tidak berada (tidak diliputi) pada enam penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang) separti sekalian makhluk”.

Imam hujjah al-islam abu hamid al-ghazaliyy (Imam alqazaly)

yang wafat pada 505 Hijriyyah menyatakan dalam kitab beliau yang masyhur berjudul Ihya 'Ulum al-Din :

“Dan Allah juga tidak diliputi oleh tempat dan Allah tidak diliputi arah enam dan Allah tidak pula dilimputi oleh langit dan bumi.” Kitab Ithaf al-Sadah al-Muttaqin Fi Syarh Ihya' „Ulum al-Din, juzuk 2, hal 36, cetakan Dar al-Kutub 'Ilmiyyah, Beirut.


Al-imam abu hanifah
berkata:

أنـّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَـهُ
"mustahil allah menyerupai makhluk-nya".
Dengan demikian allah tidak menyerupai makhluk-nya, dari satu segi maupun semua segi.

Berkata dalam kitab fiqhul akbar :

كَانَ الله تَعَالَى وَلَا مَكَان قبل ان يخلق الْخلق وَكَانَ الله تَعَالَى وَلم يكن أَيْن وَلَا خَلْقُ وَلَا شَيْءُ وَهُوَ خَالقُ كُلِّ شَيْءٍ إهـ
(الفقه الأكبر)

allah subhanahu wata'ala wujud dan tak membutuhkan tempat, sebelum menciptakan makhluk, allah subhanahu wata'ala wujud dan tak ditanyakan dimana (tak terkurung oleh ruang dan waktu), allah ta'ala wujud dan tak ada makhluk dan sesuatu apapun dan dia (allah subhanahu wata'ala) adalah pencipta akan semua perkara.(al-faqihu akbar)

 al-imam malik

berkata:

وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ

"kayfa ( bagaimana; sifat-sifat benda) itu mustahil bagi allah".
Perkataan al-imam malik ini diriwayatkan oleh al-hafizh al-bayhaqi dengan sanad yang kuat. Maksud perkataan al-imam malik ini adalah bahwa allah maha suci dari al kayf (sifat makhluk) sama sekali. Definisi al kayf adalah segala sesuatu yang merupakan sifat makhluk seperti duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak dan lain–lain.

الْمَحْدُوْدُ عِنْدَ عُلَمَاءِ التّوْحِيْدِ مَا لَهُ حَجْمٌ صَغِيْرًا كَانَ أوْ كَبِيْرًا، وَالْحَدُّ عِنْدَهُمْ هُوَ الْحَجْمُ إنْ كَانَ صَغِيْرًا وَإنْ كَانَ كَبِيْرًا، الذَّرَّةُ مَحْدُوْدَةٌ وَاْلعَرْشُ مَحْدُوْدٌ وَالنُّوْرُ وَالظَّلاَمُ وَالرِّيْحُ كُلٌّ مَحْدُوْدٌ.

"menurut ulama tauhid yang dimaksud dengan al-mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran dan disebut mahdud demikian juga arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran dan disebut mahdud ".


Al-imam abu ja'far ath-thahawi ( 227-321 h)
berkata:

تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

"maha suci allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut".

Al-imam ahmad ar-rifa'i (w 578 h)

dalam al-burhan al-mu-ayyad berkata:

صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ

“hindarkan aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al qur'an dan hadits yang mutasyabihat, sebab hal demikian merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Beliau  juga berkata:

غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ الإيْقَانُ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى بِلاَ كَيْفٍ وَلاَ مَكَانٍ

“puncak pengetahuan seseorang itu kepada allah adalah dengan berkeyakinan bahwa allah ada tanpa sifat benda dan tanpa tempat“.

Imam ahmad bin hanbal : dia (allah) istawa sepertimana dia khabarkan (di dalam al quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh imam al-rifae dalam kitabnya al-burhan al-muayyad, dan juga al-husoni dalam kitabnya dafu’ syubh man syabbaha wa tamarrad. Begitu pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh al bukhari atasperkataan sayyidina ali ibn abi thalib radhiallaahuanh: "allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan dia (allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula ada tanpa tempat" (dituturkan oleh al imamabu manshur al baghdadi dalam kitabnya al farqu bayna al firaq hal. 333).


Al-hafid imam ibn hiban (penulis dan ahli hadits)

berkata dalam kitabnya menukil dari al-imam ibn hatim :

« كَانَ الله تَعَالَى وَلَا زَمَانَ وَلَا مَكَانَ »
(صحيح ابن حبان)

sesungguhnya allah subhanahu wata'ala wujud dan tidak ada waktu dan tidak ada tempat (tak berada dalam waktu tak berada dalam tempat)
(shohih ibn hibban disepakati imam bukhari)

 imam ibn jauzi

 berkata dalam buku beliau Al-Fatawa Al-Hindiyah: "Seseorang itu bisa jatuh pada hukum kafir jika menisbahkan tempat bagi Allah s.w.t..." (2/259)Imam Al-Kabir Sheikh Abdul Qohir bin Tohir At-Tamimi berkata: "Telah sepakat (ulama' ahlus sunnah wal jamaah), bahawasnya Allah s.w.t. Itu tidak bertempat dan tidak takluk dalam ruang waktu" (Al-Firaq baina Al-Firaq: 333).


AKIDAH SEBAGIAN  ULAMA BESAR DUNIA AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH (ASWAJA ATU SUNNI)


al-shaykh  abdul-basit al-fakhuri al-shafi^i mufti wilayah bayrut (w. 1323 h).

Beliau berkata dalam kitabnya al-Kifayah li-Dhawil-^Inayah (hlm. 13): "Dia bukanlah suatu jirim yang mengambil suatu kadar dari lapang. Oleh itu, tiada suatu tempat bagi-Nya. Dan Dia bukanlah suatu ^arad (yaitu suatu sifat yang mendatang) yang berdiri dengan jirim, Dia bukanlah di suatu arah dari pelbagai arah dan Dia tidak disifatkan dengan saiz besar dan tidak juga saiz kecil. Dan setiap apa yang tergambar di benak anda maka Allah bersalahan dengannya". Intaha.

 Beliau berkata dalam kitabnya al-Majalisus-Sunniyyah (hlm. 2) yaitu di pembukaan kitab tersebut: "Allah maha suci dari tempat dan masa". Intaha. Beliau berkata lagi dalam kitabnya al-Majalisus-Sunniyyah (dalam bentuk puisi) di halaman 119: "Tidak sepantasnya bagi Tuhan yang Maha Esa lagi al-Samad itu bertempat di suatu tempat sedangkan Dia-lah penciptanya. Bahkan, Tuhan-ku ada (azali) sedangkan tiada suatu arasy pun, tiada suatu malaikat pun dan tiada suatu langit pun. Tuhan Arasy telah mengadakan Arasy itu. Dan setiap sesuatu yang di suatu tempat maka dia sentiasa memerlukan tempat dan diliputi oleh batasanya".


al-shaykh salim al-bishri al-misri shaykhul-azhar (w. 1335 h). al-shaykh salamah al-quda^i al-^azami al-shafi^i (w. 1376 h)

Beliau berkata dalam kitabnya Furqanul-Qur'an (hlm. 74) bahawa al-Shaykh Salim al-Bishri berkata: "Ketahuilah - semoga Allah menolong kamu dengan taufik-Nya dan menolongkan kami dan kamu ke jalan-Nya yang lurus - bahawa mazhab al-Firqatun-Najiyah (Golongan Selamat) dan perkara yang telah diijmakkan oleh golongan Sunni (Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah) ialah bahwa sesungguhnya Allah taala maha suci dari persamaan dengan perkara baru (makhluk) yaitu menyalahi perkara baru itu dalam semua sifat baru. Dan antara perkara yang diijmakkan itu ialah Allah maha suci dari arah dan tempat sebagaimana bukti-bukti yang disepakati telah menunjukkan masalah itu".

al-shaykh yusuf al-nubhani al-shafi^i al-bayruti (w. 1350 h).

Beliau berkata kitabnya al-Ra'iyyatul-Kubra (sebuah karya puisi) di halaman 3: "Maka tiada suatu arahpun yang meliputi-Nya, tiada suatu arah bagi-Nya. Tuhan-ku maha suci dari arah tersebut dan Dia maha tinggi dari segi martabat"
al-sharif al-shaykh ^abdul-majid al-maghribi al-hasani (w. 1352 h) setiausaha fatwa di tripoli (syam).

Beliau berkata dalam kitabnya Risalah ^Ilmiyyah fil-Isra' wal-Mi^raj (hlm. 24): "Allah tidak diliputi oleh suatu tempat pun, tidak dibatasi oleh suatu arah, tidak di atas dan tidak di bawah. Allah taala ada pada keazalian-Nya dan tiada suatu pun dari sekalian makhluk, tempat dan arah secara mutlak (pada keazalian-Nya)". Intaha.

Beliau berkata dalam kitabnya al-Kawkibush-Sharqi fi Radd Nazariyyah Labalas wa-Rufaqa'ihi (hlm. 57): "Dan hendaklah diketahui di sini bahawa Allah itu pencipta sekalian makhluk dan (Dia-lah) yang mengadakannya, wajib pada akal bahawa Dia bukanlah suatu yang bersamaan dengan sesuatu dari mahkluk dari setiap segi. Dan tiada suatu pun dari sekalian makhluk ini melainkan ia dibatasi oleh tempat dan disempadani oleh arah. Dan setiap suatu tempat itu adalah suatu yang disempadani. Dan setiap suatu yang disempadani dan dibatasi itu pula adalah suatu yang baharu (iaitu yang kewujudannya didahului dengan ketiadaan), sedangkan Allah itu qadim (yang kewujudan-Nya tidak didahului dengan ketiadaan), maka tidak boleh pada akal untuk mengatakan bahawa Allah itu ada di suatu tempat atau dibatasi oleh suatu arah".

al-shaykh mahmud ibn muhammad khattab al-subki (w. 1352 h) salah seorang dari mashayikh al-azhar al-sharif.

Beliau berkata dalam kitabnya Ithaful-Ka'inat bi-Bayan Madhhabis-Salaf wal-Khalaf fil-Mutashabihat (hlm. 5): "Dan adapun mazhab Salaf dan Khalaf dengan nisbah kepada ayat-ayat dan hadis-hadis mutashabihat, maka sesungguhnya telah sepakati oleh semua mereka itu bahawa Allah taala itu maha suci dari segala sifat makhluk. Oleh itu, maka tiada bagi Allah ^azz wa-jall itu suatu tempat di Arasy, tiada juga di langit dan tiada juga di selain dari dua ini. Dan Dia tidak disifatkan dengan hulul (meresap) dalam suatu makhluk, tidak juga disifatkan dengan sifat bersambungan dengan suatu makhluk, tidak juga disifatkan dengan sifat perubahan dan perpindahan dan seumpamanya dari sekalian sifat perkara baharu (mahkluk)".


al-sharif al-muhaddith al-khatib al-shaykh ^abdul-fattah al-za^bi al-hasani al-lubnani al-tarabulsi (w. 1354 h) naqib al-ashraf di tripoli (syam).
Beliau berkata dalam kitabnya al-Mawa^iz al-Hamidiyyah fil-Khutubil-Jum^iyyah (hlm. 85): "Bagaimanakah akal boleh mengenali (Tuhan) yang maha suci dari kammiyyah (persoalan bilangan), kayfiyyah (persoalan bagaimana) dan ayniyyah (persoalan tempat). Maka kamu hendaklah mensucikan Tuhan kamu dan mengkuduskan-Nya dari segala lintasan fikiran".




al-sharif waliyyullah al-muhaddith al-akbar al-shaykh muhammad badrud-din ibn al-shaykh yusuf al-hasani al-dimashqi (w. 1354 h).
Beliau telah menghuraikan matan al-^Aqidah al-Shaybaniyyah, antara maksud matan tersebut (dalam bentuk puisi) ialah: "Aku akan sentiasa memuji Tuhan-ku kerana taat dan ta^abud dan aku menyusun suatu simpulan di dalam aqidah dalam hal aku bertauhid. Maka tiada suatu arah pun yang meliputi Tuhan dan tiada bagi-Nya suatu tempat dalam hal Dia maha suci dari kedua-dua perkara itu dan Dia maha mulia. Lantaran alam itu suatu yang dicipta dan Tuhan-ku itu pula pencipta, nescaya Dia ada (azali) sebelum alam sebagai Tuhan dan tuan. Dan tiada suatu pun yang sama seperti Allah, dan tiada suatu yang sama dengan-Nya dalam hal Tuhan kita maha suci dari disempadani..."

al-sharif al-shaykh muhammad ibn ibrahim al-husayni al-tarabulsi (w. 1359 h).

Beliau berkata dalam kitabnya Tafsirul-Qur'anil-Karim (hlm. 101) ketika mentafsir ayat 55 surah al-Baqarah: "Mereka menyangka bahawa Dia subhanahu wa-ta^ala itu sebahagian daripada perkara yang menyerupai jisim dan yang boleh dikaitkan kepada penglihatan dalam hal perkaitan penglihatan tersebut dengan jisim berdasarkan cara pertentangan dalam arah dan ruang. Dan tiada keraguan pada kemustahilannya".
al-^allamah al-shaykh yusuf al-dijwi al-misri (w. 1365 h) salah seorang ulama besar di al-azhar al-sharif.

Beliau berkata dalam Makalah  al-Azhar (jil. 7, juz. 4, Muharam 1357 H) ketika mentafsir ayat 1 surah al-A^la: "Al-A^la - Yang Maha Tinggi - itu sifat Tuhan, dan yang dikehendaki dengan ketinggian ialah ketinggian dengan kekuatan dan kekuasaan bukannya dengan tempat dan arah lantaran kemahasucian-Nya dari perkara itu".


al-^allamah al-shaykh muhammad zahid al-kawthari al-hanafi (w. 1371 h) wakil al-mashikhah al-islamiyyah di negara khilafah uthmaniyyah.

Beliau berkata dalam kitabnya Maqalat al-Kawthari (Maqal al-Isra' wal-Mi^raj, hlm 452): "Penyucian Allah subhanahu dari tempat serta segala yang dinisbahkan dengan tempat, dan masa serta segala yang dinisbahkan kepada masa adalah aqidah Ahlul-Haqq (Ahlus-Sunnah wal-Jama^ah) meskipun golongan al-Mujassimah yang berterus terang dan yang tidak terang pendapat mereka marah terhadap perkara tersebut". Intaha. Beliau berkata dalam kitabnya Takmilah al-Radd ^ala Nuniyyah Ibnil-Qayyim (hlm. 88): "Maka dengan itu zahirlah kebatilan pegangan dengan kalimah "fawq" dalam ayat-ayat dan hadis-hadis bagi menetapkan arah bagi-Nya ta^ala. Allah maha suci dari tanggapan kaum al-Mujassimah".

al-^allamah al-shaykh mustafa wuhayb al-barudi al-tarabulusi (w. 1372 h).
 Beliau berkata dalam kitabnya al-Fawzul-Abadi fil-Hadyil-Muhammadi (hlm. 73): "Sesungguhnya Allah taala itu maha suci zat(-Nya) dari penentuan dengan sebarang tempat dan masa. Dan ini satu asas daripada asas-asas aqidah iman kerana jika Dia memerlukan tempat nescaya Dia adalah baharu (suatu yang ada yang didahului dengan tiada). Dan sebenarnya dalil yang menunjukkan wajib bagi Allah itu bersifat qidam (sifat yang tidak didahului dengan ketiadaan) dan mustahil atas-Nya bersifat ^adam (ketiadaan) telah nyata, dan kerana segala arah ini Dia-lah yang telah menciptakannya"


al-shaykh muhammad al-khidr husayn al-tunisi (w. 1378 h) shaykhul-azhar.
 Dinyatakan dalam majalah al-Hidayah al-Islamiyyah (juz. 12, jil. 4) yang beliau mengetuainya: "Sesungguhnya kejisiman menuntut tempat berhenti dan tempat. Dan sebenarnya telahpun pasti bahawa itu mustahil bagi Allah".


al-hafiz al-muhaddith al-mujtahid al-shaykh al-sayyid ahmad ibn muhammad ibn al-siddiq al-ghumari al-maghribi (w. 1380 h).

 Beliau berkata dalam kitabnya al-Minahul-Matlubah fi Istihbab Raf^il-Yadayn fid-Du^a' ba^das-Salawatil-Maktubah (yang dihimpunkan dalam sebuah kitab yang berjudul Thalath Rasa'il fi Istihbab al-Du^a', hlm. 61 - 62): "Maka jika dikatakan: "Jika (Allah) al-Haqq subhanahu itu tiada di suatu arah, maka apakah makna perbuatan mengangkat kedua-dua tangan kerana berdoa ke arah langit? Maka jawapannya ialah sebagaimana yang dinukilkan (oleh al-Hafiz al-Mujaddid al-Lughawi Muhammad Murtada al-Zabidi) di dalam kitab Ithafus-Sadatil-Muttaqin (jil. 5, hlm. 34 - 35) daripada al-Turtushi - al-Maliki - dengan dua cara: Pertamanya; bahawa sesungguhnya perbuatan mengangkat dua tangan itu suatu kedudukan ta^abbud (peribadatan) seperti perbuatan menghadap Kaabah ketika solat dan perbuatan menempelkan dahi ke bumi ketika sujud berserta mensucikan-Nya subhanahu dari tempat al-Bayt[ul-Haram] dan tempat sujud. Oleh itu, seolah-olah langit itu kiblat doa. Keduanya; sesungguhnya oleh kerana langit itu tempat jatuh rezeki dan wahyu dan sebagai tempat rahmat dan barakah, di atas makna bahawa hujan itu sentiasa turun dari langit ke bumi lalu hujan itu mengeluarkan suatu tumbuhan, dan langit juga tempat al-Mala'ul-A^la. Oleh itu, jika Allah menqada'kan suatu perkara maka Dia mencampakkannya kepada mereka, lalu mereka mencampakkannya kepada penduduk bumi. Demikian juga amalan diangkat. Dan di langit juga ada bukan seorang daripada kalangan para nabi, padanya ada syurga - iaitu syurga berada di atas langit ketujuh - yang merupakan kemuncak cita-cita. Oleh kerana langit itu menjadi suatu lombong bagi perkara-perkara besar ini dan juga sebagai makrifah al-Qada' dan al-Qadar maka azam yang kuat beralih kepada langit dan sebab-sebab tertumpu kepada langit"
al-muhaddith al-shaykh muhammad ^arabi al-tabban al-maliki (w. 1390 h) guru di madrasah al-falah dan di al-masjidil-haram.

Beliau berkata dalam kitabnya Bara'atul-Ash^ariyyin (jil. 1, hlm. 79): "Mereka yang berakal daripada golongan Ahlus-Sunnah yang bermazhab al-Shafi^i, bermazhab al-Hanafi, bermazhab al-Malik, tokoh-tokoh utama yang bermazhab al-Hanbali dan selain mereka bersepakat bahawa Allah tabarak wa-ta^ala itu maha suci dari arah, kejisiman, batas, tempat dan persamaan dengan segala makhluk-Nya".
al-shaykh muhammad al-tahir ibn ^ashur al-maliki (w. 1393 h) ketua para mufti mazhab maliki di tunisia dan shaykh jami^ al-zaytunah dan cawangan-cawangan jami^ al-zaytunah di tunisia.

Beliau berkata dalam kitab tafsirnya al-Tahrir wat-Tanwir (jil. 29, hlm. 33): "Firman-Nya - taala - [yang mafhumnya] ((yang di langit)) di dua tempat tersebut (iaitu dalam ayat 16 dan 17 surah al-Mulk) dari segi makna yang kesamaran yang zahirnya memberi makna bertempat di suatu tempat, dan itu tidak layak dengan Allah"
al-shaykh ^abdul-karim al-rifa^i al-dimashqi (w. 1393 h) salah seorang murid khusus al-sharif al-muhaddith al-akbar al-shaykh muhammad badrud-din al-hasani.

Beliau berkata dalam kitabnya Kitabul-Ma^rifah fi Bayan ^Aqidatil-Muslim (hlm. 55 dan 57): "Mustahil bagi Allah itu ada sifat persamaan dengan perkara baharu, pergantungan dengan masa dan tempat, berada di suatu arah atau ada suatu arah bagi-Nya".


al-sharif al-shaykh muhammad abul-yusr ^abidin al-husyani (w. 1401 h) mufti syria.
Beliau berkata dalam kitabnya al-Ijaz fi Ayatil-I^jaz: "Ketahuilah sesungguhnya telah diakui dalam agama Islam bahawa Allah taala itu tiada suatu tempat dan suatu masa bagi-Nya, dan Dia-lah Tuhan [yang mencipta dan mentadbir] masa dan tempat. Dan sesungguhnya tempat-tempat yang disandarkan kepada-Nya taala itu hanya disandarkan untuk pemuliaan kerana Dia telah memuliakan tempat-tempat tersebut. Lalu disebut "BaytuLlah" [rumah Allah]".


al-muhaddith al-shaykh al-sayyid ^abdullah ibn muhammad ibn al-siddiq al-ghumari (w. 1413 h).
Beliau berkata dalam kitabnya Qasasul-Anbiya' (hlm. 11): "Allah ada (azali) dan tidak ada suatu pun selain-Nya. Oleh itu, tiada suatu masa pun, tiada suatu tempat pun, tiada suatu ruang pun, tiada suatu detik pun, tiada suatu arasy pun, tiada suatu malaikat pun, tiada suatu bintang pun dan tiada suatu orbit pun. Kemudian Dia mengadakan alam ini tanpa berhajat kepadanya, dan jika Dia mahu maka Dia boleh tidak mengadakannya. Oleh itu, seluruh alam ini dengan suatu yang ada di dalamnya terdiri daripada jauhar, ^arad adalah suatu yang baharu wujud dari ketiadaan..."


al-^alimul-^allamah al-shaykh ^abd rabbih ibn sulayman ibn muhammad ibn sulayman yang dikenali dengan panggilan al-qalyubi al-misri salah seorang dari ulama al-azhar.

Beliau berkata dalam kitabnya Faydul-Wahhab fi Bayan Ahlil-Haqq (jil. 2, hlm. 26 - 27): "Kami berkata: "Antara yang telah diakui menurut dalil aqli dan dalil naqli bahawa Allah taala itu Tuhan yang qadim (iaitu yang kewujudan-Nya tidak didahului dengan ketiadaan) lagi yang tidak memerlukan setiap sesuatu selain-Nya dan selain-Nya itu pula memerlukan-Nya. Oleh itu, bagaimana Dia bertempat di langit sedangkan sifat bertempat itu adalah dalil keberhajatan. Dan sesungguhnya jika Dia taala itu ada di suatu tempat nescaya Dia adalah perkara yang boleh dikadarkan, sedangkan sesuatu yang boleh dikadarkan itu adalah suatu yang baharu (iaitu suatu yang kewujudannya didahului dengan ketiadaan), sedangkan Allah taala itu qadim, maka sifat bertempat di suatu tempat atau suatu arah itu mustahil bagi-Nya".


samahatush-shaykh hasanayn muhammad hasanayn makhluf (w. 1410 h) mufti mesir.

Beliau berkata dalam kitabnya Mukhtasar Sharh ^Aqidah Ahlil-Islam (hlm. 12 - 13): " - Sesungguhnya Allah - maha suci dari segala kekurangan dan sifat- sifat kebaharuan (iaitu sifat-sifat makhluk). Dan antara sifat-sifat kekurangan dan makhluk itu ialah masa dan tempat. Oleh itu, Allah tidak diiringi oleh suatu masa dan tidak diliputi oleh suatu tempat lantaran Dia-lah pencipta bagi kedua-dua perkara tersebut, maka bagaimana mungkin Dia memerlukan kepada kedua-dua perkara itu pula?!".


KESEMUA ULAMA SALAF DAN KHALAF DAN GENERSINYA (SEMUA PENGIKUT AHLUSSUNNAH WALJAMA`AH)  MENTAKWIL AYAT MUTASYABIHAT DARIPADA ZAHIRNYA KARNA JGN SAMPAI MENYIMPANG DARI MAKSUD RASULULLAHBanyak di kalangan para penceramah aqidah menyalah artikan perkara ini dengan mengatakan ulama Salaf tidak langsung mentakwilkan ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah, hanya ulama Khalaf sahaja yang mentakwilkan ayat tersebut. Ini adalah tanggapan yang tidak langsung berunsurkan pengkajian yang sebenar kerana dari pentakwilan Imam al-Bukhariyy yang dinukilkan di atas serta takwilan beliau dalam Sahih al-Bukhariyy juga pada ayat 56, Surah Hud jelas menunjukkan beliau sebagai ulama Salaf telah mentakwilkan ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniyy di dalam Fath al-Bariyy Syarh Sahih al-Bukhariyy ( يراخبلا حيحص حرش يرابلا حتف ) pada menyatakan hadith al-dhahik “ كحضلا ” (ketawa) berkata:
“Al-Bukhariyy telah mentakwilkan hadith al-dhahik “ كحضلا ” (ketawa) dengan erti rahmat dan redha.”
Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22, Surah al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sahih oleh Imam Bayhaqiyy dalam kitab Manaqib Ahmad ( دمحأ بقانم ) dari Imam Ahmad:
Firman Allah: “Dan telah datang Tuhanmu” ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan: Telah datang kekuasaan Tuhanmu.
Antara ulama Salaf yang mentakwilkan secara tafsiliyy iaitu terperinci pada ayat 5 dalam Surah Taha adalah Imam Salaf Abu ‘Abd al-Rahman ‘Abd Allah bin Yahya bin al-Mubarak wafat 237 Hijriyyah dalam kitab Gharib al-Qur’an Wa Tafsiruhu ( هريسفتو نآرقلا بيرغ ) halaman 113, cetakan Mu’assasah al-Risalah, Beirut:
Firman Allah: “Al-Rahman di atas ‘arasy ber-istawa”, istawa di sini ertinya menguasai.
Di antara ulama Khalaf pula yang mentakwilkan ayat tersebut secara tafsiliyy adalah Imam ‘Abd al-Rahim bin ‘Abd al-Karim bin Hawazan atau lebih dikenali sebagai Imam al-Qushayriyy telah mentakwilkannya dalam kitab beliau al-Tazkirah al-Syarqiyyah ( ةيقرشلا ةرآذتلا ):
“Al-Rahman di atas ‘arasy ber-istawa”, istawa di sini ertinya menguasai, menjaga dan menetapkan ‘arasy.
Maka natijahnya bahawa kedua-dua jalan pilihan ulama Salaf dan Khalaf adalah benar dan tidak menyimpang krana kedua-duanya mentakwilkan cuma bedanya kebanyakan Salaf mentakwil secara ijmaliyy dan kebanyakan Khalaf mentakwil secara tafsiliyy.


semua data yang  penulis in hanya sebagian saja dari sangat banyaknya penjelaskan Ulama Ulama mukhtbar yang  intinya mengatakan” ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TIDAK BERARAH” berbeda dengan pendapat golongan wahabi,mutazillah,kristen dan Yahudi.

Sungguh Aneh Jika golongan Wahabi Mengaku pengikut salafus Sholeh Namun Akidahnya bertentangan dgn salafus Sholeh bahkan menyimpang dari maksud Rasulullah  sesungguhnya.




SEKARANG   MARI  KITA TANYA “ SIAPA YANG TERSESAT??


Penulis : Von Edison Alouisci
Websites:
http://v-e-alouisci.blogspot.com
http://vonedison.blogspot.com
http://vonedison.wordpress.com
Pages Facebook :
http://www.facebook.com/von.edison alouisci

2 komentar:

New Top Of Blog mengatakan...

Artikel panjang tapi memuaskan,hehe...langsung kabur...cape juga mata ini baca.

VON EDISON ALOUISCI mengatakan...

hehehe...

Posting Komentar

Alqur`an terjemah
Admin Von Edison alousci

 
Design by Blogger Themes | Bloggerized by Admin | free samples without surveys